[9th] DESIRABLE

desirable2

 

 

DESIRABLE

Author: Ifaloyshee | Characters: Kim Jongin, Jo Sebyul (OC) | Genre: Angst, dark, Marriage life | DISC: The idea is mine, included the plot and a whole of this story. The Characters are belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: Mature

9th Story

 

“are we falling in love?”

 

 

 

Sebyul mengecek Macbook pro dihadapannya, kemudian mengalihkan pandangan kearah tumpukan kertas yang di kumpulkan dalam satu map cokelat tua yang tak bisa ditutup karena isinya terlalu penuh. Ia menghela nafas. Ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.

Tidak di lingkungan rumah, tidak di kantor barunya, Sebyul sama saja. Tidak tertarik untuk mencari teman walaupun sekedar teman makan siang. Lagipula pekerja di kantor tak banyak yang bicara, semua sibuk pada pekerjaan masing – masing. Individualis. Sebyul menghentikan aksi mengamati lalu kembali meraih pena nya.

Tak tak tak

“Nari, terjemahkan dokumen ini dalam bahasa prancis.”

“Ayo bermain!”

“tidak, Lauren! Kau tidak melihat aku sedang sibuk?”

“Kalau begitu gendong aku!”

“Tidak!”

“Dimana mum? Aku mau bertemu mum..”

“Cari sendiri. Sudah jangan ganggu aku.”

Lauren? Sebyul langsung mendongak. Ia terkesiap ketika dihadapannya Lauren sedang menarik – narik ujung rok seorang wanita dengan mulut merajuk. Sebyul tidak terlalu peduli siapa wanita itu… ia terlalu senang bertemu dengan Lauren kembali. Sebyul melambaikan tangannya pada Lauren tetapi tak berhasil mendapatkan perhatian gadis kecil itu.

“Ayo gendong Lauren dan cari mum bersama – sama.” Sekali lagi Lauren merengek namun wanita dihadapannya tak bisa tahan lagi, ia menghentakan kaki untuk melepas pegangan Lauren. Tak cukup keras namun mampu membuat Lauren jatuh terduduk. Sedetik kemudian suara tangisan terdengar.

“YA!”

Sebyul berdiri secara spontan. Wanita tadi berhenti bicara kemudian menoleh padanya, diikuti oleh pekerja seisi ruangan. Sebyul tak peduli. Siapa wanita itu berani berbuat kasar pada Lauren? Semprotnya dalam hati.

“Apa kau baru saja membentakku?”

“Jo Sebyul apa yang kau lakukan… cepat duduk kembali..” rekan kerja disebelah Sebyul berbisik. Namun gadis keras kepala itu lagi – lagi tak peduli.

“Ya. Aku membentakmu karena kau membentak anak kecil sampai membuatnya jatuh dan menangis. Tidak sepantasnya kau berperilaku kasar begitu.. dasar Orang Tua Tak Sopan.” Dengan aksi heroik Sebyul melangkah mendekati Lauren kemudian menggendongnya—Lauren bahkan menghentikan tangisnya dan menatap Sebyul terpana. “unnie?” panggilnya dengan nada suara lemah sekaligus terkejut.

Sang wanita menatap Sebyul tak percaya. Ia melakukan scanning dari ujung kepala Sebyul sampai ujung kaki, kemudian kembali menatap kedua mata Sebyul tajam. Dia mengacungkan jarinya, “Apakah dia karyawan baru?”

Jang Nari—wanita si translator bahasa Prancis—mengangguk, “Ne.. sajangnim. Na-namanya..Jo.. Jo Sebyul.”

“Jo Sebyul, datang keruanganku selepas jam kerja.” Kemudian sang wanita berlalu dengan tidak membuang sedikitpun keangkuhannya. Cara berjalan dan bagaimana wanita itu mendongakkan wajah membuat Sebyul bertanya – tanya, siapa wanita itu?

“Aish, siapa dia berani menyuruhku.” Gumam Sebyul.

“Masalah besar untukmu, Sebyul-ssi.” Jang Nari menggigit bibir.

“Apa?”

“Kau baru saja membentak CEO dari Kim Company. kau memang tidak tau apa kau pura – pura tidak tau?”

“Apa…” Sebyul merasa tubuhnya tersengat listrik dan aliran darahnya berhenti. Tulang betisnya nyeri seperti ia bisa saja jatuh sewaktu – waktu. CEO? Apakah Jang Nari sedang bercanda? CEO? Pemilik perusahaan? Demi Tuhan dan segala ciptaannya.

“unnie..” Lauren menangkup wajah Sebyul dengan tangan mungilnya sambil berkedip lucu. “Kau sungguh pemberani seperti Mulan. Tidak ada yang pernah membentak grandma..” Lauren tersenyum kemudian menepuk – nepuk pelan pipi Sebyul.

Kerja bagus, Jo Sebyul.

 

 

***

Jongin jarang berlari. Ia tidak suka melihat kompetisi lari marathon atau lari jarak pendek di televisi. Ketimbang berlari, ia lebih suka berolahraga di gym untuk menjaga kebugaran tubuhnya.. atau otot – otot perutnya yang membentuk kotak – kotak sempurna. Namun entah bagaimana, kali ini ia memutuskan berlari dari ruang kantornya menuju ruang kantor ibunya.

Sebyul dipanggil oleh Presiden Kim ke kantornya.

Bagaimana bisa Jongin tidak berlari begitu mendengar kabar tersebut dari sekertarisnya?

Ia buru – buru membuka pintu kemudian masuk kedalam dengan nafas tak beraturan. Dihadapannya, Sebyul duduk dengan ekspresi datar didepan wanita yang menatap Sebyul seakan mau memangsa gadis itu hidup – hidup. Jongin menghela nafas, kemudian menutup pintu dibelakangnya.

“benar kau yang membawa gadis ini ke kantorku?”

Jongin mendekat, melirik Sebyul sebentar lalu kembali menatap ibunya. Ia menunduk hormat. “Aku yang membawanya.”

Presiden Kim memandang Jongin dan Sebyul bergantian, menyeringai lalu menyilangkan kakinya. “Sungguh gadis yang sopan. Dari mana kau membawaya? Kolong jembatan? Atau memang gadis ini punya gangguan psikologi?”

Sebyul mengepalkan tangan.

“Ibu. Jo Sebyul tidak tau. Dia karyawan baru. Kalau dia tau kau adalah CEO, pasti Sebyul tak berani membentakmu juga.”

“Tidak tau? Apa yang ditontonnya di televisi? Music Bank? Program acara operasi plastik? Apa gadis itu tidak pernah melihat berita atau membaca Koran, hm. Tidak habis pikir. Aku tidak ingat ada karyawan sebodoh dia disini. Terakhir aku memecat karyawan dengan tanganku sendiri adalah tiga taun lalu, ketika dia tidak sengaja menumpahkan kopi di jas ku. Apa aku perlu memecat dia dihari pertama kerja?”

“Dia memang ceroboh. Aku akan menghukumnya.”

Begitu mereka berdua keluar dari ruangan, keduanya menghela nafas lega. Jongin memandang Sebyul dengan tajam tidak habis pikir dengan wanita satu ini.

“Jadi kau mau menghukumku apa?” Sebyul menaikan satu alisnya dengan ekspresi datar seolah tatapan Jongin tak membuatnya takut. Masa bodoh dengan peringatan tadi? Toh Sebyul tidak merasa melakukan hal yang salah—melindungi anak kecil apakah perbuatan itu salah?

Tanpa aba – aba Jongin menarik lengan Sebyul, menyeretnya entah menuju kemana.

“YA! YA! LEPASKAN AKU! HEI!”

Jongin masuk keruang kantornya sambil mengecek keadaan sekitar sekiranya ada yang memergoki mereka, setelah yakin aman ia menyeret Sebyul masuk kedalam kemudian menutup pintu. Ia mendorong Sebyul ke dinding, mengunci tubuh gadis itu dengan dua tangannya yang berada disamping kepala Sebyul.

“Jangan berani menentang dia. Aku harap kau tidak mengulangi kejadian tadi lagi.” ucapnya dengan nada tegas disetiap kalimat. Sebyul terpaku.

“Tapi dia berbuat kasar pada Lauren—“

Jongin memegang pinggang Sebyul kemudian mendorongnya agar semakin menyatu dengan dinding. “Aku. Katakan. Jangan. Menentang. Dia.”

Jongin begitu mengintimidasi. Dari cara pria itu mengancam dengan tekanan di setiap kata, dan menatap lawan bicaranya, Sebyul bisa melihat Presiden Kim disana. Like mother, like son. Dan Sebyul tidak terlalu menyukai sisi ini dari sifat Jongin. Seolah dirinya menjadi mangsa yang sedang diterkam oleh predator.

“Kau mengerti?”

Sebyul mengangguk perlahan kemudian menunduk.

“Sebyul. Dia itu.. wanita yang jahat. Iblis. Antagonis dari seluruh antagonis.”

Sebyul mengerutkan dahinya kemudian mendongak. “Bagaimana bisa kau menyebut wanita yang melahirkanmu begitu?”

“dia hanya melahirkanku.”

“hanya kau bilang?! Ibumu lebih dari itu. Dia seseorang yang—“

“Sssh. Sebyul, rambutmu indah sekali.” Sebyul terdiam secara refleks ketika jari – jari tangan Jongin bergerak menyusuri helaian rambut Sebyul dari ujung kepala sampai leher. Dan ketika Jongin berkedip, Sebyul merasa kakinya lemas. Kedua mata Jongin menatapnya dengan seksama, kemudian turun ke bibir merah Sebyul yang mengatup rapat, menatapnya lama dengan jarak yang sangat dekat.

Jongin sulit menahan hasratnya. Ia diam – diam menyalahkan blus kerja Sebyul yang membentuk tubuh wanita itu dengan sempurna. Atau liptint merah gelap yang Sebyul pakai, dengan aroma strawberry—Jongin bisa menghirup aromanya dengan jarak sedekat ini. Secara perlahan ia memperkecil jarak antara keduanya sampai hidungnya menyentuh ujung hidung Sebyul kemudian—

“Jowngeeyn~”

Refleks Jongin menarik kembali wajahnya menjauh dari Sebyul ketika seseorang masuk kedalam ruangannya tanpa permisi. Ia menoleh, mendapati Miraki yang berdiri dengan tatapan terkejut sok dramatis.

oh well, maaf mengganggu waktu privasi kalian.” Ia membuat seutas senyuman paksa.

Sebyul berdeham dengan wajah merah padam. Ia melirik Jongin sesaat kemudian membuat permisi untuk melewati Miraki dan keluar dari ruangan Jongin tanpa suara. Dalam hati Jongin meracau kesal karena kehadiran Miraki yang tak tepat waktu.

“teman kencan barumu, huh? Tumben sekali kau mengencani wanita kantor. Tidak takut dengan ibu?” Miraki melangkah kearah meja kerja Jongin dengan bunyi heels yang berisik. Ia mengambil rokok Jongin, menyulutnya kemudian merokok dengan duduk diatas meja. Jongin berjalan menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya disana.

“Dia saja tidak takut dengan ibu.”

“Oh, jadi wanita itu yang merusuh tadi pagi demi membela anakku?” Miraki tertawa sarkas. “Bahkan aku tidak pernah berbuat sok superhero begitu terhadap anakku sendiri.”

Hillarious.” Tambah Miraki. Jongin mengangguk menyetujui.

“Bagaimana Clara?” Tanya Jongin pada Miraki karena Jongin tau kalau kemarin Miraki ikut ‘menyambut’ kepulangan Clara ke Amerika di Bandara Incheon—padahal Miraki pergi ke bandara karena Kwon Jiyoung akan terbang ke Jepang, Wanita itu berkedok menyambut Clara agar ibunya tidak curiga.

“Setauku dia meninggalkan seseorang atau beberapa orang di Seoul untuk mengawasimu. Aku hanya dengar – dengar kabar saja, tidak tau itu benar atau tidak. Saat di bandara kemarin aku melihat Minseok memberi pelukan selamat tinggal pada Clara.”

“Minseok?”

“Ya. Dengan Chanyeol. Clara sudah besar kepala setengah mati mengira kau datang bersama mereka, tetapi nyatanya kau sibuk dengan pacar barumu.”

“Sebyul bukan pacarku.”

“Lalu?”

Miraki mengepulkan asap. Ia menatap adiknya dengan alis terangkat kemudian tertawa ketika Jongin tak memberinya jawaban apapun. “Yaampun. Friends with benefits?

“Dia tidak terlihat ramah menurutku. Aku tidak tau bagaimana kau menggodanya sampai mau denganmu.”

Jongin tidak suka ketika dia mulai memikirkan hubungan antara dirinya dengan Sebyul. Apakah ia harus menyebut Sebyul sahabat? Atau apa? Rasanya membebani karena selama ini ia bertingkah se-natural mungkin pada Sebyul dan dihadapan Sebyul, Jongin tak perlu berpura – pura menjadi siapapun. Jongin hanya menjadi dirinya sendiri. Jongin senang berada didekat Sebyul, tapi ia benci menguak tentang hubungan apa yang mereka jalani. Jongin pikir, just go with it.

Ia memperhatikan Miraki yang duduk menyilangkan kaki diatas meja, dengan mata terpejam menikmati nikotin yang wanita itu hirup. Asap memumbul dari balik mulutnya. Dibalik bedak Chanel dan eyeshadow serta segala bentuk face treatment yang Miraki poleskan pada wajahnya, Jongin tau kalau wanita itu hanya berusaha menutupi wajah yang kusut oleh air mata kering serta mata panda yang menggantung. Miraki juga kurus bukan main, konsumsi alcohol wanita itu tak kenal batas. Dan rokok. Beberapa obat penanggal depresi juga ia konsumsi setiap beberapa kali seminggu.

Bagaimana Jongin percaya dengan konsep cinta kalau kenyataannya fakta pahit yang menimpa kakaknya sendiri, semata – mata karena cinta?

Cinta. Ambisius. Jongin bergidik ngeri ketika memikirkan hal itu juga berada didalam dirinya, apakah Jongin sendiri akan berakhir seperti Miraki?

Bertekuk lutut selamanya pada wanita yang melahirkannya dengan tak punya harapan sendiri untuk diperjuangkan? Menjadi robot pencetak mesin uang?

“Apa yang kau pikirkan?” Miraki sudah mengambil batang rokok yang kedua. Ia membuang puntung rokok pertamanya sembarangan. Jongin memungutnya dari lantai lalu membuangnya ke tempat sampah. “sudah pergi ke psikiater hari ini? Hari senin, jadwalmu, kan?”

Miraki tertawa kemudian menggeleng.

Jongin menghela nafas, “Pergilah kesana.”

“No… No…” Miraki mengambil ponsel Jongin kemudian sibuk sendiri.

“Bukankah ini Sehun dan Kyungsoo?” Miraki menunjukkan foto dua orang pria dalam ponsel Jongin.

“Ya.”

“Mereka tampan juga kalau dilihat – lihat lebih lama.” Ia menyeringai. Siapa yang mau bertanggung jawab atas Miraki yang sekarang? Wanita berumur 27 tahun dengan satu anak, tanpa suami, yang bertingkah selayaknya remaja SMA. Tanpa perduli makan siang apa yang akan ia sajikan pada anaknya. Kalau bukan gila, memang Jongin patut menyebutnya apa lagi?

“Miraki.. aku akan menyuruh Sehun dan Kyungsoo mengantarmu ke psikiater. Kau mau pergi kan?”

Miraki memandang Jongin dengan mata berseri – seri. “TENTU SAJA!” Miraki melompat dari atas meja lalu merapikan rok. Ia melirik kotak kecil yang Jongin pegang ditangan kirinya. “Apa itu? Cincin?”

Jongin mengikuti arah pandang Miraki, lalu mengangguk. “untuk Clara.”

“untuk Clara?”

“Ya. Aku membelinya dengan Clara minggu kemarin sebelum ia ke Amerika.”

“Lalu kau akan menyimpannya selama dua tahun?”

“Tidak. Aku berencana membuangnya.”

“sayang sekali.” Miraki menggelengkan kepala prihatin. “Kenapa tidak kau berikan pada si perusuh itu… siapa.. umm.. Sebyul?”

Jongin tertawa remeh. “Maksudmu, aku menikahi Sebyul?”

why not?”

Jangan gila.”

“Dia menarik juga kalu kau bawa ke keluarga kita. yang pasti, dia akan membuat Ibu pusing. Bukankah menyenangkan menambah drama pada hidup yang sudah drama?”

“hentikan racauan tidak jelas mu.”

“Kau jadi punya alasan untuk bercinta dengannya setiap hari.”

Jongin diam.

“Sekali – kali cross the line, my dear Jongin. Siapa tau kau akan berakhir sepertiku jika terus menerus menurut pada ibu? Kau mau berakhir sepertiku?”

Tidak. Tidak. Tidak. Jongin berteriak dalam hati.

“Kau pasti tidak berani. Kan? Kalau kau berani menikah dengannya, itu akan menjadi kejutan besar bagi semua orang. Dan aku berjanji akan rajin pergi ke psikiater untuk terapi ku.”

Bagaimana, Kim Jongin?

Sekelebat fantasi mengenai Sebyul yang mengenakan dress pernikahan sambil berputar diatas altar memenuhi pikiran Jongin.

 

***

 

Esok paginya telepon bertubi – tubi menyerang ponsel Jongin ketika ia sedang bergelut nyaman di dalam selimut. Sebyul pagi – pagi sekali sudah membuat kerusuhan dengan membangunkan Jongin melalui dering telepon. Dan Jongin baru ingat, hari ini ia ada janji ke Sekolah Rakyat dengan Sebyul.

Menuruti perintah Sebyul untuk membawa snack dan cokelat, Jongin membawa backpack berisi penuh makanan ringan. Dan Nissan Silvia yang akhir – akhir ini selalu menemaninya berpergian.

kita hanya bisa naik kereta untuk ke sana.”

bukankah itu Busan?”

“Ya. Tapi tidak berada di pusat kota Busan. Kita akan lebih jauh lagi ke dalam. Jalanan tidak bagus, kau pasti tidak mau mobil indahmu itu tergores oleh pasir dan tanah kan.”

“Kalau begitu kita harus naik kereta?”

Terakhir kali Jongin menaiki kereta sepertinya ketika ia masih duduk di sekolah dasar. Saat itu ada camp ke daerah yang jauh dari kota, di hutan musim, saat itu sedang musim semi dan Jongin harus menekan ego nya dalam – dalam untuk tidak memprotes selama perjalanan naik kereta—karena satu – satunya akses menuju tempat itu hanya bisa dengan kereta. Hal ini terulang lagi, setelah bertahun – tahun.

“Bukankah aku menyuruhmu membeli tiket kelas paling bagus?”

Jongin memperhatikan sekitarnya sambil duduk. Headphone menggantung dilehernya. Ia mengamati langit – langit kereta dengan alis menekuk.

“Ini kelas yang paling bagus, Tuan Besar.” Sebyul memutar bola mata. “Tidakkah kau lihat hanya beberapa orang yang berada di gerbong ini. Termasuk kau dan aku.” Sebyul meletakkan kedua tangannya diatas meja dihadapannya sambil memandang Jongin penuh iritasi.

“Oke.. ini yang paling bagus.” Jongin masih mempertanyakan dimana champagne dan taplak meja beludru diatas meja.

Sebyul menghela nafas. Ia harus betah – betah diperjalanan dengan pria ini. Dikeluarkannya sebuah kotak makan berwarna hijau terang, dan dibuka tutupnya. “Kau pasti belum sarapan kan, anak manja? Ini untukmu.” Ia menggeser kotak makan tersebut kehadapan Jongin.

“Untukku?”

Sebyul mengangguk.

Jongin memandang makanan yang berada didalam kotak; shrimp roll, chicken katsu dan potongan wortel serta kubis yang diiris lembut dengan saus mayonnaise serta saus sambal. Jongin mengambil sumpit lalu mengoyak sayuran tersebut, “aku tidak mau makan ini.” Ia merengut lucu sambil menyingkirkan irisan wortel dan kubis.

“Kau benar – benar anak manja ya? Tidak mau makan sayur.. pantas kau tidur terus!”

“Ya! Aku tidur karena ingin tidur. Bukan karena tidak mau makan sayur. Lagipula pelayan selalu memberikanku suplemen dan vitamin!”

“Umur berapa kau masih memakan vitamin? Lima tahun?”

“artis – artis dan anggota boyband korea juga makan vitamin! Apa yang salah denganku?!”

“kalau masih ada sayuran sehat, kenapa harus makan vitamin! Hmmm… lihat ini, Jongin.” Sebyul merebut sumpit ditangan Jongin. “ini enak sekali jika dimakan dengan chicken katsu.” Serunya sambil menunjuk sayuran. “sudah cepat makan dengan sayurnya! Aku susah – susah membuat ini dipagi hari.”

Dan Jongin menurut saja walaupun tampangnya terlihat sebal. Ia menyuapkan sayuran itu kedalam mulutnya, kemudian chicken katsu, dan selama beberapa menit Jongin tak berbicara karena sibuk makan.

“minum?”

Sebyul memutar bola matanya lalu membuka jansport dan mengambil botol minuman.

Setelah menghabiskan satu porsi bento buatan Sebyul lengkap dengan seboto minum, Jongin malah tertidur pulas di pojok kursi dengan badan tak bergerak sedikitpun. Agaknya ia kekenyangan. Sebyul memandang Jongin dengan muka datar, lalu mengangkat novelnya. Percuma juga ia mengajak Jongin menjadi teman perjalanannya kali ini karena yang pria itu lakukan hanya makan… dan tidur.

Sebyul menyandar pada dinding kereta dengan earphone terpasang dan sebuah novel digenggamannya. Membaca kata demi kata Haruki Murakami. Menit – menit berlalu, perjalanan didalam kereta dilalui oleh hening yang menenangkan. Cahaya matahari pagi menelusup masuk melewati jendela, membias mengenai wajah Jongin yang tertidur dan Sebyul yang mulai terkantuk – kantuk.

Sebyul berlari – lari diatas awan, melompat dari satu gumpalan ke gumpalan yang lain dengan pelangi sejengkal diatas kepalanya. Seekor kupu – kupu dengan sayap penuh warna melintas, Sebyul berlarian menangkapnya dan—

“Ya. Bangun Sebyul-ya.”

Sebyul merasa bahunya tergoncang. Kemudian seseorang menepuk pundaknya. Ia membuka mata, tentu saja Kim Jongin.

Jongin sedang menenggak sebotol minuman. “Kau tidak lapar?”

Sebyul menggeleng. Tadi pagi sebelum Junhong berangkat sekolah ia sudah makan seporsi ayam, dan memakan sisa ayam Junhong juga jadi perutnya sungguh penuh. Lagipula bekal nya sudah habis dilahap seluruhnya oleh Jongin.

Dan kini pria itu bertanya apakah dirinya lapar seolah – olah lupa siapa yang menghabiskan makanan.

“Aku lapar.” Jongin mengelus perut.

Sebyul memutar bola mata.

“berapa lama lagi perjalanan ini?”

“Sekitar dua jam mungkin.”

“Wow, lama sekali. Kenapa tadi kita tidak naik pesawat saja.”

“dan mendarat ditengah padang rumput?”

“Hei kita bisa saja menyewa helicopter dan mendarat di padang rumput!”

“Hobimu buang – buang uang ya?”

Jongin tertawa. Jongin mudah menertawakan apa saja, dan Sebyul mengamati kalau suara tawa Jongin itu stagnan. Nadanya tak pernah berubah, selalu stabil. Dan ketika Jongin tertawa ia bisa memukul benda apa saja disekitarnya.

“Aish, sungguh membosankan.” Jongin bangkit dari duduknya. Ia mengamati gerbong yang sepi, hanya ada beberapa orang duduk diam sambil membaca Koran atau sibuk dengan gadget. Ia mendongak kemudian menemukan sesuatu disana, “Hei Sebyul kemari!”

Sebuah pintu kecil terdapat diatas gerbong kereta, lebarnya sekitar seperempat pintu lemari. Jongin menarik – narik gagang kecil pintu tersebut namun tak terbuka, kemudian ia menggesernya sampai perlahan terbuka.

“Hei apa yang kau lakukan!” mulut Sebyul memprotes namun ia ikut penasaran dengan isi didalam pintu itu.

Jongin menarik pegangan besi yang terdapat didalam, kemudian menariknya kebawah.

Sebuah tangga. Lalu ia berjinjit sedikit untuk membuka pintu lain yang ada didalamnya.

“Whoah.” Serunya ketika birunya warna langit terpampang dari balik pintu. Ia menoleh pada Sebyul yang masih terpana, kemudian keduanya bertatapan selama beberapa detik. “Ayo naik!” seru Sebyul senang. Jongin tersenyum lalu menaiki tangga dengan semangat sampai ia terduduk diatas kereta.

“Apakah aman?”

“Ya, pemandangannya bagus sekali Sebyul! Cepat naik bodoh.”

Sebyul menggumamkan ‘jinjja’ pelan kemudian melangkah naik tangga. Sesampainya diatas ia menempatkan diri duduk disebelah Jongin diatas gerbong kereta.

Angin semilir menerpanya, dengan suara khas kereta api yang terdengar jauh lebih keras sekarang. Pohon – pohon disekelilingnya bergerak tak mengenal kata pelan, langit dan awan berlari – lari mengejar diatasnya. Sebyul bahkan sempat lupa menutup mulut saking tercengangnya. Ia menoleh pada Jongin yang tampak lebih berseri – seri dari sebelumnya, helai rambut pria itu bergoyang terkena angin.. membuat Sebyul gemas.

“WHOAAAAAAAAAAAAAA” Sebyul berteriak sekencang – kencangnya sampai hampir terjungkal kebelakang—sebelum itu tangan Jongin sigap menangkapnya. Lalu keduanya tertawa lepas.

“IAM A MILLIONAIREEEEEEEE~~~” teriak Jongin, mengeluarkan suara bass nya memecah udara. Setelahnya ia terbatuk – batuk karena tenggorokannya sakit. Silly, ujar Sebyul dalam hatinya namun ia senang melihat Jongin yang begitu lepas.

“teriakkan suara hatimu yang paling dalam, Sebyul.”

Sebyul mengigit bibir dengan perasaan campur aduk. Otaknya terlalu random untuk memilih kata apa yang harus ia teriakan saat ini, dan selama hidupnya ia menekan perasaan dan bebanya dalam – dalam. Ia menelannya. Rasanya aneh ketika Sebyul hendak mengutarakannya.

Tapi, baiklah.

“AKU INGIN BERTEMU KAU, IBU.”

Jongin menoleh kearah Sebyul yang masih menatap angin dengan ekspresi tak terbaca. Jadi ini suara hati Sebyul yang terdalam? Sungguh mulia. Sebyul menggigit bibir kemudian menunduk, wajahnya tenggelam oleh helaian rambut panjangnya yang berkibar tertimpa angin.

cafune.” Ucap Jongin pelan nyaris tanpa suara. Sebyul tak mendengarnya.

Setelah mendapat teguran dari petugas kereta, akhirnya keduanya turun dari atas kereta dengan sebal. Tapi mungkin memang sebaiknya turun karena akan berbahaya jika ada terowongan. Jongin mendorong tangga fleksibel itu kembali pada tempatnya kemudian kembali duduk dihadapan Sebyul yang sibuk merapikan rambut.

“Sungguh anginnya membuat rambutku rusak.” Sebyul menghela nafas sambil membetulkan helaian rambut yang terkait – kait tak beraturan. Ia mengambil kaca lalu menyisir rambutnya. Jongin hanya terdiam didepannya sambil menyenderkan punggung pada kursi, memperhatikan Sebyul yang sibuk mematut diri.

Dan entah hal apa yang mendorong Jongin untuk mengambil ponsel dari balik saku, kemudian memotret Sebyul tanpa gadis itu sadari. Jongin mengulum senyum lalu memasukan kembali ponselnya, ia melipat kedua tangan didepan dada.

“kapan ibumu meninggalkanmu?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Jongin. Sebyul mengalihkan tatapannya dari kaca untuk menatap Jongin. Ia meletakan kaca tersebut.

“Saat itu minggu pertama di musim dingin. Aku masih berumur lima tahun, tidak sadar dengan kejadian sebelumnya yang terjadi padaku hingga aku duduk didepan pintu panti asuhan dengan keranjang berisi bayi kecil yang tertidur. Aku tidak ingat berapa bulan umur Junhong saat itu. Kami mencoba menghangatkan tubuh dengan tangan kosong, aku menyerahkan jaketku untuk menutupi tubuh Junhong karena ia bisa saja mati kedinginan.”

“hujan turun deras sekali. Ingatanku berhenti sampai disitu. Selebihnya, ibu panti mengatakan bahwa aku ditemukan mereka dalam keadaan pingsan dan mengigil. Junhong baik – baik saja. Lalu mereka membawaku kerumah sakit, selama satu minggu aku dirawat karena hipotermia.”

Sebyul menghela nafas. “aku sudah bertahan hidup sesulit itu bahkan ketika umurku baru lima tahun.”

“Apa kau ingat wajah ibumu?”

Sebyul menggeleng.

“bagaimana hidupmu di Panti asuhan?”

“Baik. Letaknya berada di dekat gunung sehingga akses menuju kota tidak mudah, kami hidup dengan tingkat ekonomi cukup. Hidup berjalan normal. Teman – temanku baik, kami disekolahkan di sebuah sekolah yang dikelola oleh yayasan pengumpul dana bagi anak – anak yatim-piatu sehingga fasilitas pun seadanya. Ibu panti juga baik, namun dia sudah terlalu tua. Aku merasa kasihan padanya.”

“Lalu kenapa kau memutuskan untuk pergi ke Seoul?”

“Uhm.. saat itu aku melihat iklan komersial Seoul Global High School di televisi. Aku berpikir.. wah sekolah itu bagus sekali, menghasilkan lulusan terbaik di Korea Selatan dengan jaminan masuk Universitas ternama. Saat itu aku berumur 16 tahun sedang memasuki kelas awal Sekolah Menengah Atas. Jadi impianku runtuh sudah. Namun.. aku melihat Junhong yang sedang belajar, dia anak yang pintar sejak sekolah dasar. Lalu, aku lempar impianku pada Junhong.”

“sejak saat itu aku rajin membuat kue dan menjualnya di sekolah. Uangnya kutabung untuk pergi ke Seoul. Aku juga memenangkan kompetisi debat, kau ingat ketika aku memberitahumu tentang pertukaran pelajar ke Jepang itu kan? Aku mengikuti lomba disana. Hadiah uangnya sangat banyak—bagiku. Lalu ibu panti mengijinkanku dengan membekaliku nomor teleponnya jika aku butuh bantuan.”

Jongin mengagumi betapa berani dan kuat nya Jo Sebyul ini. Keberanian Sebyul untuk berkorban, untuk keluar dari zona nyaman demi hidup yang lebih baik. Apakah Sebyul memang tidak pernah takut pada apapun? Apakah dia memang tembok yang tak akan retak oleh gempa sekalipun?

Jongin ingin menguji ketahanan wanita ini. Dia juga cantik. Tidak buruk juga di atas ranjang.

“Aku bertanya – Tanya, kapan uang bisa turun dari langit menghujani dompetku? Aku harap Tuhan mendengar doaku.” Sebyul memandang pepohonan yang berlarian diluar jendela.

Doamu sebentar lagi terkabul, Jo Sebyul.

Jongin memandang Sebyul, kemudian menyeringai.

 

***

 

9 PM

 

 

Rasanya waktu begitu cepat ketika ia lewatkan bersama Jongin di Sekolah Rakyat. Dan Jongin pun tidak begitu menyebalkan—walaupun sepanjang jalan dari stasiun sampai Sekolah membuatnya protes—karena ia ramah pada anak – anak. Membagi semua makanan ringan dengan adil, dan mau mengajar pelajaran matematika.

Ia juga mengatakan akan mengirim selusin motor ATV untuk anak – anak di Sekolah Rakyat. Dan membantu dana pembangunan Taman Bermain disana. Tidak ada salahnya membawa orang kaya, dengan uang maka semua nya akan bahagia. Bulan depan dirinya dan Jongin berencana kesana lagi.

Dibanding teman kencan atau pacar, rasanya lebih menyenangkan menyebut Jongin sebagai sahabat. Karena tentu saja, keduanya tidak saling jatuh cinta—bukankah Jongin dan Sebyul sudah mengakui sendiri di café sewaktu itu?—dan terlalu dekat juga untuk disebut sebatas teman.

Sebyul tersenyum. Ia sedang menaiki tangga menuju apartemen dengan MoonPies ditangannya—sisa biscuit berlapis cokelat berisi marshmallow yang Jongin berikan pada anak –anak tadi.

Pintu apartemennya tidak jauh dari tangga, Sebyul bisa melihat dengan jelas kalau Junhong berdiri didepan pintu dengan kaki mengetuk lantai. Apa yang bocah itu lakukan didepan apartemen?

“Junhong?”

Bocah itu menoleh, “Noona.. kau sudah pulang”

Sebyul berjalan mendekat. “Kenapa kau tidak masuk?”

“Umm.. aku… menunggu noona.” Junhong menggaruk tengkuk. Sebyul menangkap sinyal ini bahwa ada sesuatu yang tidak beres, atau Junhong sedang menyembunyikan sesuatu darinya… atau Junhong berbohong. Atau ketiganya.

Sebyul pun memasukkan kode kunci, namun ia terkejut ketika mesin mengatakan bahwa kodenya salah. ia mencoba input sekali lagi, kodenya masih salah juga. Apa yang terjadi?

“Kita diusir dari apartemen.”

Jari Sebyul terhenti diudara, ia menoleh. “Apa? Kenapa?”

“Kita belum membayar sewa bulan lalu.”

“Apa? Kita sudah membayarnya! Kau yang waktu itu membayar kan, Junhong?”

Junhong menunduk merasa tidak enak. “Aku belum membayarnya.” ia melirik noona-nya hati – hati. “Mianhae noona. Aku belum memberitahumu kalau sewaktu itu aku kecopetan. Mereka membawa semua uang sewa apartemen.”

“Yaampun..” Sebyul menghela nafas frustasi lalu bersandar pada dinding, tubuhnya merosot. “dimana barang – barang kita?”

“Aku sudah memanggil taksi. Baju – baju dan yang lain sudah di jok taksi di bawah. Hanya saja aku belum punya ide untuk pergi kemana noona..”

Junhong menawarkan ponselnya. “Noona bisa jual ini untuk sewa apartemen lain.” Sebyul menatap ponsel Samsung Galaxy milik Junhong, tapi ia menggeleng. “Tidak. Lagipula toko sudah tutup saat ini, dan diluar hujan. Untuk malam ini kita bisa tinggal sementara dimana, dan besok aku akan mencari apartemen baru.”

“yang lebih murah.” Tambah Sebyul mengingat jumlah digit di rekening nya sudah menipis.

Ponsel Junhong berdering. Ia menarik balik ponselnya.

“Noona, Hojung punya apartemen kosong.. dia menawarkan pada kita.”

“Padamu, kan maksudnya?”

“Tidak.. tidak.. pada kita.”

Sebyul tampak berpikir sebentar, menimbang – nimbang. Mungkin memang ada baiknya tawaran itu tetapi Sebyul tidak begitu akrab dengan Hojung. Lagipula Sebyul punya opsi lain. “Aku akan menginap dirumah temanku.. Jung Eunji. Kau menginap di apartemen Hojung. Tapi.. tinggal sendiri saja! Biarkan Hojung tetap dirumahnya.”

Junhong tertawa geli, “tentu saja noona..”

“Huff..” Sebyul melompat berdiri dengan badan luar biasa lelah, tapi ia masih harus pergi kerumah Eunji di Gwangju. Belum juga mengantar Junhong ke apartemen Hojung. Wow, hari melelahkan yang lain pun dimulai.

***

 

Taksi berhenti di depan apartemen menjulang tinggi di daerah Gangnam. Sebyul pernah mendengar bahwa apartemen ini adalah yang paling mahal di distrik Gangnam dan ia mulai bertanya – tanya apakah Hojung anak dari pewaris kaya?

Junhong mengintip dari celah kaca taksi yang terbuka sedikit, ia melihat gedung apartemen tersebut kemudian mengetik sesuatu diponselnya. Beberapa saat kemudian Junhong menerima balasan pesan, lalu ia mengangguk.

“Benar ini tempatnya.”

“maksudmu ini apartemen Hojung?”

“Bukan, noona. Hojung ada disini.. ia menyuruhku menjemputnya disini terlebih dahulu.”

“baiklah.”

“Aku akan masuk kedalam. Noona mau ikut?”

Sebyul menggeleng. “Tidak. Kau saja. Bawa tas mu siapa tahu hojung membawa mobil dan kalian berdua akan pergi bersama. Aku akan pergi setelah kau menghubungiku.” Sebyul mendikte. Junhong mengangguk kemudian menaikan topi hoodie nya sebelum keluar dari mobil dengan tas backpack penuh dipunggungnya.

“ahjussi.. tunggu sebentar, ne.” ucap Sebyul pada pengemudi. Sebyul memperhatikan jalanan lewat kaca dalam diam karena ia lelah, ia ingin selimut tebal dan bantal empuk lalu tidur. Dan besok ia harus bekerja juga. Di kantor Jongin. Ah, Sebyul jadi teringat kejadian kemarin yang memalukan itu. Kalau saja Sebyul mau meluangkan sedikit waktu untuk mencari tahu siapa CEO Kim company sebelum masuk kantor pasti kejadian tidak akan senaas itu.

Tapi bagaimana kalau namanya sudah dicoret dan masuk ke daftar Karyawan Siap Dipecat? Tapi.. Jongin akan melindunginya, kan? Jongin kan sahabatnya. Ah, tapi bukan kah dunia professional pekerjaan dan pribadi itu berbeda. Kalau memang ia dipecat, mau kemana lagi Sebyul mencari pekerjaan?

“Pusing! Pusing! Kepalaku mau pecah.” Sebyul membenturkan kepalanya pelan ke kaca mobil.

TOK TOK TOK.

“yah!” Sebyul berjengit kaget ketika kaca mobil diketuk oleh seseorang. Ia menoleh..

Luhan?!

Luhan berdiri setengah menunduk sambil mengetuk kaca mobil. Pria itu memakai hoodie hitam yang menutupi kepalanya dari gerimis. Senyumnya merekah ramah seperti Luhan yang biasanya. Sebyul pun cepat – cepat menurunkan kaca mobil.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sebyul dibuat bingung setengah mati.

“Hai Sebyul, kita bertemu lagi. bagaimana kalau kau keluar dari taksi dan kita bicara?”

Dengan masih dibuat bingung oleh kehadiran Luhan, Sebyul pun membuka pintu taksi kemudian keluar dengan merapatkan sweater karena udara berhembus dingin. Luhan tertawa geli melihat Sebyul.

“Aku bertemu adikmu didalam tadi.”

“Junhong? Bagaimana bisa?”

“begini, Sebyul.. dia tiba – tiba mengetuk pintu apartemenku. Awalnya aku tidak tau dia siapa namun Hojung tiba – tiba melompat dari sofa dan memperkenalkan Junhong pada kami, ternyata pria yang sering Hojung ceritakan itu adikmu, ya.”

“kami? Kau bersama siapa? Dan bagaimana Hojung ada diapartemenmu?”

“Sebentar, Sebyul apakah kau merasa kedinginan? Kita bisa masuk kedalam dulu. Nanti kau bisa sakit.”

Sebyul mengibaskan tangan. “Tidak usah! Hahaha. Aku baik – baik saja. Jadi bagaimana bisa Hojung diapartemenmu?”

“Dia adik tiri Chanyeol. Kebetulan jika aku dan teman – temanku sedang berkumpul kadang –kadang Hojung suka ikut bersama kami. Tadi apartemenku cukup ramai oleh teman – temanku, kami sedang makan sushi.

“Aaah..” Sebyul mengangguk mengerti.

“Sekarang kemasi barang – barangmu dan kita masuk kedalam apartemen.”

“Apa?”

“Aku punya teman yang bersedia menampungmu malam ini, Sebyul.”

“Tidak – tidak.. aku akan pergi kerumah Eunji temanku.”

“Ini sudah terlalu larut.” Luhan malah membuka bagasi kemudian menurunkan koper Sebyul tanpa persetujuan. Sebyul bahkan belum sempat bereaksi ketika Luhan sudah memberikan tip pada supir taksi dan taksi melaju pergi. Sebyul menganga bodoh.

“Ayo kita masuk!”

“Luhan aku tidak mengenal temanmu!”

“Sudah. Dia akan mengenalmu dengan baik.”

Setelah racauan protes Sebyul sepanjang naik lift tidak digubris sama sekali oleh Luhan, akhirnya keduanya berhenti didepan pintu apartemen milik teman Luhan. Dan Luhan memasukkan kode pengaman. Sebyul bertanya – tanya kenapa Luhan mengetahui kode apartemen yang bukan milik Luhan sendiri?

Pintu terbuka. Luhan mendorong Sebyul masuk dengan meletakkan koper Sebyul didalam sedangkan dirinya berdiri diluar pintu.

“Dia sedang mandi. Tunggu saja. Apartemenku ada disebelah..” Luhan menunjuk pintu disebelah. “Aku disini. Jadi tenang saja.” Dan dengan begitu Luhan menutup pintu, meninggalkan Sebyul yang berdiri bodoh didalam apartemen yang entah milik siapa. Dan, Demi Tuhan apartemen ini bagus sekali.

Clara berjalan menuju sofa dan terduduk disana dengan suasana sepi yang membuatnya canggung. Ia mengambil sebuah permen yang tergeletak diatas meja didepan sofa, mengamati permen ditangannya.

“Bukankah ini.. permen Bit-O-Honey?”

Sepersekian detik kemudian Sebyul terkesiap.

“Makan ini. You’ll feel better.”

Sebyul memperhatikan bungkusan permen tersebut. “feel better?”

“Bit-O-Honey. Rasanya enak sekali. Kau bisa melupakan sakit di pipimu sejenak saat kau memakannya.”

“Dimana rumahmu Luhan?”

“apartemenku bertetangga dengan Jongin.”

“Benarkah?”

“Ya. Aku hanya perlu mengetuk pintu sebelah jika ingin menemui Jongin.

Ingatan itu secara otomatis muncul begitu saja melintasi pikiran Sebyul dengan tangan Sebyul yang secara tidak sadar sudah meremas permen Bit-O-Honey. Sebyul menggigit bibir bawahnya kemudian bergumam, “Jongin…?”

“Kau memanggilku?”

Sebyul mendongakkan kepalanya.

Dihadapannya Jongin yang hanya memakasi celana jeans dan kaus tanpa lengan, kedua tangan pria itu sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Jongin menyeringai licik. Sebyul merasa dunianya berhenti detik itu juga. Ia tak mengerti euphoria apa yang membuncah didalam dirinya, senang? Kaget? Sedih?

Jongin berbalik kemudian berjalan menuju balkon yang terbuka, membiarkan angin masuk menggoyangkan tirai – tirai putih di dalam apartemennya. Sebyul mengikutinya dibelakang lalu keduanya berdiri berpegangan pada pagar besi, terdiam satu sama lain untuk beberapa menit.

Sebyul tidak menyangka kalau pemilik apartemen ini adalah Jongin. Ia kira awalnya Luhan memiliki teman wanita ramah yang mau menampungnya semalam. Apakah ini suatu hal yang sudah direncanakan oleh pihak lain…atau Jongin sendiri? Entahlah, Sebyul merasa baik – baik saja saat ini. Ia merasa aman tanpa tau alasannya apa.

“Terlalu banyak tekanan di lingkaran-sosial keluarga ibuku, mereka masih melihatku sebagaimana Kim Jongin yang mempunyai nilai sempurna disetiap mata pelajaran ketika aku sekolah dasar. Mereka menuntut kesempurnaan. Jika tidak, aku akan menjadi bahan pembicaraan. Cerita dan gossip yang beredar tentangku adalah topic favorit keluargaku.. bibi, paman, semuanya.”

Sebyul memperhatikan wajah Jongin yang sok tegar. Jongin yang rusak terlihat lagi.

“setidaknya aku punya tempat kabur. Aku ingin melihat apa saja yang ingin kulihat. Disini rasanya tak ada yang menuntutku untuk menjadi Direktur Umum secepat mungkin, menyelesaikan kuliah dalam waktu dua tahun, mengerjakan laporan financial Management dalam waktu semalam..”

Sebyul meraih tangan Jongin yang menggenggam pagar besi sampai buku – buku jari Jongin memutih. “ibumu pasti menaruh harapan yang besar untukmu?”

“Aku tidak tau. Kadang – kadang sepertinya aku hanya memuaskan hati nya saja, atau menunggu aku dimaafkan atas kesalahan – kesalahan sepele.”

“kau miskin harapan, Jongin. Kau tidak punya rencana atas hidupmu sendiri sehingga kau menjadi bagian dari rencana orang lain.”

“benarkah?”

Sebyul mengangguk sambil memainkan jari kelingking Jongin, ia menarik tangan Jongin untuk menengadah ke udara. “Kau harus buat rencana dan harapanmu sendiri dengan tanganmu.” Ia menggoyangkan tangan Jongin, kemudian tersenyum.

Jongin menatap lekuk senyuman Sebyul lalu ia terpesona sendiri. Tanpa sadar ia merengkuh pinggang Sebyul lalu meletakkan dagunya di atas bahu gadis itu. Sebyul sendiri tidak merasa aksi ini asing baginya.. ini bukan yang pertama kali Jongin melakukan kontak fisik dengannya. Mereka pernah melakukan yang lebih jauh dari ini.

Dan juga, Jongin terlalu rapuh bagi Sebyul saat ini. Tak ada alasan untuk tidak memeluknya.

Jongin mendongak dan kembali menatap Sebyul dengan perlahan – lahan memajukan wajahnya. Ia tidak sabar merasakan euphoria yang menyenangkan yang akan melandanya. Perasaan terbebani dan risaunya hilang mendadak ketika Jongin mencium bibir Sebyul, tergantikan oleh hal yang membuat Jongin tertarik pada Sebyul—jiwa bebas gadis itu. Tangan Jongin merengkuh pinggang Sebyul semakin dekat seolah takut gadis itu hilang dari sisinya dengan ujung jari Jongin memainkan lipatan kelim sweater cokelat Sebyul. Dan Sebyul menarik napas.

“Aku akan menciummu begini saat pernikahan nanti.” Gumam Jongin begitu lirih setelah melepaskan ciumannya.

Sebyul masih mabuk oleh perlakuan Jongin tadi sehingga ia tak bisa focus mendengar kata – kata Jongin. “Apa?”

“Bukan apa –apa. Aku hanya berkata kalau bintang malam ini indah.”

Sebyul berkerut bingung lalu menolehkan wajahnya menatap langit malam yang mendung. Ia tak melihat ada bintang satupun disana.

 

TBC

 

 

 

 

 

Advertisements

138 thoughts on “[9th] DESIRABLE”

  1. me first ????? or no ???? well well well bukankah ini rencana perfect dari tuhan semua’a serba connected dan Jo lu emang ROCK banget sumpah emak Jongin lu maki good job girl 😀 and i knew the meaning behind those smirk you kim fucking jongin !!!!!! udah nikahin aja kalo perlu paksa ato ngga deng kan sama2 suka biar emak lu jantungan

  2. dan penasaran dgn arti cafune jadi nyari dan dapat’a lah bahwa cafune itu “the act of running your fingers through your lover’s hair” so u want to do that jongin ???

  3. Ahhhh senengx sma clue ny..brrt bakalan ad kasus bru kan hahaha sebyul dlm mslh nih..tp ad jongin kan….

    Penasaran sma reaksi ibux jongin sma clara klo tw jongin nikahin sebyul hahaha

  4. Cuma mau tanya ini fa:
    1. Sebyul nya gak hamil diluar nikah kan/?
    2. Xiumin mau jd siapa disini? Bukan jd selingkuhannya clara kan? :3

  5. may gawwdddd..Jongin keliatan labil ya, satu sisi mau ngejar hidup yg dia mau, tp sisi lain masih berat ke ibunya..aduuh, tapi melted abis-abisan sm Jongin di chapter ini, he’s too good to be true :”) sampai ketemu chapter depan!

  6. awawawaawaqwawawawawawawawww kaaaakkkk ♥♥♥♥♥♥♥ jongin kaaaak ♥♥♥♥♥♥♥♥
    can’t describe. this story is just too niceeee

  7. Kyaaaaaaa makin deket aja nih…..kalau nyonya kim tau wah pasti bakalan ada perang dunia ke 3 nih 😀 apa lagi kalau sebyul tinggal bareng jongin terus nikah wah makin murka aja NY.kim dan yg pasti semakin rame masalah hidup sebyul kedepannya….wkwk
    Ifa makin keren aja jalan ceritanya gue suka ❤
    Nextnya selalu di tungguuuuu!!!!!!

  8. pasti jongin nikah sama sebyul. dan ibunya ga bakal tinggal diam hahahaha. nice thoooor, next yaa 🙂

  9. kapan mreka bkal nikah.. apa sebyul cuma d jadiin taruhan aja ma jonhin n kk nya utuk mnaklukan ibu mreka???

  10. kapan mreka bkal nikah.. apa sebyul cuma d jadiin taruhan aja ma jonhin n kk nya utuk mnaklukan ibu mreka???
    fighting

  11. dan kenapa kalimat yang terpatri begitu jelas diotakku adalah ‘dia tidak buruk diranjang’

    meh.. -_- salahkan hormon sy yg tak terkendali *istighfar*

    betewe, itu Jongin berencana menikahi Se Byul??? Daebak!!!!

  12. Sebyul dalam keadaan gawat tuh,gimana kalau ibu jongin tahu,gak kebayang reaksinya seperti apa 😀
    Jongin nyuruh luhan buat bawa sebyul ke apartment nya ya,*So tahu 😀
    Xiumin??Apakah dia mata2 clara?Jadi penasran klnjutannya 🙂

  13. tinggal berdua di apartemen jongin dan mereka akan nikah.. yeay!! :)) aku ngga bisa komen jelek soalnya aku ngga bisa bikin cerita yang sebagus ini 🙂 semangat ka ifaa ^^

  14. Kai married wkwkkw jd oerang dunia neraka nih IBU nya jongin sama sebyul ..
    Weh adek nya main tinggalin sebyul gtu aja wkwk
    Luhan jd super hero disini yeah wkwkwk
    Ngapain tuh kai berduaan naaa jgan main” yaa belom saat nya

  15. Nanggung bangettttt ini >< aku udah jingkrak2 dikamar kkk~ " Jongin ingin menguji ketahanan wanita ini. Dia
    juga cantik. Tidak buruk juga di atas ranjang." lol aku ngakak baca yg itu, duh jongin pesona mu ituloooo jadi tambah cintaaa sama kamu:*

  16. yyahhh kumat dech tuh si jongin 😀
    aahhh gak sabar mereka bakal nikah,,, lama2 aku suka sama miraki yaa orangx somplak tapi bagus bnget 😀
    seneng dech,,,
    semangat yaa buat author nim 😀
    secepetnya di publish lagi 😀

  17. Kak ifa makin bagus aja si bikin ff nya❤️❤️❤️❤️
    Aaaah chap selanjutnya udah ada marriage lifenya nih cihuyy ahahhaha. Oke fix komen aku gak mutu banget-,-v udahlah yaaaa intinya penjabaran kamu bagus bangetttttttttt. Berasa lg nonton eptipi:-D

  18. asli geli sendiri baca yang pas bagian di kereta itu ._. hue yang di apartement itu >< lupa kalo misal si luhan ntu tetanggaan sama Jongin -,-
    chap 10 cepet cepet di publish deh ya..
    fighting^^

  19. woowww, ga sabar sma ceria selanjutnya.
    kyknya clara itu kejam deh, pkoknya clara ga bleh nikah sma jongin. sebyul aja yg nikah sma jongin..
    ga nyangka trnyata hojung ada hub sma kai dkk. pkoknya keren ff’a, di tunggu posting selanjutnya..

  20. kyaaaa tuh kan bener clara lee heunggg jongin enak bener dikelilingi cewe cakep. kasian sebyul:( itu kalo di real nya pasti beneran menyedihkan banget aku ga kuat ngebayanginnya:( untung ada malaikat item si kim jongin jadi sebyul sekarang bisa sedikit lega.
    next chap pasti lebih tegang lagi nih apalagi kalo mamanya jongin dipadukan sama clara beuh sebyul i feel bad for you.
    Keep writing thor! hehehet

    1. …tapi aku ngrasa sebyul masih belum menderita disini ._. semoga kamu kuat baca chapter2 selanjutnya dg sebyul yg lebih menyedihkan ya ^^
      makasih yaaa yehet!

  21. yah yah yah mulai berduaan deh diapartment omooooo :0 ncnya dikit aja thor soalnya aku masih 17thn blm 18 jadi kalo diprotect aku ga bisa baca 😦 jangan2 jongin nikah sama sebyul tapi kalo nikah pasti claranya kejam&licik bgt deh apalagi ibunya tapi gpp malah makin seru ffnya hahha palingan sebyul tinggal diapartment sijongin.. ratingnya jangan diturunun thor tetep segini aja kalo diturunin malah aneh ceritanya hehehe. miraki kasian deh punya gangguan mental gitu, udh dijelasin atau blm ya thor knp miraki punya gangguan mental soalnya aku ga ngerti hehehhee.

    semangat thor untuk nulisnyaaaaa \m/

    1. iyaa aku ga masukin nc detail kok disini, kalaupun ada adegan eksplisit pasti aku protect 🙂
      aku rencana bikin oneshot miraki & gdragon sih buat jelasin kenapa dia sampe begitu. tapi ya gatau nanti XD

      1. skinship aku masih bisa baca cuma kalo udh nc dibuat scr tersirat aja kalo mereka udh melakukan gitu /? hehehehe kalo diprotect aku ga bisa baca :(. kalo author ga ada waktu luang buat nulis oneshotnya gd&miraki dibuat prov aja kaya misalnya pas miraki lagi kepsikolog dijelasinnya. maaf ya thor ini bukan ngatur tapi cuma saran aja hehehehe maaf ya thor udh bawel. makasih \m/

  22. ciya makin so sweet aja ni jongin and sebyul.aku bertanya-tanya ni thor gimana c perasaannya mereka berdua?
    apa nantinya jongin nikah hanya untuk buat ibunya marah?apa jongin sanggup melindungi sebyul?ah penasaran…
    next nya y thor,ceritanya makin bagus….

  23. jongin semoga nikah sama sebyul.. aku setuju banget kalau mereka berdua sampai nikah..
    keep writing ya authornim… ditunggu chapter selanjutnya..
    jangan lama lama ya …
    JJANG!~

  24. summmpaahhh makin kerennnn dahh crtany…ga nyesel nunggu lama…smga sebyul jongin nkah n ibuny dtentang abis2an….

  25. Aaaah sebyul ngapain berduaan sama jongiin miin? Tp aku masih bingung kenapa sebyul mau aja ya dicium jongin.. dia sebenernya punya perasaan sama jongin ga sih min?
    Maunya jongin nikah sama sebyul biar konfliknya banyak min jd kan part ffnya juga banyak hehe..
    Aku suka bgt sama ff ini miin
    Lanjut yaaa 🙂

  26. Baru bisa komen terakhir baca part yang ada di ff indo, sempet nyari eh ternyata dikasih tau di bawah ceritanya 🙂

    si jongin pasti nikah sama sebyul, reaksi ibunya jongin pasti ngak jauh ya nentang gitu deh

  27. Aaakkk.. aku hampir lupa sama ff ini. Sempet mikir judulnya dulu pas mau searching. Wkwk
    Apakah ibunya sebyul masih hidup? Kalo iya, sudah pernah bertemukah mereka walaupun tidak saling mengenal? Xiuminkah mata-matanya clara? Feeling aku sebyul tinggal di rumah eunji sampai dia dapet apartemen baru. Soalnya kalo di apartemen jongin… ah tidak tahulah saya wkwk hanya author yg tau jawaban semuanya.

  28. Uwaaa daebakk. Nc lg dong faa *apa xDD
    Aku senyum senyum sendiri ngebayanginnya. Jd aku dapet bocoran nih kalo Jongin pastinya nikah sm Sebyul bukan Clara tapi konfliknya ada di Ibu Jongin sama Clara. Iya kan?
    Nanti ada ncnya lagi dong tp di protek :v
    Aku greget masa duuh next part kalo bisa secepatnya

  29. jongin beneran jadi nikah sama sebyul??? semoga deh hihi
    ibu jongin ntar pasti nentang kan
    jongin sebenernya ada perasaan gak sama sebyul??
    next chap ditunggu~ ^^

  30. huehh.. keren gatau mau coment apalagi :3 karakter tokohnya kuat banget dan emang karakter tokoh yang kayak gitu yang selalu pengen aku cari kalo baca beginian 🙂 sweet moment jongin sebyul nya tambahin lagi dong author pelish(?) hehe di tunggu next part nya 😀

  31. wow kyakx bakalan ada yg mo nantangin monster betina nich……n mo ada jg yg harus rajin ke psikiater…. 😉
    wah Sebyul ternyata dah mulai terbiasa nich kontak fisik ma Jongin……peringatan buat Sebyul: BERBAHAYA….. 😉
    penasaran bgt nich ma next chapx…..apa Jongin bkal beneran berani nikahin Sebyul….????
    d tggu next chapx…..klo bs jgn lama”……hehehe 😉 #mianmaksa

  32. well, well, sebentar lagi maried nich 😀
    btw, aku udah komen di part 8 berkali-kali tapi gak tau kenapa selama itu pula gagal terus komen aku. mungkin jaringanku kali ya? 😀
    jujur, di part ini ada bagian yang aku gak ngerti, gak paham.dan aku rasa, kalimatnya terlali singkat, but it’s oke, ditunggu review nya 🙂

    1. wah mungkin dari server nya kali ya soalnya aku juga ga ngerti kalo komen2 error gitu darimana asalnya 😮
      gak paham dibagian mana? maaf ya soalnya memang belum diedit, siih. *bow*

      1. iya mungkin ya. padahal aku udah kirim bolak balik itu.

        itu di bagian sebyul masuk ke apartemen jongin, terlalu singkat klo menurutku, jadinya agak gmn gitu. meskipun mungkin klo dipaksa aku masih bisa paham tp ttp gak enak aja rasanya.
        oke, 🙂

  33. Luhaaaannn… akhirnya kamu nongol juga. sebenernya bias utama bukan luhan, tp paling seneng klo ngebayangin luhan yg gentle ky gini di ff >..<

    Nikahnya sama sebyul ya kynya. klo mau plot twist, sebyul ama luhan aja. haha.. *pembaca yg semena2 nentuin alur* XD

  34. Sebyul, u nambah musuh ja. Nanti pasti ibuna jongin ma clara bersekongkol bwt misahin dy ma Jo. Miraki knp jd kyk gt? Suamina kmn? Kira2 mata2na clara cpa ya?
    Apa sebyul nanti mw diajak nikah ma Jo?

  35. Suka bgt ama chapter iniiii>< byk sebyul-jongin momentnya hehehe suka alurnya bgt deh. gak sabar buat baca pas udh sampe marriage lifenyaa hehhehe semangat terus buat lanjutin ffnyaaa

  36. aaaaa ifa chapter ini paling suka❤
    akhirnya luhan muncul juga walaupun sebentar. punya firasat buruk deh aku soal ibu nya jongin ke sebyul apalagi kalo sampe tau jongin punya rencana mau nikahin sebyul. dan untungnya miraki ga buruk buruk amatlah sifatnya. dan malah mendukung jongin sama sebyul. yang katanya clara punya mata mata buat ngawasin jongin kayanya ada di sekelilingnya si temennya junhong deh._. aduh chapter selanjutnya mudah mudahan aja masih sama kayak yang ini ya. ada banyak moment sweet jongin sebyul. gatau kenapa aku suka aja liat jongin pas sama sebyul hihi. ditunggu chapter 10 nya ya ifa☺

  37. Well, I thought u should go marry sebyul, jongin-ah. Bakal seru itu nanti wkwkwk apa yang akan dilakukan sang ratu antagonis xD
    Udahh tinggal diapartemen jongin ajah hahahaha
    Hubungan mereka berdua emang membingungkan ya.. kekasih engga mau bilang sahabat kok ya engga juga.. hahahaha
    Next chapter ditunggu

  38. Ugh, damnit! I got some trouble here -_-
    yah eonnie, komen aku ngapa kali ngilang mulu. Ish!

    But anyway.. Talkin bout this ff.. Aku rasa bahasanya agak halus sekarang. Ini cuma perasaan aku aja atau eonnie emang lakuin itu? Hehe

    n bout kai-sebyul. I dunno wt to say. Mereka.. Makin intim, malah gk canggung banget! Its simply great! Wow padahal mereka bru saling kenal. Tpi udah sticky kya gitu. Wkwkwk

    oh, 1 more. Itu.. Miraki n GD? Apa hubungan mereka? Aku sempet shock pas baca ada nama kwon jiyoung muncul. Seems he’s gonna b new cast here. I hope so ^^

    ayayay do u feel bored? My comment is long -_-
    errr.. My wild imagination is annoyin sometimes. Aku slalu mikirin aneh2 tiap baca ff ini. Ouch i must control it

  39. Akhirnya!!!!! Jongin sebyul bentar lagi selangkah lagi rencana jonn nikahin sebyul jadi kenyataan. Hahaha elahh paling emaknya jantungan terus menghalalkan segala cara bikin sebyul jatoh. itu mata2nya clara siapa ya? Author buruan publisnya yah gue tungguin setia nungguin. :* yehet!!

  40. Udehhh nikahin ajaaaaaaaa, ya pasti sm sebyul yak. Mata2 clara si luhan ye? Hidupnya si sebyul menyedihkan ya, itu jongin ga sadar sm perasaannya atau takut sm emaknya yaaa

  41. Aak! Jongin si hitam pesek berani beraninya membawa sebyul kedunia suramm. Huff, sebaiknya aku komentar apa? Aah Sebyul pasti akan baik2 aja kok dia kuat dan ada Jongin kan ya yg bakal melindungi. Aku bener2 takut sama ibuknya Jongin. Aaaaaaa nextnyaa ayoooooo *cium authornya seribu kali*

  42. Yaampun kak kenapa disini org”nya pada miris. Haha
    Kasian kai sama sebyul, semangat ya kalian kuat kok :’)
    Kalian pasti bersatu.
    Next chap sangat,sangat,sangat ditunggu :))

  43. Oh My ….
    it’s hurt me. Romance scenenya dapet bgt feelnya~
    Ya. Sebyul jdi seseorang yg membangkitkan harapan Jongin. Sekaligus Sebyul jdi harapan sesungguhnya Jongin.
    Nunggu dirty romance scene Jongin-Sebyul di apartemen Jongin.
    Pesona pasangan ini nggak ada habisnya..
    sukses buat author :))

  44. Makin bikin penasaran dohh uu
    sampai kpn jongin-sebyul menutupi perasaan mereka yg sebenarnyaaa
    Ayoayo update soon okeoke

  45. Bakal ada badaiiii, ibu jonginnn bakalan ngamuk tuhh, mereka makin intim aja,ciyeeee..
    Wahwahwah jongin mau nikahi sebyul ? Penasaran next chap.nya. Ditungu lanjutannya..
    Keep writing:)

  46. Itu ibu kandung apa ibu tiri nya jongin sih? Jahat banget -_-
    Sipp, sekarang jongin udah punya rencana di hidupnya yaitu nikah sama sebyul yeaaahhh hahaha 😀
    Ditunggu next chap nya. Keep writing! =]

  47. Oh Jo Sebyul keren banget ngelawak emak jongin wkwkwkwkek
    Aku ship jonginsebyul……please for next chapter, more skinship dr mereka berdua dan cepet2 musnahkan si clara ya hehehehe
    dan buat jongin nyadar kalau emg dia suka sm sebyul……..

  48. duh ga sabar banget pengen jongin cepet cepet kawinin sebyul >< tapi yg pasti harus ngelewati cobaan dulu kan

  49. udah sich nikahin aja,, keliatanya sama” demen tuch
    bikin emaknya jong in jantungan aje dech wkwkw
    seru bgt thor keep writing,, ditunggu chapter 10’y 😀

  50. AHHH SUKA BGT SAMA ENDINGNYA WKWKWK
    Jongin nikah sama sebyul aja plsssssss
    Mereka tuh semacam jodoh gitu wkwk
    Cucok bgt dah pokoknya wkwkwk
    Next chapternya ditunggu bgt yaah ehehe

  51. ayoo jongin-sebyul nikah…
    trus jongin jd lebih berani bwt nentang eomma’y yg diktator ituh….
    dan biar tmbah seru,noona’y jongin jg bantuin jongin-sebyul….^^

  52. omg…., gatau hrs ngomong apaan
    pokok nya kai sm sebyul hrsbnikah gatau kawin lari atau apaaan suka bgt hihihi

  53. huaaaaa author-nim so sweeettt…pengen nangis rasanya*lebay* bagus bgt feel nya dapet bgt….makin penasaran pake bgt…. ayo update nya yg cepet y ahehheheeh/maunya/
    keeep writing!! i’ii waiting your fanfic… 😉

  54. Tiap bcq adegan romantisnya sma skinship , hati t asa dagdigdug seerrr gt yah hahahqhha . Berhrp skinshipnya nambah gtu ? Wkwkkwk *yadongnya munculkan x.x

  55. seneng banget sm karakter sebyul yg bebas tp bertanggung jawab.. senyum senyum sendiri pas baca bagian josebyul-jongin hahaha ♥♥♥ gatau deh harus komentar apalagi. Daebaaaakk ff-nya, ditunggu chapter selanjutnya. Jgn lama lama kalau bisa

  56. hubungan mereka makin manis aja tapi juga membahayakan khususnya sebyul
    ibunya jongin terlalu mengerikan termasuk clara apa jongin bener bner niat pengen nikahin sebyul seperti permintaan miraki gimana reaksi ibunya ma clara ntar pasti seru dan menegangkan
    gk sabar nunggu kelanjutannya

  57. Sblomnya, maap bgt soalnya aku baru comment di chapt ini dari chapt 7 T_T
    Aku bacanya telat._.

    Keren banget thor ffnyaaa !! Aku suka
    Alurnya kayak gak ketebak gtuu..
    Udh gtu konfliknya greget banget lagi…
    The best lah
    Next 🙂

  58. KYAAAAAAAA!! Akhirnya update dan akhirnya…..ya ampun antar sweet dan gantung dan…akhhh pokoknya chapter ini bagus. Usahain updatenya jangan terlalu lama ya eonni mwahhh :**

  59. Aku baru nemu ff ini dan om my God…. i like it!!
    sebyul jongin kalian buat aku gilaaa. author kau membuatku menjadi penggemar mu xD
    lanjut thor. ga sabar baca lanjutannya maaf aku baru komen di part ini soalnya tadi baca lansung dari part 1 – 9
    uhhhhh i can’t wait for jongin-sebyul’s wedding ^^ wjwkwk

  60. Baru nemu ff ini dan oh my God!! aku suka bangeettt!!!!
    author kamu berhasil membuat saya tergila gila dengan jongin sebyul. ayo buat mereka menikah dan malam pertamanya itu ayo tunhukan /apa
    wkwkwkw next thor!!
    sorry aku baru komen disini soalnya tadi asik baca dari part 1 xD

  61. ayoook ayoook lah jongin nikahin aja
    suka sama ini ff alurnya tuh mengalir pelan pelan dan santai
    enak bacanya

  62. eaak jongin eaakk maafkan saya baru muncul *gaada yang nunggu juga keles* mbak tau gemes gasih itu kisseu yang dikantor ugh! udah tegang bacanya ah elah malah gajadi. jongin sebyul buruan nikah kek gemes hih. udahdeh buruan di post chap selanjutnya ditunggu ya mbak yaaa

  63. Aishhh jinjjaaaaa ending chapter ini romantis bgt! Unnie hrs tanggung jwb aku penasaran sm lanjutannyaaa. Cpt di publish ya unnie, pgn tau marriage life nya mereka. Aku fansmu bgt thorrrr! Author jhang deh pokoknya

  64. annyeong faa..
    whooaa, aku telat update an desirable’nyaa 😦
    but this too….ahh gimana yah ngomongnya, the best for the best lah epep kamu yg ini #karena jongin juga tentunyaa 😀
    Oke, next chap ditunggu yaa..#banyakin NC’nyaa, bwuahahaa *epil laugh*

  65. Yah eonn, telat banget bacanya -__- itu si sebyul berani banget sama emanya jongin, mentalnya kuat banget dia..
    Jongin, engga nahan sama pesona dia, itu part terakhir, njiirrr bisa2nya dia ngomong begitu, cie pan kai suka sama sebyul, sebyul suka juga pan sama kai? Banyakin moment kaibyul dong eonn, greget banget liat mereka..
    Oke next chap fighting eonn, betewe, sekali lagi makasih buat pw chap 3nya, makasih banyak, fighting eonn^^

  66. Yah eonn, telat banget bacanya -__- itu si sebyul berani banget sama emanya jongin, mentalnya kuat banget dia..
    Jongin, engga nahan sama pesona dia, itu part terakhir, njiirrr bisa2nya dia ngomong begitu, cie pan kai suka sama sebyul, sebyul suka juga pan sama kai? Banyakin moment kaibyul dong eonn, greget banget liat mereka..
    Oke next chap fighting eonn, betewe, sekali lagi makasih buat pw chap 3nya,, makasih banyak, fighting eonn^^

  67. itu nanti si sebyul ga diapa2in kan ama emaknya jongin atau clara?
    Well, kakaknya jongin ngingetin aku sama sosok kakaknya goo jun pyo di bbf
    aduh si kiko jadi ngingetin ama bang jidi
    jadi jongin udah punya niat nikahin sebyul belum? Hahaha

  68. GOOODDD
    Kyyaaakkk

    Sumpah masih tak sanggup berkata22

    Akhirnya Kai punya niat nikah sama Sebyul
    hahahaha

    Dan yang kocak itu Luhan
    bisa2nya dia dengan santainya menggiring (?) sebyul ke kamar Kai
    kakakaka

    Mana si sebyul pake acara lupa sama 1 fakta tentang apartemen siapa yang ada disebelah Luhan lagi
    buahahahaha

    konyol 😀

    Keep writing kakak

  69. Sayang sekali jongin kurang berani ngambil resiko. Satu sisi jongin berat ke ibunya, satu sisi lagi jongin ingin bebas. Tapi serius jongin disini bikin greget! Awawawaw ^^
    I’ll waiting for the next chapter ^^

  70. Ya ampun salut dh sm sebyul yg onybkeberanian tingkat tinggi bgtzz wat bentak ibunya jongin yg angkuh itu…
    jongin klw km mlai ad rasa udh km nyatain ajj knp mesti gengsj gt sihh, perlakuan km itu udh nunjukkin klw km ska sm sebyulll..
    itu part akhirnya so sweet bgtzz kiss kiss di balkon ditemani bulan dan bintang yang bercahaya…
    itu jongin mw ngikutin saran dr kakaknya utk nikahin sebyul??
    aaaaaaaa pnasaran pngn cpt2 mw bca ke chapter selanjutnya…

  71. Aihhh semuanya serba kebetulan banget, mungkin udah rencana tuhan buat jongin sama sebyul, suka deh sama ceritanya, di lanjut yah jan lama”

  72. Kyaaaaaaa ini ceritanya nggak bisa ditebak samasekali thor!Dan aku selalu suka sama percakapan antara sebyul dan jongin yang bikin gregetan.. oiya, two thumbs buat miraki kim yang sumpah- keren buanget deh…
    wkwkwkwk btw thor aku reader baru, ehehehe… baru nemu tadi karena iseng2 obrak-abrik ffindo n kecantol ama ni ff jadi bacanya ngebut dari chapter 1 n sorry baru bisa komen di chapter ini. tapi next chapter aku janji bakal komen… keep fighting ya thor!!!

Leave a Reply :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s