Category Archives: [Chaptered] Roses Along the War

[RATW-After Story] Jealous gives trouble!

Jealous gives trouble.

Credit poster goes to me

***

 PG 17!

Jealous gives trouble.

***

 

Tipsy  Crow. Salah satu nightclub terkenal dan terbagus di san Diego. Penuh dengan orang-orang dengan berbagai ras yang mengantongi banyak dollar serta membawa gadis-gadis dengan pakaian minim.  Tentu saja dilengkapi dengan iringan musik-musik bising yang sejujurnya jika didengarkan seksama akan membuat telingamu bermasalah. Continue reading [RATW-After Story] Jealous gives trouble!

Roses Along The War [3/?]

part ini SPECIALSHIN yang buat ^^

part-part terakhir mau saya protect jadi kalo mau minta pw syaratnya harus selalu komen di ff ini sama part2 sebelumnya ^^

**

Hara tersenyum melecehkan memandang Revolver Sungmin yang lengkap dengan peredam tersebut mengarah tepat ke keningnya. “Kau tidak akan membunuhku, Lee Sungmin. Kau bilang kau sayang padaku,” ucap Hara santai.

“Sebagai sahabat, ya.” Ucap Sungmin tegas seakan tidak ada yang bisa mengganggu gugat pernyataannya. “Tch…” Hara mendecak sinis. Donghae mendesis memperingatkannya tetapi Hara mengabaikannya.

“Setidaknya title ‘sahabat’ cukup untuk membuatmu tidak membunuhku,” ucap Hara ringan, tidak mengalihkan pandangan meremehkan tetapi waspadanya pada Sungmin. “Kalau kau menyentuh Yoonji, aku akan melakukannya,” ucapnya menarik pelatuk pistol dengan ujung ibu jarinya, menandakan dia serius.

Hara masih meremehkan rupanya. “Atau cepat cepat saja kubunuh dia, siapa tahu kau langsung sadar kalau hidup tanpa dia juga tidak apa apa,” ucapnya mengabaikan peringatan kedua Donghae yang sudah mengenali tatapan berbahaya Sungmin.

“CHO HARA DIAM!” teriak Sungmin diiringi tembakan yang dilepaskannya, sedikit miring ke kiri sehingga berdesing melewati telinga Hara beberapa senti, dan mendarat mulus menembus tembok di belakangnya. Hara terlihat shock sementara Donghae hanya mengangkat kedua bahunya. “Sudah kubilang, kau tidak menurut,” ucapnya ringan.

Hara terlihat emosi. Tidak disangkanya Lee Sungmin berani melakukan itu demi seorang Yoonji. “Tch,” decaknya lagi dan mengeluarkan silver string elastic dari kotak kecil di pinggangnya, dan dengan gesit melemparkan tali itu ke bawah lewat jendela. “Lebih cepat kutemukan jalang itu lebih baik,” katanya sambil melompat turun dan menghilang dari pandangan.

Sungmin terpaku sementara mencoba mencerna apa yang akan dilakukan gadis licik itu pada kekasihnya dan meraih ponsel dengan cepat. “Yoonji, kau dimana!?” katanya terburu buru.

Yoonji terdengar gemetar di ujung sana. “Ani.. aku tidak tahu.. maksudku, tadi ada gadis aneh mengacungkan pistolnya kearahku dan… Donghae menyuruhku kabur lalu… lalu…” Yoonji terdengar tidak berkonsentrasi sama sekali membuat Sungmin semakin ketakutan.

“Oke, di balik baterai ponselmu kutempelkan persegi empat metal kecil. Tekan tombol merahnya,” perintah Sungmin cepat. “Mwo?” Yoonji masih terdengar tidak mengerti.

“Aku sebenarnya menempelkan penyadap di belakang baterai ponselmu agar aku tahu keberadaanmu, cepat tekan tombol merahnya!” perintah Sungmin tidak sabar. “Arasseo. Cepat datang Sungmin-ah jebal,” mohon Yoonji membuat Sungmin takut kehilangan dia.

Sungmin tidak menjawab perkataan Yoonji, mengantungi ponselnya dan mengisi Revolvernya dengan beberapa peluru. “Donghae, kau hentikan.Hara.Sekarang.” perintahnya tegas sementara Donghae menatapnya kosong. “Dengan cara apa?”

Sungmin menepuk jidatnya merutuki fakta bahwa seharian ini orang orang tidak berpikir secepat yang ia inginkan. “Demi Tuhan Donghae, dengan cara apa saja bahkan kau menyetirpun terserah. Hentikan dia sekarang!” perintahnya lalu langsung berlari keluar, mengejar Yoonji.

Sungmin memasuki lift dan cepat cepat menekan tombol B, yang langsung mengarahkan dia pada Basement di lantai bawah dimana McLaren abu abunya terparkir. Sebenarnya ini mobil favoritnya tetapi berhubung ini situasi genting, ia membutuhkan kecepatan ekstra.

Distarternya mobil dengan knalpot asli import dari Jerman tresebut dan ditekannya pedal gas dalam dalam, menerobos area parkiran apartemennya dan menyalakan GPS yang sudah dia hubungkan dengan pelacak metal milik Yoonji.

Dilihatnya titik merah berkedip itu di sebuah map yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ia menekan tombol Zoom untuk melihat spesifikasi dari bangunan bangunan di sekeliling dari gadis itu. Dan disaat saat seperti ini Sungmin masih sempat mendengus menahan tawa mendapati bangunan yang letaknya hanya beberapa meter dari Yoonji.

Violetta Bakery.

Dasar Shin Yoonji, sadar atau tidak sadar tidak jauh jauh dari Macaroons.

Sungmin menekan pedal gasnya lebih dalam lagi. Lebih cepat ia bertemu Yoonji, lebih baik. Ia takut Cho Hara selangkah lebih jauh didepannya. Ia hanya berharap gadis itu tidak menempatkan penyadap juga pada Yoonji. Kalau itu terjadi habislah dia sekarang.

Bunyi decitan yang memekakkan terdengar jelas ketika Sungmin mengerem mobilnya di depan sebuah gang kecil dan ia berlari turun, membawa GPS di tangannya. Seharusnya sekarang mereka sudah dekat.

“Sungmin!”

Pria itu membeku mendengar panggilan yang berasal dari arah belakangnya. Ia menoleh dan terdiam melihat gadis itu. Gadis yang ia cari cari semenjak tadi, membuat dunianya kalang kabut beberapa jam terakhir. Ia berjalan beberapa langkah dan mempercepat langkahnya lalu berlari, dan menarik gadis itu dalam dekapannya.

Nafasnya naik turun melepas ketakutan yang sedari tadi bersarang di dadanya. Setakut takutnya Yoonji pada Hara, ia lebih takut kehilangan gadis itu.

“Kau datang akhirnya. Kau tidak tahu aku hanya menghitung waktu dan mencoba menebak nebak apakah aku akan mati sekarang atau tidak,” kata Yoonji menenggelamkan dirinya pada dekapan Sungmin yang kian erat. Tetapi Yoonji tidak sesak sama sekali. malah ia ingin pria itu mendekapnya lebih dan lebih erat lagi sampai rasanya mustahil untuk memisahkan mereka.

Hembusan nafas Sungmin terdengar mulai teratur, dan ia memasang wajah tenang sebelum melepas pelukan gadis itu. “Jadi… kau mengira akan mati sekarang? Kau lupa kekasihmu itu siapa?” pamernya bercanda untuk meringankan ketakutan di wajah Yoonji.

Berhasil. Wajah pucatnya mulai berwarna lagi. “Aku lupa, aku kenal visualisasi Hatori,” katanya lucu membuat Sungmin memutar matanya kesal. “Ya! Jangan hubung hubungkan aku dengan Hatori lagi. itu konyol,” protesnya.

“Er… kalau begitu kau mau jadi Inuyasha saja? Dia juga pandai bermain pedang, tetapi kau terlihat keren dengan M5 atau Revolver itu,” kata Yoonji menahan tawanya. “Terserahmu asal bukan Hatori,” ucapnya menunjukkan bahwa ia sudah bosan disama samakan dengan ninja cilik berjubah biru tersebut.

Yoonji hanya tertawa renyah. “Hatori itu lucuuu Lee Sungmin. Seperti Aegyomu itu,” katanya memeluk lagi Sungmin yang tidak kuasa menolak. “Kalau begitu kau akan jadi Nodame,” kata Sungmin menimpali dengan tidak nyambung. “Kenapa Nodame? Tidak ada hubungannya,”

“Karena Nodame cantik saat bermain piano. Sepertimu,” pujinya membuat pipi Yoonji memerah dan Sungmin menciumnya. Yoonji mengernyit. “Kau selalu bilang skill pianoku abstrak,” protesnya karena Sungmin baru memujinya hari ini.

Sungmin memasang wajah berpikir. “Well… kali ini aku harus jujur,”

“Kau.. saat nyawaku diujung tanduk baru kau mau jujur,” ucap Yoonji membuat Sungmin menyadari situasinya bahwa sekarang ia harus melarikan Yoonji kemanapun asal gadis itu aman. Continue reading Roses Along The War [3/?]

roses along the war [2/?]

 

part 2 aku yang bikin. entar part 3 tika, part 4 aku dst..

lets enjoy! ^^

“Cho… Hara?”

***

Gadis dengan rambut digelung keatas, pakaian serba hitam dan lengkap dengan kacamata hitamnya itu berjalan mendekat kearah Sungmin dan Donghae, ia menarik kacamata hitamnya terlepas dari wajahnya kemudian melepas ikatan rambutnya sehingga gelungan rambutnya tergerai memperlihatkan rambutnya yang setengah kecoklatan itu tergerai bebas.

Tangan gadis bernama Cho Hara itu tergerak menyentuh bahu Sungmin lalu menggerakannya seolah-olah sedang membersihkan bahu Sungmin, lalu dia tersenyum dibalas oleh tawa kecil dari Sungmin.

“dingin…” Hara menengadahkan kepalanya lalu menatap Sungmin lagi, kali ini tangannya terlepas dari bahu Sungmin dan beralih menggosokkan kedua teapak tangannya sendiri. Donghae dengan cepat menarik tangan Hara, membuat Hara menoleh bingung “apa?”

Donghae menariknya untuk berpindah berdiri dihadapannya lalu melepas  jaket hitamnya dan memakaikannya pada bahu Hara. “begini lebih baik.”

“kamsa…” ucap Hara singkat kemudian menoleh ke arah Sungmin lagi. Kali ini Sungmin yang mengernyit bingung, Hara memang suka memandanginya, mengganggunya, apalagi jika Sungmin sedang menghabiskan waktunya dengan Yoonji, Hara malah semakin  gencar untuk terus mengganggu Sungmin.

“aku sangat menyukaimu.” Ucap Hara enteng sambil terus tersenyum pada Sungmin.

Sungmin dan Donghae yang mendengarnya hanya menghela nafas keras, tapi dalam maksud yang berbeda. Hara memang sudah biasa mengucapkan kata-kata manis pada Sungmin, sampai Sungmin selalu mual jika Hara mengatakannya karena… ya, Sungmin hanya menganggapnya sahabat tidak lebih.

Seperti yang sudah dijelaskan, Sungmin hanya melihat Yoonji. Hatinya sudah didipenuhi oleh Yoonji tanpa secelah pun yang tersisa untuk Hara.

Dan Donghae? Dia juga sudah terbiasa mendengar kata-kata itu yang Hara ucapkan untuk Sungmin, Donghae memang terlihat biasa saja tapi jauh di dalam hatinya ia ingin kata-kata itu tertuju untuknya, bukan untuk Sungmin.

“aku tahu. Lalu apa maumu?”

“menggantikan posisi Yoonji.” Jawab Hara singkat. Continue reading roses along the war [2/?]