[3rd] Vampire Rascal: Crossky Mission (bagian 1)

main-poster

VAMPIRE RASCAL

Vampire Rascal; Chapter three/Copyright ©2014 Ifaloyshee/All rights reserved

Author: Ifaloyshee | Characters: Wu Yifan (Kris EXO M), Kim Jongin (Kai EXO K), Kim Yuko (OC), Xi Luhan EXO M, Kim Myungsoo (L INFINITE), Krystal Jung f(x), Choi Minho SHINee; Additional Characters: Kim Junmyeon (Suho EXO K), Kim Byulhae (OC), Cho Kyuhyun Super Junior, Oh Sehun EXO K, Kim Jaejoong JYJ etc… | Genre: Fantasy, drama, romance, friendship | DISC: The idea is mine, included the plot and a whole of this story. Some abilities and scenes are inspired from Japan Anime and Fantasy Movies. The Characters belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: PG-17 {Profanities, mature contents}

 

 

 CROSSKY MISSION BAGIAN I

Additional casts in this chapter

 Han Geng/Choi Siwon/Song Jihyo/Wang Fei

Pintu kaca bagian depan gedung utama Crossky terbuka dengan berputar satu kali, memperlihatkan Yuko disana yang berjalan anggun bak business woman dan tidak ketinggalan ketiga rekannya yang menyusul dibelakang Yuko, menggumamkan komentar untuk kemegahan gedung yang baru pernah mereka jajaki ini.

Not bad for my taste.”Krystal melipat kedua tangannya lalu tersenyum miring.

Mereka berjalan beriringan menyusuri lobby kantor lalu berhenti didepan pintu lift. Yuko berada didepan lift pertama, Krystal didepan lift kedua, sedangkan Minho dan Kai berdiri didepan lift ketiga. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain, lalu dengan langkah yang sama keempatnya memasuki lift yang berbeda.

“Sampai jumpa nanti di ruang meeting!” seru Krystal terlampau girang. Ia selalu senang dengan hal – hal baru.

“Aku harap dia tidak menangis karena merindukan Myungsoo.” ejek Kai begitu pintu lift menutup.

Minho terkekeh mendengarnya. “Dia tidak akan menangis selama fuelband masih terpasang dilengannya.” Minho mengamati fuelband ditangan kirinya entah untuk yang keberapa kalinya.

“Myungsoo tidak bisa menggoda wanita kalau begitu.” sahut Kai.

“Sayang sekali.”

“Begitupula dengan Kris.”

“Sayang sekali.”

“What about us, man?” Kai menoleh kearah Minho dengan tatapan jenaka.

Minho mengangkat tangannya untuk melakukan high-five dengan Kai. “Sexy, free, and single.”

Lalu keduanya tenggelam dalam tawa membahana.

 

***

“Jadi kau staffbaru dari divisiPublic Relation?”

Seorang wanita dengan setelan berwarna biru tua terlihat mengemasi dokumen yang baru saja diterimanya dari seorang staff yang berasal dari divisi lain. Wanita itu memandang Krystal dengan kedua mata menelisik, bulu matanya yang lentik terlihat apik ketika wanita itu sedang mengerjapkan matanya. Krystal tersenyum, pintu kaca dibelakangnya baru saja menutup. Ia tidak menyangka kalau sambutannya bakal secepat ini, bahkan Krystal baru saja menjejakkan kakinya didepan ruang kantor.

Yeah. Krystal Jung, nona.” lalu Krystal membungkuk.

Wanita itu tersenyum simpul. “Ini bukan Korea Selatan. Kau tidak perlu membungkuk begitu, Krystal Jung. Nah, sekarang ikuti aku.” perintah si wanita berbulu mata lentik itu.Ia berbalik lalu berjalan mengitari ruang kantornya dan Krystal mengikutinya dari belakang dengan diam. Beberapa staff pria mulai menyadari kehadirannya dan tentu saja tak hanya sekedar memandang saja.

“Krystal Jung, ini mejamu.” Wanita itu menghentikan langkahnya sambil meletakkan setumpuk berkas diatas meja Krystal seolah menjadi hadiah sambutan untuk Krystal. “Sebuah Mac, telefon kabel, dan wireless telepon, semuanya berguna bagi pekerjaanmu. Tapi jangan gunakan untuk hal – hal diluar pekerjaan. Kau mendapatkan semua akses untuk client didalam computer, jadi tidak perlu bertanya kontak kepada siapapun.” Krystal mengangguk patuh. “Salah satu prinsip dari Crossky adalah, independent. Jadi selama kau bisa lakukan semuanya sendiri, lakukan sendiri. Mengerti?”

Krystal mengangguk patuh lagi. Wanita itu ikut mengangguk dengan ekspresi puas.

“Nanti kau akan mendapatkan penjelasan lebih lanjut saat meeting pegawai baru, sekarang kau cukup menata mejamu dan.. mungkin berkenalan dengan yang lain. Aku ada diruang sebelah jika kau membutuhkanku.” ucap wanita itu. Ia menepuk pundak Krystal kemudian berlalu.

“Terimakasih, Miss.” Krystal tersenyum lalu meletakkan tas-nya begitu wanita itu pergi.

Well, aku sungguh berharap tidak satu ruangan dengan staff pria. Tenggorokanku kering.” Krystal merebahkan tubuhnya untuk duduk diatas kursi barunya. Setumpuk berkas dihadapannya membuat Krystal menghela nafas. “Haruskah dihari pertama aku bekerja?” ia menatap satu persatu dokumen berstampel dihadapannya dengan tatapan tidak suka. “Lihat saja, tidak lama lagi aku akan duduk dimeja wanita tadi. Mengurus bagian personalia mungkin lebih menyenangkan.”

***

Yuko berdiri depan sebuah mesin scanning wajah yang menjadi bukti kehadirannya di Crossky. Sinar berwarna hijau bergerak menyusuri wajah Yuko dengan arah horizontal lalu muncul tanda centang dalam layar mesin scanning tersebut bersama kalimat ‘Welcome new staff!

Pintu kaca terbuka secara otomatis, Yuko melangkah kedalam ruangannya yang masih tampak asing. Kehadirannya disambut oleh senyuman para staff yang sedang melakukan pekerjaan mereka masing – masing, Yuko dengan senang hati membalas senyuman mereka. Ia ditempatkan di bagian divisi penelitian. Kris memang pintar sekali memberikan slot pekerjaan yang pas untuknya.

Seorang wanita muncul dari balik pintu besi yang membatasi ruangan ini dengan ruang yang lain, diatas pintu besi tersebut terdapat judul ‘Laboratory Research’ yang cukup menjelaskan kenapa ruangan itu dibedakan dengan batas pintu besi.

Wanita itu berjalan kearah Yuko. “Selamat datang. Kau pasti Yuko Kim.”

Yuko menyambutnya dengan senyuman lalu keduanya berjabat tangan. “Senang bertemu dengan anda.” ucap Yuko dengan begitu manusiawi.Ujung mata Yuko melirik kearah pintu Laboratorium, sebentar lagi ia pasti akan dipekerjakan disana.

 

***

11 PM

 

“L!”

Krystal menjerit senang ketika baru saja turun dari dalam mobil,terlihat sedikit air mata diujung matanya meskipun samar. Ia segera berlari menghampiri Myungsoo yang berdiri didepan pintu dengan senyum simpul terpapar diwajahnya. Krystal tidak berpikir dua kali untuk melompat kedalam pelukan Myungsoo.

Tidak ada yang membuat si Jung satu ini senyaman ini berada didalam pelukan seseorang; ia begitu merindukan Myungsoo sampai rasanya bukan hanya tenggorokannya saja yang kering, hatinya juga. Rasanya ada perasaan membuncah didadanya ketika jatuh kepelukan Myungsoo dan membiarkan segalanya lepas, begitu saja.

Tiga hari sudah Myungsoo berpisah dengan Krystal, dan ketika ia sampai rumah tadi. Rasanya seperti bukan rumah melihat tidak ada Krystal disana. Namun kini kehangatan ‘rumah’ kembali ia rasakan karena gadisnya sudah kembali.

“Hei, aku merindukanmu.” Myungsoo mengecup kecil ujung kepala Krystal.

“Aku juga. Aku juga. Aku juga.” Krystal mengekspresikan euphorianya dengan memeluk Myungsoo semakin kencang.

“Ow!” Myungsoo mengendurkan pelukannya kemudian menyeka helai – helai rambut Krystal yang menutupi wajah porselen gadis itu.dan tanpa pikir panjang mengecup bibir Krystal perlahan, lalu menciumnya, menciumnya, menciumnya, melumat bibirnya, menyesap lipstick strawberrynya.

Get a room.” seru seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu.

Kai melempar kunci mobil lalu melompat keatas sofa segera memposisikan dirinya untuk beristirahat dengan meluruskan kedua kakinya. Ia tidak peduli lagi pada pasangan Krystal-Myungsoo yang selalu bermesraan dimana saja—Kai terlalu lelah. Ia kerja lembur dengan Minho selama tiga hari berturut – turut sampai menginap di kantor. Dan mereka hanya berburu darah di tengah malam.

“Tiga hari menyesakkan seperti neraka.” Minho hadir dihadapan Kai sambil mengetik sesuatu didalam ponsel, kegiatan ini sering dilakukan Minho belakangan dan Kai penasaran apa yang terjadi padanya.

“Kita akan terbiasa.” Kai menghela nafas sambil terus memperhatikan Minho.

“Apakah kau sedang berkencan dengan seseorang?”

Minho menunjukkan seringaiannya. “Tidak juga. Ada wanita cantik di divisi pertahanan, kau tau wanita dengan rambut cokelat bergelombang yang suka memakai rok span itu?”

Kai menggeleng tak peduli.

“Aish.”

Suara derap heels Yuko terdengar, gadis itu baru saja memasuki rumah dengan masih mengenakan pakaian kantor dan menenteng dua cup kopi ditangannya. Ia menjatuhkan kopi yang belum tersentuh itu kedalam tong sampah—Yuko membelinya hanya untuk formalitas ketika di kantor.

“Kenapa kau baru pulang?” tanya Krystal.

“Aku punya sedikit kepentingan tambahan di laboratirium. Ilmuwan sedang memutar otak untuk penemuan suplemen yang bisa bertahan lebih dari tiga hari. Lalu aku memberi mereka sedikit saran.”

“Bukankah kau masih berada di divisi penelitian? Kenapa kau bisa masuk laboraturium?”

Yuko mengedikkan bahunya. “Tidak ada yang boleh masuk kedalam lab kecuali para Scientists. Dan Kepala Divisi tadi memberitahuku bahwa aku akan mendapatkan jas lab besok.”

Krystal melongo tak percaya. Diikuti oleh Myungsoo yang menatap Yuko tak berkedip. Minho menggelengkan kepala pelan sementara Kai hanya menyeringai.

“Kalian tahu apa artinya itu?” Krystal mempertanyakan hal yang sudah diketahui jawabannya. “Yuko naik jabatan hanya dalam waktu tiga hari! Holyshit.”

“Kalian juga bisa melakukannya.” Yuko menanggapi euphoria dengan enteng. Ia melangkah menuju sofa kemudian menurunkan kaki Kai tanpa izin untuk memberi tempat duduk bagi dirinya.

“Jika saja kau mau meminjamkan otakmu pada kami, mungkin kami bisa sepertimu.” ujar Minho sebal.

Yuko tertawa. “Aku hanya berusaha untuk menyelesaikan misi secepat mungkin. Dan kalian harus ingat kalau Kris memberi waktu kurang dari satu minggu untuk kalian. Urusan kedudukan harus sudah beres dalam waktu dekat.”

Semuanya mengangguk kecuali Myungsoo; Myungsoo menjadi satu – satunya yang bukan termasuk Crossky team mission disini.

Yuko menekan tombol merah pada fuelband –nya untuk menampakkan hologram dengan layar tembus pandang yang buram—yang berarti Kris belum menerima sinyalnya. Beberapa detik kemudian layar berubah jernih dengan menampakkan Kris yang berada didalam mobil. Terlihat Luhan yang duduk dikursi kemudi disebelah Kris, focus pada jalan yang ada didepannya. “Hei.”

Yuko tersenyum membalas sapaan Kris, “Hei.”

“Jadi dimana kau sekarang? Apakah semua berjalan dengan baik?”

“Aku dalam perjalanan menuju rumah seorang dokter yang pernah bekerja sama dengan master. Semua berjalan baik sejauh ini. Bagaimana denganmu? Oh ya, beritahu Minho dan Kai untuk menemukan kode rahasia Crossky.”

we’re here, man.” Kai muncul dengan duduk disebelah kiri Yuko sedangkan Minho disebelah kanan. “Nah, kau mendengarku.” Ucap Kris lalu keduanya mengangguk.

“Berapa lama kau ada disana?”

“Aku belum tau, Yuko. Setelah mendapatkan informasi lebih lanjut aku akan pulang. Aku merindukanmu.”

“Aku juga merindukanmu. Jaga dirimu.” Yuko melambaikan tangannya kemudian tersenyum.

Hologram menghilang setelahnya.

Yuko menghela nafas. “Nah, ayo kita tidur.”

“Tidak, Yuko. Aku akan berburu dengan Kai.” Minho mengedipkan satu matanya.

Yuko mengangguk kecil. “Go ahead.”

Kai bangkit dari duduknya, melompati sofa lalu berjalan menuju pintu depan. Minho merangkulkan lengannya pada Kai lalu menyeret teman dekatnya itu. Dan akhirnya Kris sudah mengubah pintu utama—yang semula tampak seperti pintu lift itu—menjadi pintu yang lebih normal. Sanguitus yang lain juga memprotes akan mesin fingerprint yang hanya bisa mendeteksi jari Yuko dan Kris saja.

“Kau pikir ini rumah bulan madu kau dan Yuko, Kris?!” Protes Krystal suatu hari. Yang lain mengangguk setuju.

Sejak saat itu Kris mengganti pintu dengan kayu mahoni berwarna cokelat gelap dengan (tetap) masih ada mesin fingerprint disana. Namun kali ini semua jari Sanguitus bisa terdeteksi disana tak hanya Yuko dan Kris saja.

Ketika Kai baru saja selesai menempelkan ibu jari nya dimesin tersebut dan pintu bergeser terbuka, ia dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita yang saat ini sedang berdiri tepat dibalik pintu. “Hai. Aku baru saja mau mengetuk pintu.”

Minho dan Kai saling bertatapan kemudian berbalik menatap wanita didepan mereka saat ini. Kai mengamati wanita didepannya, rambut hitam sebahu yang bergelombang, badan proporsional, wajah oriental, dan pakaian kasual kemeja serta rok sepanjang lutut. Wanita itu tersenyum canggung ketika Kai dan Minho sama – sama masih menatapnya bingung.

“Boleh…aku masuk..?”

“Ah ya, tentu saja.” Minho memiringkan badannya untuk memberi ruang. Ia juga mendorong Kai yang menghalangi jalan. Sang wanita masuk kedalam dengan keterkejutan melihat desain interior rumah ini. “Kau bisa duduk disana,” ujar Kai. Sang wanita tersenyum lalu menempatkan dirinya di sofa—diseberang Yuko yang kini ikut – ikut bingung dengan siapa gerangan wanita ini.

“Apa dia temanmu?” bisik Kai pada Yuko. Dengan cepat Yuko menggeleng. “Lebih baik kau duduk sekarang.” Bisik Yuko balik. Minho dan Kai menempatkan diri.

“Jadi ada apa kau datang kesini?” Yuko bertanya dalam bahasa kantonis yang lancar, ia juga menujukkan senyum ramahnya.

“Aku Wang Fei, tetangga kalian disini. Maaf aku baru sempat mengunjungimu setelah kalian pindah. Ah, padahal kalian sudah dua minggu disini, kan? Aku baru sempat berkunjung karena belakangan banyak kesibukan.”

Minho dan Kai mengangguk mengerti. Oh, jadi hanya tetangga. Karena selama ini rumah Sanguitus jarang (dan bahkan tidak pernah) kedatangan tamu.

“Senang sekali kau berbaik hati mengunjungi kami.” Yuko tersenyum lebar.

“Ah, itu bukan suatu hal yang perlu dibesar – besarkan. Sebenarnya aku mau memberi kalian ini.” Wanita bernama Fei ini meletakkan pelastik diatas meja yang berisi cupcakes. “Aku dan adik perempuanku baru saja meresmikan toko roti kami. Dan aku memberikan sampel pada orang – orang terdekatku, namun karena masih lebih jadi kuberikan pada kalian.”

“Pada kami?”

“ya.. sebenarnya pada tetangga terdekat dari rumahku. Aku juga memberikan pada pemilik rumah disebelah kiri rumahku,” Fei tersenyum. “Aku harap ini enak.”

“Ah, pasti ini enak sekali. Terimakasih banyak. Mungkin kami cukup kesulitan membaginya karena penghuni rumah ini banyak sekali.” Yuko tertawa.

“Ya. Apakah memang kalian bersaudara atau..?”

“Ya. Kami semua bersaudara.”

“Ah, aku mengerti.”

Fei bangkit dari duduknya sambil merapikan roknya. “Kalau begitu aku pamit dulu. Maaf sudah mengganggu malam – malam.” Kai berdiri lalu mengantar Fei sampai pintu depan.

Begitu Fei sudah pergi, Kai langsung menghela nafas keras. “Haaah! Aku menahan nafas karena bau darahnya enak sekali.”

Minho mengangguk setuju. “Bagaimana kalau kita..”

“Ide bagus!” seru Kai sebelum Minho menyelesaikan kalimatnya. Yuko langsung mendelik pada keduanya dengan kedua tangan terlipat didepan dada. “Tidak! Tidak tetangga kita, douchebags! Kalian berburu ditempat yang cukup jauh dari sini.”

Lalu terdengar erangan sebal dari mulut Kai dan Minho.

 

***

 

Antrian check in sudah terlihat panjang. Dihari sabtu bandara Internasional Macau penuh oleh orang – orang yang hendak menaiki pesawat ataupun menunggu orang yang turun dari pesawat. Myungsoo harus pergi ke Munich untuk kepentingan dengan seorang dokter bedah disana. Berdasarkan data informasi yang Kris, Luhan dan dirinya terima dua hari yang lalu, master pernah bekerja sama dengan beberapa dokter bedah di Hongkong. Namun tak semuanya menetap di Hongkong—beberapa sudah ada yang pindah tugas ke luar negeri dan bahkan sudah tak bekerja lagi. setelah ditelusuri, ketiganya yakin diantara dua dokter ini ada yang positif pernah bekerja dengan master. Kemudian keputusan diambil; Kris dan Luhan mencari yang di Hongkong, sementara Myungsoo yang di Munich.

Krystal memberikan paspor dan boarding pass ke telapak tangan Myungsoo kemudian menatap Myungsoo sedih. Myungsoo tertawa lirih, “jangan menekuk bibirmu begitu, Krys.” Ia menyeka beberapa helai rambut blonde Krystal kebelakang telinga—Ya, Krystal sudah mengganti warna rambutnya menjadi blonde.

“Aku tidak mau berpisah denganmu.” Krystal menunduk sambil memainkan jari – jari Myungsoo yang berada digenggamannya. “Kenapa Kris memisahkan kita, sih! Harusnya dia menggambungkan kita berdua dalam satu team!”

Myungsoo gemas melihat kekasihnya merajuk seperti ini. Khas Krystal sekali.

Myungsoo mendongakkan pelan wajah Krystal dengan tangannya. “maksud dia baik, Krys. Dia ingin kita focus pada misi.” Ia membelai lembut pipi Krystal. “Kita masih bisa berhubungan setiap hari lewat video call. Jadi jangan khawatir, dan jangan sedih, oke?”

dareun yeojadeul chyeoda bojima.”

Myungsoo tertawa. “Ya. Aku tidak akan melihat wanita lain. aku hanya milik seorang Krystal Jung, dan itu tidak akan pernah berubah.”

Krystal tersenyum dengan semburat merah dipipinya, kemudian ia memeluk Myungsoo.

“Aku akan membiarkanmu pergi kalau begitu.”

Myungsoo mencium puncak kepala Krystal sambil membelai lembut rambut Krystal. Ia melepas pelukan mereka berdua, “Nah, bisa aku pergi sekarang?”

Krystal menggeleng.

Myungsoo meraih kedua tangan Krystal, mengusap – usap punggung tangan gadis itu. “Apalagi yang kau mau cantik?”

Dengan sedikit berjinjit Krystal mengecup bibir Myungsoo.

Myungsoo menyeringai, “Baiklah kalau itu yang kau mau.” Ia memegang pinggang Krystal lalu mengangkat tubuh Krystal dengan entengnya. Ketika wajah mereka sudah cukup sejajar, Myungsoo mencium Krystal lama.

Tak jauh dari tempat Krystal dan Myungsoo, dua orang pria duduk diatas kap mobil sambil menatap kearah pasangan Sanguitus itu dengan wajah sebal. Siapa lagi kalau bukan Minho dan Kai. Minho menggelengkan kepalanya, “Aku takut Myungsoo akan ketinggalan pesawat.”

“Aku bahkan sangsi kalau Myungsoo masih mengingat tempat ini adalah bandara.”

“Tidak ada kata ‘bandara’ dalam kamus Myungsoo, yang ada hanya dunianya-bersama-dengan-Krystal.”

Kai menghela napas. “Haruskah kita mengingatkan mereka berdua?”

Minho tertawa. “Kalau sampai sepuluh menit kedepan keduanya belum bisa melepaskan kepergian satu sama lain, kita baru turun tangan.”

“Syukurlah mereka sudah selesai.”

Kai melihat Myungsoo yang sudah check in dengan Krystal melambai – lambaikan tangan dibelakang. “Oh, jadi Myungsoo masih ingat kalau dia mau naik pesawat.Kemudian Kai berbalik untuk masuk kedalam mobil. “Ayo, kawan.”

 

***

 

K A I’s P O V

 

 

Minho langsung memutar kursinya untuk menghadap computer dengan sederet kode pemrograman dihadapannya begitu ketua divisi masuk untuk mengecek para karyawan. Aku bekerja disebelahnya—melakukan hal yang sama dengan Minho. Setelah pria tua berkacamata itu selesai mengecek kemudian keluar dari ruangan, aku langsung mengganti tab pemorgraman dengan game Grand Theft Auto—dan tentu saja Minho melakukan hal yang sama—dan kami berdua menyeringai.

Hari kelima bekerja di Crossky. Tadi pagi Yuko terlihat sibuk sekali dengan jaket lab yang kini menutupi blazer hitamnya itu—Ya, Yuko sudah resmi menjadi ilmuwan di Crossky—benar – benar, that smartass chick.

Sedangkan Krystal beberapa hari murung—kalian pasti tahu alasannya apa—dengan menghabiskan separuh hari di kantor dan sisanya diluar untuk berburu. Ia gampang haus akhir – akhir ini—dengan bukti ia bisa menghabiskan tiga manusia dalam satu hari!

Kami belum mendapatkan kabar kelanjutan dari Kris maupun Luhan. Myungsoo juga masih berada di Jerman. Kami sibuk dengan kegiatan masing – masing namun masih menyempatkan diri mengecek keadaan satu sama lain melalui fuelband.

Aku dan Minho? Masih menjadi karyawan biasa—belum naik pangkat juga, menyedihkan bukan?

Tapi kami terus berusaha menarik perhatian atasan – atasan dengan trik – trik khusus kami, terutama pada atasan – atasan wanita. Menurutku hal ini lebih menyenangkan daripada menghabiskan malam berlembur dengan bekerja mati – matian demi pangkat. Hei sepertinya secara tidak sengaja aku sedang membicarakan Yuko?

“Minho, Kai,”

Secepat kilat jari – jariku dan Minho bergerak me-minimize layar game. Lalu kami berdua menoleh.

Seorang wanita disekitar umur dua puluh lima dengan rambut cokelat digulung dan kacamata minus berlensa tebal berdiri dibelakang kami. “Tuan besar Choi memanggil kalian.” Wanita itu sedikit berbisik. Aku tidak tau apa intensinya berbisik begitu.

“Tuan besar Choi?” Minho melebarkan matanya yang sudah lebar.

“Choi Siwon?” Aku memastikan.

Wanita itu mengangguk. “Datang keruangannya sekarang.” Ia menatapku dan Minho bergantian. “Jangan beritahu ketua divisi mengenai hal ini. Pokoknya jangan beritahu siapapun.”

Minho tertawa. “Apakah ini semacam misi rahasia?”

Sayangnya wanita ini terlalu serius untuk diajak bercanda. Ia hanya menatap Minho datar kemudian berbalik untuk meninggalkan kami berdua. “Jangan bermain game ketika bekerja.” Ujarnya sebelum melangkah keluar ruangan.

Aku menyikut lengan Minho. “Ayo kawan.”

 

***
Ini kali pertamanya aku dan Minho memasuki ruangan ‘emas’ –karyawan kantor menyebutnya begitu—milik anak dari pemilik utama sekaligus founder Crossky Inc. dan semua karyawan, manajer, office boy—atau apapun yang bisa kau sebut—harus patuh padanya. Aku sering mendengar wanita – wanita bergosip tentangnya dengan menambah sedikit porsi khalayan mereka dalam cerita tersebut—mereka berpikir Choi Siwon bisa menjadi suami idaman. Tapi aku yakin masih lebih tampan aku dari Choi Siwon itu.

Choi Siwon muncul dari balik pintu kamar mandi sambil mengenakan jas abu – abu nya. Pria ini berperawakan tinggi dengan badan proporsional—tunggu, ia bisa dikatakan memiliki tubuh atletis. Dari balik kemeja-nya, terlihat otot bisep yang menonjol—aku berani taruhan Choi Siwon bisa pergi ke gym lebih dari tiga kali satu minggu.

“Kim Kai dan Choi Minho.” Siwon berujar dengan nada tenang namun tegas—dia berbicara seperti Kris.

“Kalian pemegang sabuk hitam taekwondo?”

Aku mengernyit bingung namun Minho mengangguk semangat. “Ya. Sebenarnya, itu Kai.”

Siwon melemparkan pandangannya kearahku yang langsung membuatku mengangguk tanpa sadar. Minho yang memalsukan semua identitas Sanguitus dengan background hidup berbeda – beda. Hei mana akutau kalau aku dulu pernah menjadi pemain taekwondo??

“Bagaimana denganmu?” Siwon mengalihkan pandangannya pada Minho.

“Aku pernah bekerja di badan intelejen Korea Selatan untuk misi ke Korea Utara.”

“Mengapa kau berhenti bekerja disana?”

“Itu simple, aku pindah ke Macau. Secara territorial aku sudah tidak memenui syarat lagi.”

Siwon menangguk-anggukan kepalanya. Hei apakah ini semacam tes wawancara penerimaan karyawan?!

“Jadi, aku punya beberapa tugas yang harus kalian selesaikan.”

Tak lama kemudian setelah Siwon mengorek hampir separuh latar belakang hidup kami dari mulai pekerjaan, penghasilan, kasus criminal, dan skill apa saja yang kami punya—dan tentu saja semua itu tidak nyata—akhirnya Siwon mengverifikasi aku dan Minho sebagai dua orang yang menjadi suruhan Siwon atas misi-rahasia-yang-entah-tidak-tau-apa. Aku tidak tau sebelumnya kalau Crossky mempunyai ikatan kerjasama dengan Interpol. Tapi disini Choi Siwon mengatakan kalau aku dan Minho tidak boleh sampai ketahuan oleh Interpol.

Aku yakin ini bukan misi yang bersih.

Siwon membawa kami berdua kesebuah ruangan rahasianya yang berada dibalik bilik rak – rak buku dengan alat pendeteksi retina mata sebagai kode kunci nya. Ruangannya mirip dengan lab penelitian, bedanya semua benda didalam ruangan ini terhubung dengan computer—dan tanpa kabel, namun aku bisa mengetahu kalau sinar laser biru muda yang menghubungkan antar computer itu adalah pengganti kabel.

“Disini adalah tempat data investigasi dan data forensic terkumpul sekaligus ruang penyimpanan barang – barang pentingku. Aku sengaja mengajak kalian untuk masuk kesini dengan tujuan..” Siwon melangkahkan kakinya menuju lemari kaca yang berada di tengah ruangan dengan panjang sekitar dua setengah meter dan tinggi dua meter. Ia mengambil sebuah alat mirip tempat gesek credit card—menyerupai—lalu melemparnya kearahku yang langsung kutangkap dengan sigap.

“Itu adalah alat pendeteksi dan analisis identitas seseorang.”

Aku memindah tangankan alat ini pada Minho. “Dia lebih ahli dalam hal ini.”

Siwon hanya mengangguk lalu kembali membuka lemari kaca dan mengambil dua buah pistol. Memberikannya pada ku dan juga pada Minho.

“Pistol dengan peredam suara. Berhati – hati karena sekali tembak sudah mematikan. Aku menambahkan racun dalam setiap peluru.”

Aku dan Minho mengangguk mengerti.

“Siwon.”

Aku menoleh kebelakang, diikuti dengan Minho dan Siwon. Seorang wanita memakai jas lab dengan rambut hitam sebahu berdiri dibelakang kami. Ia cukup cantik dan terlihat lumayan pucat—kantung mata nya menggantung jelas dan bibirnya tidak begitu kemerahan—ia memandang aku dan Minho bergantian.

“Jihyo.”

“Oke, kawan. Dia Song Jihyo, ahli I.T di Crossky. Dan Jihyo, ini Kai juga Minho, karyawan baru di divisi pertahanan.” Siwon menjelaskan. Aku membungkuk hormat pada wanita bernama Song Jihyo ini. Dia membalasnya dengan senyuman singkat.

“Apakah hanya dia satu – satunya karyawan disini?” tanyaku.

“Ya! Kau tidak lihat orang –orang yang sedang duduk didepan computer itu?” Minho membalas.

“Dia bukan manusia.”

“Ya, benar. Mereka adalah robot.” jawaban Siwon membuat Minho melebarkan matanya.

“Robot?!”

“Didalam ruangan ini harus ada yang mengawasi layar selama dua puluh empat jam. Dan pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Song Jihyo adalah satu – satunya manusia disini, dan ia yang mengendalikan robot- robot itu.”

Jihyo menatapku lama, kedua matanya berair—aku tidak yakin kalau dia berkaca – kaca—dan bibirnya sedikit bergetar. Hei ada apa dengan wanita ini?

Tetapi ketika Siwon menangkap tatapannya, Jihyo menunduk. “Kembali bekerja Jihyo.” Lagi – lagi nada tegas yang menginteruksi, Choi Siwon memiliki aura pemimpin bahkan hanya dengan mendengar suaranya. Jihyo membalikkan tubuhnya lalu berjalan memasuki ruangan yang lain.

“Apakah dia baik – baik saja?”

Siwon terkekeh lalu memegang pundakku—lebih pada mencengkeram—lalu ia mengangguk.

“Dia baik – baik saja.”

 

***

 

Jadi ini misinya, kalian harus menemukan pria bernama Han Geng. Dia salah satu Bandar narkotika yang mendekam di Macau. Belakangan ini Han Geng memberikanku black-mail untuk mengancamku dengan membawa keponakanku sebagai tawanannya. Kalian selamatkan keponakanku, dia gadis berumur sepuluh tahun bernama Liliang. Dan kalian harus membawa Liliang dalam keadaan hidup. Dan aku tekankan sekali lagi, ini misi rahasia.”

 

“Dia tidak ada disini.” Minho muncul dari balik pintu utama kasino lalu menghampiri Kai yang sudah menunggunya di luar sejak sepuluh menit yang lalu. Mereka sudah mengitari Macau untuk mencari disetiap casino yang ada, namun hasilnya nihil….setidaknya sampai casino kelima ini. Kai menghela nafasnya, “Menurutmu ada dimana dia?”

Minho memasukkan kedua tangannya dalam saku, diam – diam sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia mengambil alat pendeteksi identitas dari dalam sakunya, menekan tombol diatas alat itu untuk menyalakannya.

“Han Geng, a drug dealer. 27 years old. His teams…. Huang Zitao, Namekawa Yasuo, and Gaeko.”

“Huang Zitao?”

Minho mengangguk.

“Dia salah satu pemain martial art, aku pernah melihat skill nya ketika adu fisik di balapan liar di Pulau Taipa. Kemungkinan besar ia ada di daerah yang jarang disentuh polisi. Kalau casino masih berada di pusat kota yang terawasi oleh polisi local setempat, mungkin kita harus mencari ke—“

Minho tiba – tiba menunjukkan sebuah snapback dari balik punggungnya, menunjukan pada Kai. “ini topi milik Han Geng.”

“Sial, kawan. Kau seharusnya menunjukan benda itu dari tadi!”

“Aku baru mendapatkannya di dalam tadi.”

“Baiklah, ayo.”

Keduanya memasuki Ferrari milik Minho dengan Kai yang duduk di kursi kemudi, karena Minho akan menunjukan navigasi jalan yang akan mereka tempuh untuk menemukan Han Geng. Minho mengendus snapback hitam milik Han Geng lalu tampak terfokus diam pada pemikirannya.

Ia mengangguk lalu menoleh pada Kai yan sedang memperhatikannya. “Ayo jalan.”

“Dasar anjing pelacak.” Kai tertawa menyebalkan. Ia mulai menjalankan mobil dengan menghalau angin malam Macau yang menerpa, yang dinginnya tidak ada efek apapun pada kedua vampire ini.

“Sial kau.”

“Hei Kai, menurutmu apakah Choi Siwon menyukai cupcakes?”

“Entahlah,” Kai mengedikkan bahunya. Ia menoleh pada Minho dengan kedua dahi mengerut. “Kenapa kau tiba – tiba bertanya begitu?”

“Aku melihat sekotak cupcakes diruang kerjanya tadi pagi ketika kita dipanggil.”

“Ya… mungkin dia memang menyukainya.” Jawab Kai malas – malasan. Mulai tidak selera dengan topic tak penting ini.

“Wang cupcakes. Tidakkah mengingatkanmu pada suatu hal?”

Kai menyipitkan mata tampak berusaha mengingat – ingat sesuatu, sepersekian detik kemudian ia ber’aha’ singkat. “Bukankah… cupcakes yang diberikan tetangga kita kemarin malam? Wang Fei?”

“Kau benar.”

“Kau melihat cupcakes itu dimeja kerja Siwon?”

Minho mengangguk. Tampak yakin seratus persen dengan penglihatannya tadi pagi. “mirip sekali dengan kotak yang Fei berikan sewaktu itu. Kotak berwarna pink dengan ornament bunga – bunga kecil dibagian atas tutup kotak itu. Aku tidak salah lagi, Kai.”

“Siwon tidak mungkin membeli sendiri. Maksudku, toko cupcakes itu baru saja dibuka dan cupcakes yang diberikan Fei masih merupakan sampel. Jadi disini ada dua kemungkinan kalau Fei yang memberikan pada Siwon, atau Siwon mendapatkannya dari orang lain.”

“Fei sewaktu itu mengatakan kalau ia hanya memberikan pada orang – orang terdekatnya, dan tetangganya. Bukankah Siwon tidak memiliki rumah di komplek sekitar rumah kita?”

“Jadi menurutmu Fei punya relasi dekat dengan Siwon?”

“Mungkin.” Minho menghela nafas. “Bagaimana menurutmu?”

“Kalau menurutku, tidak bisa diambil kesimpulan sependek itu. Bisa saja Siwon mendapatkannya dari seseorang….dan seseorang itu adalah tetangga Fei. Banyak kemungkinan. Tapi setidaknya ini membuatku penasaran.”

“Insting vampire tidak pernah salah.”

“Instingmu, kawan.” Kai membenarkan. Karena Minho satu – satunya Sanguitus yang ahli dalam menebak – nebak. Tingkat akurasinya tajam dan tepat. Walaupun terkadang ia hanya bergantung pada instingnya saja tanpa menguak fakta lain yang lebih meyakinkan dari sekedar ‘instingku mengatakan hal ini benar.’

“Aku tidak mau menyimpulkan apapun sebelum ada fakta lain.”

Minho mencibir, lalu menyenderkan kepalanya. “Oke oke.. kita lihat saja nanti, Kai.”

 

Sesampainya, Kai memarkirkan mobil disisi trotoar tepat didepan bangunan berjejer yang lembab karena kabut malam hari. Di sisi kota Macau yang sempit, masih terdapat jalan – jalan yang tak terlalu lebar dengan penerangan minim dan bangunan – bangunan kumuh yang terlihat seperti tak terjamah. 2020 tidak memberi janji bahwa semua warga akan mendapat kesejahteraan, masih banyak urban yang susah payah hidup di kota megah dengan tingkat judi terbesar se-Asia ini. Beberapa distrik menjadi bagian dari daerah kekuasaan para gangster dan penjudi. Karena sector pariwisata meningkat akibat judi maka peraturannya tidak terlalu ketat disini.

“Kau yakin ini tempatnya?”

Kai seseorang yang suka mempertanyakan banyak hal—karena dia kritis. Terkadang hal itu membuatnya sulit untuk mengambil keputusan karena Ia harus mempertimbangkan lama – lama. Tapi kepada Sanguitus, ia bisa percaya dan tidak terlalu banyak bertanya—Minho dan Krystal sebagai manusia impulsive pasti akan memprotes pernyataan ini!—

Minho tidak memperdulikan keraguan Kai, ia melangkah masuk kedalam bangunan yang terhimpit oleh minimarket dan café kecil. Ketika mendorong pintu depan yang ringsek dan tak terkunci, terdapat pagar besi tipis yang menghalangi jalan. Pagar dengan aliran listrik yang sudah pasti dibuat untuk perihal keamanan.

Tanpa ragu Kai memegang pagar itu, lalu melompat. Disusul oleh Minho melakukan hal yang serupa. Tidak ada yang lecet sedikitpun karena terkena sengatan listrik. All is well.

Keduanya terhenti sesaat untuk mengamati bagian dalam bangunan yang sempit. Hanya ada meja disisi tembok dengan vas bunga yang airnya kosong, bunganya layu, dan dinding berwarna kelabu yang kotor.

Pip! Pip!

Bunyi yang berasal dari alat pendeteksi identitas yang berada di saku celana Minho. Ia segera mengambilnya, melihat kedalam layar yang mengindikasikan kehadiran tersangka dalam radius kurang dari seratus meter. Minho mematikan bunyinya lalu menatap tangga dihadapannya. “Ayo Kai.”

Keduanya menaiki tangga dengan berisik, tanpa memperdulikan bahwa kehadiran mereka bisa mengganggu sang pemilik rumah. Ketika sudah sampai diujung tangga, terlihat ruangan lebar berlantai kayu dengan papan biliar ditengah ruangan.

“Ah aku dapat!” seseorang berseru setelah berhasil memasukkan bola.

Terdapat sekiranya lima orang disana, Minho dan Kai bisa mengenali Han Geng secara jelas karena foto pria itu sudah mereka lihat di alat pendeteksi identitas. Pria Chinese dengan rahang tegas dan mata menyipit tajam yang hanya mengenakan kaus dalam—memperlihatkan tubuh kekarnya—dan kalung emas yang menggantung dilehernya. Kai bisa mengenali Zitao—ia masih ingat dengan wajah Zitao—yang sedang duduk diatas kursi dengan memegang setumpuk kartu. Entah yang mana diantara ketiga sisanya yang bernama Gaeko.

Well… lihat siapa yang datang. Kita mendapatkan dua orang tamu disini, kawan – kawan.” Han Geng melipat kedua tangannya dengan seringaian yang tertuju pada Kai dan Minho.

Kai mengangkat tangan kanannya berusaha sok akrab. “Bro.”

Zitao dengan wajah emo itu tertawa remeh.

Satu pria yang berdiri disisi kiri meja biliar mengedikkan kepalanya pada Kai lalu menoleh pada Han Geng. “Apakah kau tau apa aturannya sebelum menemuiku?” Han Geng meregangkan otot – otot tangannya sambil memandang Kai dan Minho secara bergantian.

Minho membuka ransel yang ia bawa dipunggungnya lalu mengambil dua tumpuk dollar. Ia mengangkat uang yang tadi siang diberikan oleh Siwon—siwon mengatakan kalau uang itu adalah jumlah yang diminta Han Geng atas terror pada Siwon—dengan seringaian nakal, Minho membuka ikatan yang membungkus dollar tersebut lalu melemparnya ke udara.

Lembaran dollar terbang bebas dihadapan Kai dan Minho.

Zitao bangkit dari duduknya secara spontanitas.

Han Geng menggumamkan kata – kata kasar dalam bahasa kantonis lalu memukul meja biliar dengan tangannya yang mengepal kuat. “Keparat kau!”

Kai memiringkan kepalanya lalu tertawa. Ia menggeleng pelan, “Ck ck ck, sayang sekali,” ia menginjak lembaran dollar yang berserakan di lantai. “Wow aku menginjaknya. Kau suka itu?” tanyanya sarkas.

“Kami masih punya banyak disini.” Minho dengan bangga menepuk – nepuk ranselnya. “Kau mau?”

“Datang dan cium kakiku. Akan kuberikan kau semuanya.” Kai menyodorkan satu kakinya dengan gerakan menyebalkan. “Aku memakai seri Adidas terbaru. Kau tidak akan menyesal menciumnya.” lalu Kai dan Minho tertawa bersamaan.

Zitao sudah lebih dulu melompat melewati meja biliar dengan kakinya yang jenjang, ia sudah mengepalkan tangannya dan melayangkan pukulan ke wajah Minho namun Minho berkelak dengan memiringkan kepalanya, menunduk lalu menendang perut Zitao dengan lututnya.

Kai hampir saja terdistraksi, namun ia bisa menangkap lengan seorang pria yang hendak memukulnya. Dengan tanpa beban Kai memelintir lengan pria itu, lalu menjatuhkannya ke lantai dengan debaman bunyi keras.

Sebelum pria itu bisa bangkit untuk menyerang lagi, Kai sudah menahan lehernya agar tetap terlentang dilantai. Kai menekan nadi dileher pria itu dengan ibu jarinya, menekannya keras sehingga pria itu menjerit keras. Ia menoleh pada Han Geng yang masih terdiam ditempat semula dengan mulut menganga.

“Hentikan! Siapapun kau, hentikan.”

Han Geng tak mampu berucap melihat Gaeko yang berada dicengkeraman Kai, dan dua anak buahnya yang lain berada di masing – masing kedua tangan Minho. Han Geng menghela nafas keras. “Siapa kalian?!”

“Kai dan Choi Minho.” ucap Kai yang tidak memperdulikan rintihan kesakitan pria dibawahnya. “Aku harap kau tidak main – main dengan kami. Membunuh bukanlah hal yang tabu bagi kami.”

“Apakah kau anak buah Siwon?”

Minho menggeleng. “Enak saja! Kami yang akan menjadikan Siwon sebagai anak buah ka—“

“Aku dan Minho adalah karyawan di perusaahan Siwon.” potong Kai sebelum Minho mengucapkan hal yang tidak – tidak.

“Kalian hanya remaja yang tidak tau apa – apa. Kalian bahkan tidak tau siapa penjahat yang sesungguhnya disini.”

Minho tidak mau macam – macam lagi karena hasrat untuk melakukan perlawanan terhadap Han geng sudah begitu besar, ia ingin memukulnya, menendang, mengancam Han Geng untuk memberitahu dimana Liliang berada sehingga misi selesai lalu mereka bisa menempatkan diri di posisi hirarki yang lebih tinggi. Kai diam – diam sangsi dengan pernyataan Han Geng, ia memikirkannya tapi—Well, masa bodoh. “Jangan memprovokasi kami. Beritahu saja dimana Liliang berada.”

“Hah. Anak haram itu.” Han Geng tertawa lalu membuang muka. Kai dan Minho saling bertatapan karena Siwon tidak pernah menyebut perihal apapun soal anak haram. Minho mengedikkan dagunya, “Apa?”

“Aku rasa memberitahu kalian sekarang tidak akan menarik. Biarkan rasa penasaran membuat kalian tidak membunuhku. Karena jika aku mati, rahasia tak terungkap.” Senyum licik terpampang diwajah Han Geng.

Han Geng mengambil ponselnya dari balik saku lalu menekan speed dial sebelum mengangkat ponselnya dan menempatkan didepan mulutnya.

“Yasuo, bunuh anak itu sekarang.”

“SHIT!” amarah Minho naik ke ubun – ubun, membuatnya langsung melompat melewati meja biliar untuk melemparkan pukulan kearah Han Geng namun ia berkelak dan mendorong kaca jendela dengan sikunya lalu melompat kebawah setelah jendela menjeblak terbuka. Kai berlari dibelakang Minho lalu ikut melompar bersamaan dengan Minho.

Pendaratan sempurna diatas mobil sedan hitam membuat Han Geng tak merasakan sakit sama sekali di kakinya, ia melompat lalu berlari menuju mobilnya dengan Kai dan Minho yang mengejar dibelakang.

Suara decitan ban yang berputar cepat terdengar. Chevrolet putih milik Han Geng membelok tajam dan melaju dengan kecepatan tinggi. Minho memasuki mobilnya dengan Kai duduk dikursi penumpang lalu keduanya mengikuti Han Geng.

“sial!” minho memukul keras setir dihadapannya. “Apa menurutmu pria bernama Yasuo itu benar – benar menuruti perkataan Han Geng?” ia membanting setir kekanan ketika mobil Han Geng membelok secara tiba – tiba dipersimpangan. Suara klakson bertubi – tubi menyerangnya namun Minho tak peduli.

“aku tidak yakin. Kita butuh sampai disana secepatnya sebelum Liliang terbunuh.”

Minho mengangguk menyetujui. Umpatan – umpatan kasar masih menyertainya selagi ia mengontrol setir. Choi Minho secara tidak langsung menunjukan bakat menyetirnya yang luar biasa, ia bisa mengobrol marah – marah dengan Kai namun tak meninggalkan sedikitpun focus pada jalanan dihadapannya.

“Kalau begitu kita tidak seharusnya mengikuti mobil Han Geng!”

“Apa?” minho menoleh pada Kai dengan bingung.

“sial. Ini jebakan! Han geng tau bahwa kita pasti akan mengkutinya dan dia akan membawa kita entah kemana. Yang kita butuhkan saat ini adalah lokasi Namekawa Yasuo!”

“Brengsek. Kau benar.”

“Aku akan menyadap ponsel Han Geng.” Kai membuka laci dasbor mobil, memperlihatkan mesin dengan layar touch disana. Ia memasukan kata sandi lalu membuat sensor tak terlihat ke mobil Chevrolet putih Han Geng.

100 meters ahead. IP 220.742.737……………..Processing………….snap!

Access accepted. Namekawa Yasuo’s number from Han Geng’s phone successfully transferred………

“Ya berhasil.”

 

 

***

 

Ternyata pernyataan Kai perihal jebakan Han geng itu benar adanya dan untunglah Minho menurut sehingga mereka memutuskan untuk melacak keberadaan Namekawa Yasuo ketimbang mengikuti Han Geng yang menyetir entah kemana. Bau darah tercium jelas begitu keduanya sampai diujung gang disebuah hutan yang tak terlalu luas dengan sebuah gubug yang tersembunyi dibalik pohon – pohon pinus.

Minho menekan rem kemudian melompat turun dari mobil disusul oleh Kai.

“shit, ini menyengat sekali.” Ujarnya memberi maksud terhadap bau darah yang tercium dari dalam gubug. Minho mengambil kantung darah dari jok belakang mobilnya lalu menghabiskan satu kantong dalam satu tegukan, mengambil satu kantong yang lain lalu menghabiskannya lagi sementara Kai mengawasi bagian luar gubug siapa tau ia menemukan Namekawa Yasuo disana.

“Sepertinya orang itu sudah pergi.” Kai menghampiri Minho yang sedang mengelap darah diujung bibir. “Hei kau harus minumn darah terlebih dahulu. Seharian ini kita tidak berburu.” Kai mengangguk lalu melongok ke jok belakang, mengobrak – abrik tumpukan dus baju dan sepatu—milik Krystal dan Yuko—namun tak menemukan satupun kantung darah. “Aish! Punyaku tertinggal dirumah. Apa kau masih punya lagi?”

“Apa? Tertinggal? Aku tidak punya lagi, kawan. Ayolah jangan bercanda.”

“Aku serius. Tidak satu kantongpun aku bawa.”

Minho mendekat. Ikut melongok ke jok belakang mencari –cari disana. “Astaga dasar bodoh kau Kim Kai!”

“Oke. Kau bisa berburu selepas menyelamatkan Liliang.”

Minho acuh, ia berjalan mendahului Kai menuju gubug lalu menendang pintu hingga menjeblak terbuka. Terdapat tumpukan jerami dan daun – daun kering yang tumpah ruah keluar ketika pintu terbuka.

Kai mengepalkan tangannya, mencoba menghalau aroma manis dan gurih yang masuk ke hidungnya.. menusuk tulangnya membuat Kai hampir gila. Gigi Kai menggertak tak kuasa, “Tidak. Aku harus bersabar.”

“Tolong aku!!”

Kai berlari begitu mendengar jeritan seorang gadis, ia menyusul Minho ke dalam gubug namun berhenti diambang pintu. Minho sedang berjongkok sambil melepaskan ikatan tali yang menyimpul dikedua lengan gadis bernama Liliang itu. “dia masih hidup, Kai!”

Kai mengangguk, sekarang ia merasakan kepalanya pusing.

Ia memperhatikan Minho dan iri dengan bagaimana temannya itu bisa tahan terhadap darah. Minho temasuk Sanguitus yang paling pintar mengkontrol hormone hausnya selain Luhan, Kris dan Yuko—Kai, Krystal dan Myungsoo merupakan Sanguitus haus darah.

Gadis bernama Liliang itu tampak berantakan dengan rambut hitam panjang yang acak –acakan, muka yang lebam dan beradarah diatas mata kirinya karena luka sobek. Hidunya juga mengeluarkan darah, namun sudah beku—Minho mengasumsi bahwa gadis ini terluka sejak kemarin. Bibirnya pucat pasi dan matanya sembap oleh air mata. Ada luka menjalar dilengan kirinya sehingga darah melapisi kulit putih pucatnya dengan dominan karena luka itu. Minho berkali – kali menahan nafas.

“Aku akan menyelamatkanmu. Ayo.” Minho mengulurkan kedua tangannya, gadis berumur sepuluh tahun itu meraih pundak Minho sebelum Minho menggendongnya. Ia menoleh kebelakang, “Kai? Kau baik – baik saja?”

“Jauhkan dia dariku.”

Minho melebarkan matanya begitu melihat cahaya keemasan dibola mata Kai. “tidak…kau…tau..gadis ini bukan mangsamu..”

“JAUHKAN DIA DARIKU!”

Liliang merintih kecil, tapi tak bisa menahan rasa penasaran untuk bertanya, “Apa maksud kalian?” namun sebelum pertanyaannya terjawab ia memuntahkan segumpal darah. “Ah.”

Sedetik setelahnya Kai sudah mengunci tubuh Liliang diatas meja kayu. Ia mendesis dengan tangan mencengkeram bahu Liliang kuat – kuat hingga kaki meja kayu itu berbunyi.

“Tidak! Keparat! Kau mau membunuh anak yang kita selamatkan!” Minho menarik leher Kai dari belakang dengan kuat lalu menjebloskan Kai ke dinding. Menatap awas kedua bola mata Kai yang kini berwarna kuning keemasan. “Sadar kau keparat! Sadar!” ia menghempaskan tubuh Kai sebanyak tiga kali. Liliang sudah menekan punggungnya kuat – kuat ke dinding menahan rasa takut.

“LARI KELUAR! SEKARANG! MASUK KE DALAM MOBIL!” perintah Minho pada Liliang. Gadis itu berdiri susah payah kemudian mencoba lari secepat mungkin meninggalkan gubug.

Kai mengerang buas. Dengan sekali sentakan ia mendorong tubuh Minho lalu berlari keluar, namun tangan Minho kembali mencengkeram lehernya dan membanting tubuh Kai ke lantai dengan posisi tengkurap, Minho menarik kedua tangan Kai kebalik punggung dan menggenggamnya kuat – kuat. Satu tangan Minho yang bebas mengambil ponsel lalu menekan speed dial.

Yuko! Datang kemari cepat!”

 

 

 

 

***

 

 

TBC

Author’s Note ©
haaaaai! Akhirnya kembali dengan Vampire Rascal! Aku memutuskan buat ngelanjutin ini karena ide cerita numpuk dan semoga bisa sampai ending ya ff nya. Scene terakhir aku bikin pas lagi masuk angin :”( jadi ayo kasih komen biar ifa cepat sembuh!
.

 

 

 

 

 

Advertisements

39 thoughts on “[3rd] Vampire Rascal: Crossky Mission (bagian 1)”

  1. huaaaaaaaaa suweran ini kerennnnn bgt! sukaaaa, kaiii aduduh keren sumpah sama minho lagi, duo dark tapi super cool!! apalagi actionnyaa hiyaay cool bgt ini kak, kai labil ya, krystal sama myungsoo sweet bgt, daebakk!! applause for youu! ditunggu kelanjutannyaa, jgn lama lama dong kak, keep writing!!^^

    1. Waaah makasih. Kai sama minho cool ya? hiks tapi aku lebih suka myungstal disini *pelukin jung sama minho satu – satu*
      Pagi2 komennya bikin semangat yah. Semoga aku bisa ngetik lancar ya buat chapte 4 nya, angelaadeaa!

  2. Wow ini tuh ffnya komplit , ada actionnya , romance , bit comedy , ky 4sehat 5sempurna aja . Hahahaha . Dtunggu next chapnya

  3. OH MY GOD.?? AKU GAK NGIMPI KAN CERITA INI DIPUBLISHH??? UYEAHHHH *lempar menyan..
    ifa i miss this story so much… aigoo! kangen kris sebenernya sih? hahaha enggak deng..
    aku menanti the second of telepathy juga lohh.. wkwkwkwk
    gak tau deh mau ngmong apa?? awesome bnget lahh.. udah itu aja deh.. hehehe

    1. KAMU BERMIMPI, AYO BANGUN SAHUR DULU UDAH MAU IMSAK.

      tetot.
      Hai Lita! Kemana ajaa aku ga liat komen kamu semenjak fanfic telepathy selesai 😦
      Aku juga kangen kris. disini ngga ada, aku belum sanggup nulis fanfic kris *yaela lebay tapi emang gitu huhuhu
      Makasih ya :3

  4. author…. leh nanya g?? np klo post vampire rascal jangka wktnya lama?? daku smpe melupakan part sblmnya….
    kai sm minho bner2 jd agen rahasia dehh… klo aq jd liliang liat yg nyelamatin mrk b2 pasti melongo abis… g mw dipulangin ikut mrk aja… hehe 😀
    next part jgn lama2 yahh… keburu amnesia ntr…. semangat!!!

    1. Panggil ifa aja ya 😀
      Knp postingnya lama soalnya waktu buat nulis kepotong buat inten, les, belajar dll sejak awal taun buat UN. terus abis UN aku masih belajar buat tes PTN :’) Jadi aku lanjutin yg ringan2 dulu kaya desirable nah kalo VR berat juga si mayan.
      Btw aku yakin readers pada amnesia sama cerita ini :”(

      makasih ya sudah komen!

  5. Anak haramnya siapa tuh? gak percaya klo liliang keponakannya siwon doang . Apa jangan2 liliang anaknya siwon(ngawur jadinya). Hueee ffnya keren. My sweety kai haha,jangan apa2in lilang kasian hahah. Minho kuuuhh(?) jangan ngehentakin kai keras2 yah :* thor moment yuko sama krisnya kagak ada masa di part ini, paling moment mereka cuma lewat hologram huhuhu. Thor part sebelumya aku komen di ffindo hehe
    Authornim tetep semangat buat ngelanjutin ff mu(y)

    1. hai winda!
      anak haramnya mas bram sama mbak hana. (mulai deh mulai)
      Hehehe jadi sebenernya kamu milih kai apa minho disini? :’) Yah kris lagi sibuk ngurusin lagu solo barunya eeeeeeeits ngga deng. ya nanti dia muncul kok di chapter depan.
      Makasih ya sempet komen tengah malem hehe 🙂

  6. huaaa sekian lama menunggu sampe lumutan ini ff akhirnya nongol jugaa hehehe kok menurutku alurnya agak cepet yaa atau ini perasaan aku aja. jangan2 liliag anaknya siwon :0 yaaaah tbcnya nanggung bgt nih padahal lagi seru 😦 momment kaiyuko dibuat dong biar lebih greget hahaha okedeh thor jangan lama2 ya untuk chat selanjutnya

    1. Halo april! Wah alurnya agak cepet ya? at first aku juga mikir gitu sampai konsul ke temenku tapi mau aku betulin, wordsnya udah kebanyakan. Aku coba perbaiki di next chapter deh. makasih ya udah baca vampire rascal 🙂

      1. hai thor kapan nih vampire rascal bagian 2nya dipost? aku selalu nunggu ff seru ini 😦 tetap dilanjuin ya thor. semangat ya thor dikesibukannya \m/ semoga sukses

  7. Wahwah.. Wwuaaaa..

    Akhirnya posting juga
    ini ceritaaa ~ 😀 😀
    keren banget ga berubah
    tetep makin keren
    ceritanya :O

    Di tunggu next part nya
    ya semangat semangat
    seumuanguaaaaat
    nulisnya 😀

    ohya nunu imnida, 96L,
    salam kenal !!! :’)

  8. akhirnya update jg 🙂

    moment KrisYuko nya dibanyakin lagi dong!!
    Kesian Kai Minho kaya pasangan Ekhem az, kemana2 berdua!!

    Tp,, knp Minho malah manggil Yuko pas Kai Sakau kek begitu??

    ok, dah
    Update soon ya Cuyung 😀

    Makasih 🙂 and Keep writing

  9. huaaa penasaran sama bagian selanjutnya..
    adegan kai sama minho-ny keren banget. :3
    tapi kris cuma mncul sgitu doang — gapapa dah..

    btw. i’m new readers. 🙂
    nemu wp ini di blog yang rekomendasiin fanfic. this fanfic not make me dispoint 😀 really awesome!
    salam kenal. and keep writing!!

  10. hai ifaa.. salam kenal aku reader baru disini. Biasanya comment di ff indo hehehe
    akhirnya dilanjut juga setelah lama ditunggu tunggu :’)
    kereen bgt ifaa, cara kamu nyampein suasana dan ide cerita nya anti mainstream bangeet. Ditunggu kelanjutannya. Keep writing dan jangan lama-lama please!! soalnya penasaran sama kai-yuko-kris hehe

  11. Cepat sembuh eonnie ^^
    aku suka sama couple kai-minho. Mereka konyol, wkwkwk
    dasar kai-maniac game- ngajak2 minho pula 😀
    eonnie suka banget bikin penasaran. Tbc nanggung ieuh -.-
    next chapt jangan lama yaaaaa. Ditunggu 😉
    oya eon, aku lebih setuju kai-yuko dripada kris-yuko :*

  12. wow aku ketinggalan pemirsaaa sumpah ini debbak bangettt, setiap alur, penggambaran tokoh, ah pokoknya daebbak smuaa
    Yuko? apa Yuko akan datang?
    Kai gak akan menggigit leher Yuko trus minum darahnya kan?
    aa pensarann nextnya cepet2 chinguuuuuu

  13. part myungstal dikurangin gara2 bln puasa ya? :p
    tp kai-minhonya kece lho actionnya. kai nyebelin bgt gayanya yg nginjek2 duit 😐

    kangen ih sama VR :3

  14. Habis baca desirable tertarik baca ini, bagusss ><
    Suka juga ada yadongyadongnya *dasar wkwkwk soalnya kalo gak ada flat aja ffnya wkwkwk hwaitinghh

    1. Haha tapi aku bikin fanfic ini bukan tujuan ada yadong jadi bakal flat sepanjang chapters. Aku saranin kalo kamu penggila yadong mending baca di koreannc atau dmn jangan baca di blog ku. Thanks

Leave a Reply :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s