[13th] Telepathy: End of the War (Session 2)

 

[13th] Telepathy: End of the War (Session  2)

postt1

AUTHOR               : IFALOYSHEE

 

MAIN CAST         : Krsytal Jung/Jung Soojung/ Klee-nickname, Choi Minho, Lee Donghae, Cho Hara (OC), Kim Myungsoo, Kang Jihyun/Soyu, Choi Sulli, Park Jiyeon.

 

GENRE                  : Fantasy, Romance, Supranatural, Sci-Fi

 

DISC                       : All of this story  from now on, are pure from my Imagination. Dont like the pairing, better you dont read. The casts are belong to their fans. Except Cho Hara, she is an Original Character. Just belong to me. Dont ever copy my idea, or copy this story. If you want to reblog this, or copy this, just ask me first and credit me.

 

PS                                : Banyak kata kasar dan bloody scenes!

 

***

 

24 hours. 24/7. 2 gone 4 eternity. (twenty four hours. 24 July. TO gone FOR eternity)

 

Meaning:

 

1.       Tanggal 24 Juli adalah waktu terakhir untuk Krystal menyelamatkan nyawanya sendiri, dalam kurun waktu 24 jam. Jika Minho tidak bisa menyelamatkan Krystal pada tanggal 24 Juli maka Krystal akan pergi selama-lamanya. Termasuk Hara juga akan pergi selama-lamanya (2 gone)

2.       Jika di tanggal 24 Juli itu Minho bisa menyelamatkan Krystal, dan Donghae bisa menyelamatkan Hara (dalam hal ini jika Krystal/ Hara mati maka keduanya akan meninggal) maka ada 4 nyawa yang sudah pasti terselamatkan.

 

***

           

 

You think can escape from your death that easy, Klee? Life isn’t your follower.

 

 

[SESSION 2: KRYSTAL JUNG-CHOI MINHO]+ENDING

 

At Seoul City, breaking twilight.

 

Taksi masih melaju di jalanan riuh Seoul, memecah cahaya remang-remang menjelang malam. Langit mulai gelap dan mendung, membawa gerimis kecil turun membasahi salah satu kota tersibuk ini.

Krystal duduk bersandar di dalam taksi, tepat di jok belakang kursi pengemudi dengan wajahnya yang terus menghadap ke jendela. Jari-jarinya menyentuh jendela taksi, mengikuti aliran air yang mengecap di balik jendela.

 

Ia melirik jam digital di bagian depan kemudian menghela nafas. Apakah hidupnya akan sesingkat ini?

 

Krystal sungguh tidak mengerti kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau hari ini adalah hari kematiannya? Apakah tidak ada belas kasihan untuknya? Ia ingin kesal, tapi untuk kali ini tidak bisa. Karena, Krystal tidak ingin saat-saat terakhirnya ia habiskan untuk kesal pada orang – orang. Ia tidak mau.

 

Tiba-tiba handphone-nya bergetar. Krystal meniliknya. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat telepon tersebut dan mendekatkan iPhone 4 nya ketelinga.

 

“Darimana saja kau? Kenapa tidak mengangkat teleponku sedari tadi? Kenapa handphone-mu baru aktif sekarang?

 

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan oleh seseorang di seberang sana, Krystal hanya tersenyum simpul. Ia baru saja akan menjawab tapi pria diseberang sana menginterupsi lagi, “gwenchanayo?”

 

Krystal menarik nafas.

 

“Aku baik-baik saja.”

 

Pria disana terdiam. Ia bersyukur sekali bahwa gadis yang sedari tadi ia khawatirkan itu ternyata masih bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja. Setidaknya dengan mendengar suara Krystal saja pria itu sudah tenang sekali.

 

“Minho?”

 

Pria itu, Choi Minho masih terdiam.

 

Oke. Aku ada di dalam taksi sekarang, menuju apartemenku. Dan tadi ada sedikit perbaikan jalan jadi lalu lintas agak terganggu, tapi sekarang sudah lancar kok. Paling tidak dua puluh menit lagi aku sudah sampai.”

Krystal bisa mendengar kalau Minho sedang menghela nafas lega saat ini. “Maafkan aku… aku terlalu banyak meneleponmu hari ini. Aku kira kau kesal, aku.. aku hanya khawatir denganmu.

Arasseo. Apakah kau akan menyusulku?”

“Tentu. Tapi aku sedang dikantor saat ini, mungkin akan cukup lama mengingat jarak kantor dengan apartemenmu cukup jauh.”

Gwenchana. Tidak usah terburu-buru. Aku akan menunggumu.”

Krystal menutup telepon terlebih dahulu. Ia tersenyum manis dan kembali menatap ke arah luar,  kali ini ia menatap ke depan. Krystal melirik pengemudi taksi lewat kaca spion dan ia langsung menegakkan posisi duduknya begitu mendapati pengemudi tersebut terkantuk-kantuk.

Krystal hampir saja melompat ketika pengemudi itu dengan lalainya melewati lampu lalu lintas yang menyuruh kendaraan untuk berhenti. Alhasil Krystal hanya menggenggam jok depan dengan erat dan menolehkan kepalanya untuk memantau kendaraan yang lewat dari arah berlawanan.

AHJUSSI!!”

Reflek Krystal berteriak ketika sebuah truk barang muncul dari arah berlawanan, dengan kecepatan tinggi truk tersebut semakin dekat dengan taksi yang ia naikki sekarang.

Panik, ia menepuk pundak pengemudi taksi tersebut dengan keras hingga tersentak. Tidak kalah kagetnya dengan Krystal, pengemudi itu membelalakkan matanya shock dan langsung membanting setir ke arah kiri.

Dalam waktu sekejap saja taksi  tersebut berputar secara vertikal, mendekati bibir trotoar dengan lampu jalanan yang berdiri angkuh dengan cahayanya yang remang-remang karena terkena air hujan. Taksi itu menabrak lampu sebelum akhirnya terbalik sebanyak dua kali dan pintu pengemudi menjeblak terbuka.

Kali ini lampu taman tidak lagi menyala remang-remang, melainkan mati secara total setelah guncangan hebat dari taksi yang menabraknya. Kaki lampu tersebut yang berbentuk besi dengan sedikit berkarat sudah hampir dominan bengkok.

Truk barang yang tadi melintas tidak memperdulikan entah sengaja atau tidak melaju begitu saja seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Krystal tidak menyadari apapun saat kejadian naas itu terjadi, ia hanya seperti melihat cahaya yang begitu terang melintasi retina matanya dan berlalu lalu semuanya gelap. Bahkan telinganya serasa ditulikan tadi. Perlahan kesadarannya mulai kembali datang, sedikit demi sedikit….

Ia bisa mencium bau petrichor—bau tanah setelah hujan-dan rintikan gerimis yang terasa di permukaan kulitnya. Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya terbuka dan melihat langit gelap yang menurunkan air hujan. Dan saat itulah ia baru sadar kalau tubuhnya terlentang di atas aspal, dan kepalanya sedikit pusing.

Ia terbangun dari posisi terlentangnya dan duduk di atas jalan yang sepi ini. Sebelah tangannya reflek menyentuh keningnya ketika tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut sakit. Matanya membelalak kaget ketika melihat taksi yang rasanya baru beberapa menit yang lalu ia tumpangi itu sudah dalam posisi terbalik dengan bagasi membentur tiang lampu. Kepulan asap keluar dari dalam bagasi.

Krystal menyipitkan matanya bingung. Bingung karena tidak ada sedikitpun luka ditubuhnya dan… ia sepertinya pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, kan?

Rasanya seperti….. de javu?

Entahlah. Krystal masih mencoba mengingat-ingat sambil menolehkan kepalanya ke sekitarnya menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal di sini. Ia sungguh baru sadar kalau suasananya sangat sepi. Tidak ada seorang pun di sekitarnya.

Ini aneh. Krystal bangkit berdiri kemudian berjalan cepat menuju taksi dan… dimana supir lalai yang mengantuk tadi?

Supir tersebut tidak berada ditempat yang seharusnya. Maksudnya, seharusnya jika kecelakaan berlangsung ditempat ini maka supir tersebut juga ada di sekitar sini kan? Tapi anehnya tidak ada. Bahkan Krystal sudah melongok sampai ke bawah dasbor dan kursi tetap saja tidak ada.

Masa sih tiba-tiba hilang?

Ia serasa berada di kota mati. Jalanan yang sepi dengan penerangan seadanya dan tidak mendengar ada tanda-tanda kehidupan, rumah dan bangunan lain dibiarkan berdiri sendiri tanpa ada penghuninya. Tidak ada mobil ataupun kendaraan lain yang melintas. Seperti kota yang tidak pernah disentuh oleh kehidupan manusia.

Rasanya seperti hidup di dunia yang lain.

Dan Krystal mual memikirkan hal itu. Ia akhirnya berjalan dengan canggung ke trotoar mencoba mencari-cari manusia yang lain. Tangannya menyentuh sebuah bangunan dengan kaca besar yang di dalamnya terdapat sebuah gaun yang dipajang, ia mendongak dan menemukan tulisan “Myeong-dong Wedding Shop” yang jelas-jelas sebuah judul dari bangunan di depannya ini.

Ia baru saja sadar. Ini Myeong-dong. Demi Tuhan ini Myeong-dong!

Tempat pusat perbelanjaan ramai di Seoul, ralat, yang benar paling ramai. Bagaimana bisa tempat ini menjadi sangat sepi? Pasti Tuhan sedang bercanda saat ini. Namun kenyataannya tidak ada siapapun yang Krystal temukan di sini selain benda-benda mati di sekitarnya.

Masih terdiam dengan sebelah tangan menyentuh kaca besar tadi, tiba-tiba terdengar suara ketukan high-heels yang terdengar semakin jelas. Krystal hampir saja bersujud syukur, menyadari ada tanda kehidupan setelah ia hampir menangis karena ketakutan.

Ia menolehkan wajahnya dan menemukan seorang gadis berdiri tidak jauh darinya. Gadis dengan rambut blonde dan kacamata hitam mengenakan tanktop dan celana jins yang ditutupi oleh jaket hitam sepanjang pahanya. Gadis itu hanya tersenyum samar dan berjalan mendekat, namun berhenti di dekat taksi yang kini terbalik itu.

Krystal seperti pernah mengenalnya… ralat, ia seperti mengetahuinya tapi Krystal tidak mengenalnya dan memangnya siapa gadis itu? Krystal hanya berdiri terdiam dan suasana hening ini berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya Krystal memecah keheningan lebih dulu.

“Oh… Annyeonghaseyo! Uhm—kau tau rasanya senang bisa.. uhm—menemukan orang lain.. eh… Ne, maksudku sedari tadi aku tidak melihat siapapun jadi aku sangat bersyukur kau ada di sini.”

Krystal berjalan menghampiri gadis blonde tadi dan bisa merasakan aroma raspberry menyeruak. Persis seperti bau khas Krystal sendiri.

“Jadi—“

“Krystal Jung..”

“Ah, ne bisakah kau membantu—jankaman… darimana kau tau namaku?” kali ini Krystal mengernyit bingung. Ia yakin kalau gadis ini terasa dikenalnya tapi Krystal juga yakin kalau ia tidak pernah mengenalnya sebelum saat ini.

Gadis blonde itu melepas kacamata hitamnya, meletakkannya diantara jari-jari panjangnya yang kukunya terlihat berwarna ungu muda. Entah karena pucat atau memang warna kuteksnya seperti itu.

“Tentu saja aku mengetahui namamu. Aku selalu mengingatnya.” jawab gadis itu dengan tenang.

Krystal masih terdiam.

“Kecelakaan taksi? Aku tidak menyangka hari ini kau akan—“ lanjut gadis itu lagi.

“Tunggu. Siapa kau sebenarnya?” ujar Krystal menginterupsi perkataan gadis blonde itu.

Gadis itu menatap Krystal sesaat kemudian tersenyum tipis, “oh…” ia berdeham satu kali sebelum mengulurkan tangannya kehadapan Krystal. “Mungkin kau butuh perkenalan.”

Dengan ragu Krystal mengangkat tangan kanannya, dan memandang aneh warna kuteks yang dipakai gadis di hadapannya ini. Namun karena merasa tidak enak, Krystal akhirnya mengulurkan tangannya.

“Ouch!”

Reflek Krystal menarik lagi tangannya ketika menyalami tangan dingin gadis itu. Tidak hanya dingin tapi sangat dingin. Ia mendongak menatap kedua mata sipit gadis itu. “Mianhae.. aku tidak bermaksud—hanya tanganmu dingin sekali, apa kau demam?”

Gadis itu tertawa kecil seolah pertanyaan Krystal tadi hanyalah lelucon belaka.

“Baiklah, Jung. Aku Lee Chaerin. Aku yakin Donghae pasti cerita banyak tentangku.” ujar gadis itu memperkenalkan diri.

“N-nde?” tanya Krystal bingung karena merasa tidak pernah mendengar nama itu dari Donghae.

“CL. Barangkali kau tidak tau kalau nama asliku adalah Lee Chaerin.” lanjut gadis itu seakan mengerti kebingungan Krystal.

Rintik-rintik hujan mulai mereda, langit tidak lagi mendung namun masih gelap seperti sebelumnya. Krystal Jung masih berdiri di kota mati dan masih berhadapan dengan satu-satunya manusia—yang sekarang ia ragukanbernama.. Lee Chaerin dan Krystal masih menganggap hal ini sebuah candaan.

“Siapapun kau, bisakah kau bantu aku?” tidak peduli lagi dengan tangan Chaerinyang dingin itu, Krystal menggandengnya dan menariknya menuju taksi yang masih terbalik itu. Dengan pintu pengemudi yang sudah terbuka dan reyot, kaca yang pecah juga bagian belakang badan taksi yang lebih reyot lagi.

Krystal menunjuk kursi pengemudi dengan jari telunjuknya. “Kau bisa lihat tidak ada supir di sini kan? Tadinya aku naik bersama supir taksi tapi tiba-tiba aku sudah terlentang di jalanan dan tidak menemukan supir taksi itu.”

“Dia tidak hilang.” jawab Chaerin dengan ekspresi datar.

“Tidak hilang? Lalu di mana? Apakah dibawa ke rumah sakit? Kalau begitu kenapa aku juga tidak dibawa ke rumah sakit dan dibiarkan terkapar di aspal, atau karena—“ tanya Krystal bertubi-tubi.

“Sadarkah kau, Jung.. kalau tidak hanya seorang yang hilang melainkan hampir semua manusia di jarak pandangmu menghilang?” tanya Chaerin balik yang tak digubris oleh Krystal.

Tangan Krystal tidak sengaja menggenggam pecahan kaca mobil ketika ia mendaratkan tangannya di pintu taksi yang sudah bengkok itu. “Ouch..” Krystal menarik tangannya dan matanya melebar melihat darah yang keluar dari telapak tangannya tiba-tiba lenyap. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menganggap bahwa hal itu hanyalah halusinasinya dan kembali mendongak menatap Chaerin.

“Tapi aku bisa melihatmu,” ujar Krystal sembari menatap Chaerin

“Kau kan manusia, yeah walaupun ini Myeong-dong tapi aku yakin ada suatu hal sehingga wilayah ini menjadi sepi.” lanjut Krystal dengan nada yakin bercampur kebingungan yang semakin kentara.

“Memang ada suatu hal.”

Krystal hanya tersenyum samar, “sebenarnya.. aku sedikit bingung, kenapa aku tidak memiliki luka apapun. Atau tidak pingsan. Harusnya aku bersyukur karena aku pasti sedang beruntung, tapi itu sedikit… eung… tidak normal kan?”

Chaerin menarik ujung bibirnya, seperti seringaian tapi bukan. Seperti tersenyum tapi juga bukan. “Kau pingsan, Jung. Di sana.” Ia menunjuk ke sebelah kiri ke arah aspal kosong tempat Krystal bangun tadi. “Dan dikerumuni oleh banyak orang. Mereka sedang menunggu mobil ambulan.”

Krystal mengernyit bingung dan menoleh ke belakang, sayangnya tidak menemukan apapun. “Aku berdiri di sini!” ucapnya mulai marah. “Tapi mengapa mereka tidak melihatku sama sekali?” lanjutnya.

“Kau hampir meninggal. Dengarkan aku baik-baik Jung. Dan aku memang benar Lee Chaerin, CL, dan aku sudah meninggal…” Krystal baru saja membuka mulut tapi CL menatapnya dengan sangar. “Jangan menginterupsi. Kau meninggal tapi kau… juga hidup,”

“Intinya, kau berada di ambang batas antara kematian dan hidup.” lanjut Chaerin dengan sabar. Krystal benar-benar terdiam ketika CL berjalan mendekatinya kemudian menarik bagian bahu kausnya, menyobeknya sampai seperempat punggung Krystal terbuka. “Kau tau kan soal tato ini. Jelas maksudnya kalau Donghae bisa menyelamatkan Hara maka entah bagaimanapun caranya kau juga selamat, sebaliknya, jika kau selamat maka Hara juga selamat, itu ramalan pasti, Jung. Dan yang menjadi masalah saat ini adalah… Cho Hara.”

“Dia kenapa?”

“Gadis itu sekarat. Karena Hara lebih dulu sekarat maka kau mengikuti nasibnya. Kau bisa melihatku, karena kau hampir mati. Ingat, hampir. Tapi kau tidak bisa melihat orang lain disekitarmu. Kau tidak tahu kalau tubuhmu yang asli sedang pingsan dan di sekitarmu banyak manusia, menjalani kehidupannya seperti biasa. Tapi karena kau setengah hidup, maka kau masih bisa menapak tanah dan mampu melihat makhluk supernatural. Hanya yang supernatural.” jawab Chaerin panjang lebar.

Seperti terhipnotis oleh perkataan CL, Krystal sangat menyimaknya. Bahkan tidak memprotes kainnya yang sobek.

“Itu berarti… aku tidak bisa melihat Minho?” tanya Krystal lirih.

“Sepertinya tidak…”

Raut wajah Krystal langsung berubah kecewa, matanya menjadi sayu, pandangannya terlihat hampa. Buru-buru CL berusaha mencari kata yang bisa menghiburnya karena ia tau betul bagaimana rasanya, ketika kematian begitu dekat dan menanti di hadapannya.

“Bukan berarti kau tidak punya harapan untuk hidup. Aku mendukung seratus persen hubunganmu dengan manusia bernama Choi Minho itu, Jung. Dan dia pasti bisa menyelamatkanmu. Aku tidak ingin kau menjadi aku yang kedua.

CL menjadi semakin bersalah ketika melihat kedua mata Krystal mulai berair.

“Tapi aku bisa apa?” keluh Krystal pasrah, ia menunduk mencegah CL melihat matanya yang berkaca-kaca. Alih-alih menatap kuteks—atau bukan kuteks?—ungu yang dikenakan CL. Dan samar-samar ia bisa mendengar deru mobil—yang Krystal kira hanya halusinasi saja—tapi lama kelamaan semakin terdengar dan semakin jelas.

Tepat saat Krystal mendongak, sebuah Ferrari hitam terparkir tidak jauh darinya. Baru saja berhenti dan ia baru sadar kalau suara deru mobil tadi bukan sekedar halusinasi, benar adanya. Karena CL tadi berkata kalau yang bisa Krystal lihat hanya manusia supernatural saja, jadi kemungkinan Donghae atau Myungsoo.

Dan turunlah seorang pria dengan kemeja biru dan jeans hitamnya. Pria yang sangat tampan, bahkan dengan rambut cepaknya yang berantakan justru membuatnya lebih tampan lagi.

“Myungsoo..” gumam CL tapi terdengar jelas oleh Krystal, ia langsung menoleh. “Kau bisa melihat Myungsoo?” tanya Krystal. CL mengangguk, “aku bisa melihat manusia tapi manusia tidak bisa melihatku, kecuali kau tentunya. Kau kan lagi setengah manusia.”

Raut wajah Myungsoo terlihat khawatir, bahkan ia berjalan seolah tidak melihat kesekitarnya hanya terfokus pada Krystal dan begitu jarak mereka sudah dekat Myungsoo langsung berlari dan memeluk Krystal secara spontan, seakan tak ingin kehilangan Krystal untuk kedua kalinya.

Rasanya hangat dan nyaman… tapi tentu saja tidak ada yang bisa mengalahkan hangatnya pelukan Minho, bagi Krystal. Myungsoo memeluknya sangat erat, saking eratnya sampai Krystal bisa merasakan degup jantung Myungsoo yang berdetak sangat cepat.

Apakah perasaan Myungsoo masih sama seperti dulu? Entahlah.

“Aku… sangat mencemaskanmu.”

Krystal dan CL bersamaan tersenyum, bedanya kali ini kedua mata CL terlihat berkaca-kaca. Sepertinya ia merindukan Myungsoo, dan bagaimana sahabatnya itu memeluknya. Tapi ia juga terharu dengan Myungsoo yang masih menjaga perasaannya terhadap Krystal sampai saat ini. CL tahu itu karena ia bisa membaca pikiran Myungsoo.

“Oh, maaf.” Myungsoo langsung melepas pelukannya dan baru sadar bahwa ia memeluk Krystal terlalu lama.

“L, kau tau… CL sedang berdiri di belakangmu.” Myungsoo mengernyit lalu menengok kebelakang tapi tidak menemukan siapapun, “dan dia sedang tersenyum saat ini.” tambah Krystal.

Myungsoo menjadi salah tingkah ketika orang-orang disekitarnya memandangnya gelisah bercampur bingung, bahkan menunjuk-nunjuknya dengan tatapan aneh. Jelas saja, Myungsoo baru saja memeluk seorang arwah. Dan pasti terlihat konyol sekali di mata manusia biasa ketika ia terlihat memeluk suatu hal yang tidak terlihat.

Dengan cepat Myungsoo menggandeng tangan Krystal dan menariknya ke sebuah lorong diantara dua bangunan yang terlihat sepi.  Mencegah ada manusia lain yang memergoki keanehannya. CL mengikuti mereka di belakang.

“Klee, dengarkan aku..” tiba-tiba Myungsoo memegang bahu Krystal. “Kau harus cari aman saja, kau memilih bersama denganku dan tinggalkan Minho. Ini untuk kepentinganmu juga, agar kau tidak mati hari ini.” lanjut Myungsoo dengan cepat.

Mendengar itu CL melontarkan protesan dengan Bahasa Inggris—begitu cepat sampai Krystal tidak tahu CL berbicara apa—dan Krystal hanya menggeleng saja. “Harus kukatakan berapa kali sih kalau aku tidak mau.” jawab Krystal tak kalah cepatnya dengan Myungsoo. “Tuh CL saja memprotesmu!” tambahnya.

Myungsoo menyipitkan matanya memandang Krystal tidak percaya, “kau serius? CL benar-benar disini? Kenapa aku tidak bisa melihatnya..”

“Jangan bodoh, L! kalau kau ingin bisa melihat CL, berdiri saja ditengah jalan tunggu sampai ada kendaraan yang menabrakmu lalu kau mati.”

CL terkekeh mendengarnya, sedangkan Myungsoo hanya mendengus.

“Tidak perlu meninggalkan Minho, aku masih bisa hidup! Tentu saja karena Minho akan menyelamatku kan.” jawab Krystal dengan yakin.

Bahu Myungsoo melemas, ia melepas kedua tangannya yang memegang bahu Krystal kemudian menatap lekat mata hitam Krystal. “Arasseo.”

“Sungguh aku baru tau kalau kau kecelakaan. Aku saja baru tau setelah Minho yang memberitahuku, karena dia tidak sengaja mendengar dari radio di dalam mobilnya. Dia sedang terjebak macet jadi dia menyuruhku mengecek keadaanmu. Dia pikir dia siapa menyuruhku seenaknya.” ujar Myungsoo kesal.

Krystal hanya terdiam. Ia tahu kalau sampai kapanpun Myungsoo tidak mau kompromi dengan Minho. Mungkin mereka tidak pernah berdamai sampai kapanpun.

“Tubuhmu yang asli berada di rumah sakit sekarang, ambulan baru saja membawamu.” ucap CL sembari menolehkan wajahnya  ke arah jalanan. Krystal hanya mengangguk dan ber’oh’ singkat.

“Tapi, bagaimana kau bisa tau aku disini? Maksudku… kenapa kau tidak tertipu oleh tubuhku yang asli?”

“aku tidak bodoh, Klee.” celetuk Myungsoo sambil mengangkat kedua bahunya dan terkekeh. “Klee, tanyakan pada CL bagaimana kabarnya, aku sangat merindukannya.” lanjut Myungsoo.

“Dia bisa mendengarmu..” jawab Krystal sembari terkekeh.

“Jinjja? Yeah, tapi aku tidak bisa mendengarnya.” keluh Myungsoo lagi.

Perfectly okay.” jawab CL. Namun jelas tidak terdengar oleh Myungsoo. Krystal langsung menyampaikannya, “dia berkata kabarnya sangat baik.”

Myungsoo hanya tersenyum, cukup untuk menggambarkan kalau ia senang mendengar CL baik-baik saja. Dan tiba-tiba ia berseru, seperti baru ingat akan suatu hal, “oh!”

“Aku memang tidak boleh menyentuh tanda ibrani di punggungmu Klee, tapi aku bisa membantumu untuk hidup. Bukan hidup selamanya juga sebenarnya, hanya memperpanjang hidupmu selama beberapa jam sampai kau bertemu Minho.” Myungsoo merogoh sakunya mencari sesuatu di dalamnya.

“Tapi sesuai dengan arti dari tanda itu, aku hanya perlu memberikan darahku dan mencampurkannya dengan darahmu. Sisanya menjadi bagian Minho. Yeah, aku memang harus mengakui kalau tanpa Minho kau tetap mati, jadi hanya dia yang bisa menyelamatkanmu. Aku hanya perantara saja.” Myungsoo masih merogoh sakunya dan akhirnya ia menemukan benda yang dicarinya.

Myungsoo menghela nafas ketika mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku. Sejenak Krystal memekik kaget, ia masih terpengaruh oleh sikap Myungsoo di masa lalu, terlebih Myungsoo pernah memihak Soyu. Jadi wajar kalau Krystal takut Myungsoo tiba-tiba menusukkan pisau lipat ke perutnya.

Perlahan Krystal memundurkan langkahnya dan melihat Myungsoo memutar kedua bola matanya, Krystal langsung berhenti.

“Kau kira aku rela menjadi pembunuh hanya demi gadis yang sudah-setengah-manusia ini?”

Memang bukan hal yang mengesankan bagi Krystal terhadap kata-kata Myungsoo tadi, dia mengerti itu, Myungsoo berlidah tajam walaupun tidak bermaksud demikian. “Kan aku hanya mengantisipasi saja…”

Myungsoo hanya menaikkan alisnya tidak peduli, ia membuka pisau lipatnya kemudian mengulurkan tangan kirinya. Sedetik kemudian Myungsoo menggoreskan ujung pisau tersebut kepermukaan lengannya, membuat Krystal membelalak shock.

“Ap… apa yang kau—“

“Beginilah cara membuatmu menjadi manusia lagi. Kau tidak tau Klee?” lagi-lagi nada suara Myungsoo terdengar mengejek, “oh, maaf… kau masih makhluk supernatural ya. Mungkin.” tambahnya. Terdengar nada tidak suka saat Myungsoo berbicara kalimat terakhir tadi.

“Sekarang ulurkan tanganmu.”

Krystal masih terdiam sambil menatap darah yang menetes-netes dari lengan Myungsoo, tapi tangannya terulur begitu saja. Setelah beberapa detik berjalan, ia tidak kunjung merasakan sakit di lengannya. Krystal mendongak.

Wae?” ujar Myungsoo bingung, “apa kau keberatan jika aku yang melakukannya?”

Krystal hanya tersenyum, “gwencahana. Lagipula aku tidak mahir menggunakan pisau, siapa tahu lukanya malah terlalu dalam.”

Arasseo.” Myungsoo menggenggam lengan Krystal kemudian tangannya yang lain mengulurkan pisau lipatnya. Krystal menggigit bibir bawahnya ketika permukaan lengannya terasa perih. Kini darah Krystal juga menetes-netes.

“Mungkin si Minho itu sudah mengambil darahku, tapi aku rasa ini menjadi tugasku dan dia hanya perlu menangani yang memang seharusnya ia tangani.”

Krystal tidak mau menanggapi, karena Myungsoo pasti akan berlanjut  memaki Minho di depannya. Ia memilih diam dan mencoba mencari topik lain. “Eh… lalu setelah ini bagaimana?”

Blood must be united.” Myungsoo menempelkan luka di tangannya dengan luka di tangan Krystal kemudian menekannya.

Krystal mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, seperti aliran darahnya mengalir sangat cepat kemudian bergejolak di jantungnya dan beberapa detik kemudian kembali normal. Ia mengerutkan keningnya melihat CL yang berada disebelahnya lambat laun menipis… sampai Krystal mengulurkan tangannya yang bebas untuk menyentuh CL tapi tidak mampu.

Tangan itu menembus.

Kemudian sosok CL semakin menghilang dan sebelum ia benar-benar tidak terlihat, CL tersenyum pada Krystal yang langsung dibalas olehnya.

Ia juga samar-samar bisa mendengar suara bising. Dan suara tersebut semakin jelas, terdengar suara orang berbincang-bincang, kendaraan melaju dan nyanyian ramai pasar malam di Myeong-deong.  Kemudian sedikit demi sedikit muncul manusia yang sedang melakukan aktifitas mereka, berada tidak jauh dengan jarak Krystal berdiri sekarang.

Orang-orang yang tadi benar-benar hilang  kini muncul lagi bagaikan terkena sihir. Dan setelah ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan, wajahnya beralih menatap pria di hadapannya yang masih menempelkan tangannya.

“Semuanya… sudah kembali seperti semula.”

Rasanya Krystal hampir menangis, walaupun ia tahu hidupnya tetap terbatas sampai hari ini tapi rasanya tetap sangat lega bisa melihat kembali kehidupan di sekitarnya. Dan Krystal ingin sekali memeluk Myungsoo untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Myungsoo melepaskan tangannya dan tepat saat itu juga Krystal langsung memeluknya. Sangat erat.

Gomawo… jeongmal gomawo..

Myungsoo tersenyum sangat lebar, tangannya menepuk-nepuk bahu Krystal sesekali mengelus rambut panjangnya.  Dan Myungsoo tahu, mungkin… sampai sekarang dan memang sampai sekarang perasaan itu masih ada. Degup jantungnya masih berdetak tidak normal saat Krystal memeluknya.

Terserah, katakan saja Myungsoo egois atau apa. Tapi ia ingin imbalan. Dan gadis yang ada di pelukannya saat ini yang ia inginkan jadi imbalan atas jasanya.

Krystal berangsur memundurkan tubuhnya—Myungsoo langsung merengut—dan ia tersenyum, “jadi… bagaimana dengan tubuhku yang berada di rumah sakit?”

Tanpa sadar Myungsoo menepuk pundak Krystal. “Hilang secara tiba-tiba karena tubuh aslimu ada di sini, tapi tidak perlu khawatir karena suster maupun dokter yang menanganimu atau siapapun yang mengetahuimu berada di rumah sakit tidak akan mencarimu, ingatan mereka tentang kau di rumah sakit akan menghilang secara otomatis.”

“Kau serius kan?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya.

Drrt…drrrt…

Krystal reflek langsung merogoh saku-nya ketika bunyi handphone-nya bergetar didalamnya, ia yakin pasti Minho yang menghubunginya. Segera ia menempelkan iPhone 4-nya itu ke telinganya.

“Halo—“

“Krystal, gwenchanayo?! Aku terjebak macet, ada perbaikan jalan di sekitar sini jadi lalu lintas terhambat, kau pulang ke apartemenmu, aku akan segera menyusul.”

“Euhm…” Krystal sedang menimbang-nimbang, apakah seharusnya ia mengatakan tentang insiden tadi pada Minho atau tidak. Tapi mendengar nada suara Minho yang terlihat sudah kelewat khawatir sepertinya ia memilih bungkam saja. Ia akan memberi tahu nanti ketika mereka bertemu secara langsung.

“Krystal? Kau baik-baik saja kan?”

Ne—gwenchanayo. Aku tunggu kau di apartemen, Minho-ya.”

“Aku akan mencari alternatif lain. Tunggu aku, okay?”

Ne.

“jaga dirimu. Saranghae.”

Krystal tersenyum manis kemudian menjawab, “Nado.”

Setelah Krystal menutup telfonnya, ia memejamkan matanya kemudian menghirup nafas sebanyak mungkin dan menghirupkannya seiring dengan matanya yang terbuka kembali. Dia benar-benar tidak sadar kalau Myungsoo sedang menatap tajam ke arahnya. Bahkan tangannya mengepal.

“Aku harus kembali ke apartemen sekarang, Myungsoo-ya dan aku pikir kau bisa mengantar—“ Krystal langsung buru-buru merubah keputusannya ketika menangkap kedua mata skeptic Myungsoo menatapnya tidak suka. “Maksudku, aku bisa pulang sendiri. Yah, aku sudah banyak merepotkanmu hari ini.”

Krystal tersenyum kaku kemudian berjalan cepat sebelum lengan kirinya tertahan oleh genggaman Myungsoo.

“Aku masih sangat menginginkanmu, Soojung. Hiduplah dengan… bersamaku.”

***

Crowded ___ road, Seoul City.

 

Audi A6 milih Minho masih stuck di _____-, salah satu ruas jalan Seoul padahal matahari sudah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat.  Sementara itu Minho melihat lepas keluar jendela, cahaya remang-remang malam hari dan ia melihat ke kaca depan lagi berharap mobil didepannya maju. Setidaknya bergerak mungkin.

Holyshit! Setidaknya bisa tidak sih jalanan lenggang dan kosong hanya untuk hari ini saja?! Rutuk Minho dalam hatinya entah untuk yang keberapa kali.

Oke, mungkin sebentar lagi Choi Minho. Macet di Seoul tidak pernah memakan waktu lama, setidaknya selama lebih dari lima belas tahun Minho hidup disini ia tidak pernah mengalaminya.

Tapi… ini sudah berapa jam?

Tidak bisa seperti ini… hari ini waktu bukanlah lagi uang. No more time is money. Hari ini waktu adalah peluang, peluang nyawa. Kekasihnya. Dalam kurun waktu dua puluh empat jam. Ya Krystal Jung tidak bisa digantikan oleh macet sekalipun.

Ia memang harus benar-benar mencari alternatif lain.

Minho masih berfikir saat ia tidak sengaja melihat seorang pria yang duduk di atas motor Ducati nya, pria itu bisa saja meliuk-liukkan motor indahnya dan terbebas dari macet berkepanjangan ini, tapi sepertinya ia lebih  memilih mengacak-acak isi tasnya, mungkin ia kehilangan dompetnya? Atau uangnya tertinggal?

Mungkin akan sedikit mengganggu kalau Minho membiarkan mobilnya terparkir disini, tapi akan lebih mengganggu lagi kalau Ia kehilangan kesabaran dan menabraki semua kendaraan didepannya?

Memilih opsi pertama, ia bergegas turun dari dalam Audi nya dan menghampiri pria yang—sepertinya—kehilangan uangnya itu dengan motor Ducati nya. Ia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan motor itu, membayarnya dengan harga original-nya saja bisa. Jadi… why not?

***

At Myeong-deong street, twilight.

Krystal merasa situasinya tidak begitu baik saat ini, seharusnya ia sadar sejak tadi kalau Myungsoo pasti meminta imbalan. Ia saat ini hanya berdiri diam menatap Myungsoo yang berada beberapa meter didepannya, anak-anak rambutnya bergerak tidak beraturan diterpa angin malam.  Suasana riuh Myeong-Deong terdengar jelas dibelakangnya.

“Aku minta maaf… mungkin seumur hidup aku berhutang jasa padamu, tapi aku tidak bisa memberi imbalan sesuai yang kau minta.”

Rasanya sangat bosan mendengar penolakan dari mulut Krystal, tapi nyatanya Myungsoo masih belum menyerah. “Aku ingin menentang takdir sial ini.”

Aniyo.. kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku, seseorang yang bisa mencintaimu tanpa adanya syarat, dia pasti ada disuatu tempat… sedang menunggumu seperti aku menunggu keajaiban atas nyawaku.”

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya enggan.

“Kau percaya padaku. Aku bukan seseorang itu, aku digariskan dengan Minho, kalau dia meninggalkanku maka aku juga hanya akan menjadi kenangan. Semua sudah ada garisnya, Myungsoo.”

“Apa perlu aku membantumu untuk mencarinya?” tambah Krystal.

Myungsoo lagi-lagi menggelengkan kepalanya, “Nope..”

“Aku sudah menemukannya. Walaupun aku mencoba menerimanya, karena dia bukan seseorang yang asing bagiku.. tapi tetap saja.. aku tidak bisa. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku sendiri terhadapnya.”

“Kau hanya tidak memiliki kemauan dalam hal itu.”

“Tapi… masalahnya, dia… dia begitu dekat denganmu.”

Mendengar itu, Krystal mendelik. Dekat dengannya? Siapa? Benarkan wanita yang ditakdirkan dengan Myungsoo dekat dengannya? Hara? Tidak mungkin… lalu…

“Sull—“

“Sulli.” Jawab Myungsoo jelas sebelum Krystal menyelesaikan kalimatnya. “aku tidak bisa membaca pikirannya, dia selalu hadir didalam mimpiku walaupun aku tidak menginginkannya. Aku selalu memiliki firasat terhadapnya walaupun aku tidak berniat peduli dengannya. Aku juga berpikir apakah gadis polos dan baik sepertinya bisa menerima pria jahat sepertiku?”

“jadi.. Sulli? Astaga… Sulli? Itu.. itu sebuah kebetulan yang beruntung! Dia menyukaimu.. maksudku dia pernah. Dia pernah menyukaimu.”

“Mwo?” Myungsoo kaget, walaupun ekspresinya terlihat tidak begitu menggambarkan kalau dia benar-benar kaget.

“Dia pernah menyukaimu saat aku… well, aku masih bersama denganmu. Lancang bukan? Tapi nyatanya dia melakukannya, bukankah itu membuktikan kalau dia sudah cukup mencintaimu kan?”

Kini Krystal terlihat seperti seorang gadis yang sedang mengompori Myungsoo untuk mendapatkan Sulli. Seperti cerita klise anak sekolah menengah, bedanya ia terlihat lebih bersemangat.

Tapi reaksi Myungsoo tidak seperti yang Krystal harapkan, ia justru tertawa miris dan menghela nafasnya keras-keras. “Persetan dengan perasaannya. Tapi aku.. aku masih mencintaimu Krystal Jung.”

“CUKUP!”

“Aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu.. tidak lagi Kim Myungsoo…” wajar jika Krystal kesal. Ia sudah bosan menjelaskan pada Myungsoo, harus bagaimana lagi Krystal mendampratnya?

Ia berbalik dan berjalan keluar dari lorong kumuh yang terapit oleh dua bangunan itu, kemudian berjalan di trotoar besar dengan orang-orang yang memenuhi jarak pandangnya, tapi ia tidak peduli dan terus berjalan cepat sambil beberapa kali menggumamkan kata permisi.

Dan belum lama ia berjalan, tangannya sudah ditarik oleh Myungsoo namun ia segera melepasnya. Menghentaknya lebih tepatnya.

Krystal hanya mendelik dan berjalan lagi, kali ini lebih cepat dan sesekali menengok kebelakang dimana Myungsoo sedang kesulitan mencarinya diantara kerumunan orang. Krystal melihat ke depan lagi dan berlari, mencoba menjauh dari Myungsoo. Kali ini ia tidak peduli bahwa beberapa kali tubuhnya menabrak orang – orang disekitarnya. Ucapan permisinya sudah hilang bersama dengan  respect nya terhadap Myungsoo.

Maybe it’s time to stop Kim Myungsoo. You gave your love to follow, but she just gave it away. You gave your care, but she throws it away. You run to her, but she just walks away. Yes, it’s time to forward your love, care and run for someone else.

***

Krystal Jung’s Apartment, 26th Floor.

Pintu berderit terbuka ketika Krystal selesai meng-input sepuluh digit angka sebagai kode keamanan apartemennya. ia menutup pintu asal-asalan dan segera menghempaskan tubuhnya di sofa empuk, bersandar dan memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya yang tersengal – sengal.

Rasanya begitu lelah hari ini, ia sudah mati.. dan well, hidup lagi. Terdengar lucu mungkin.

 Ya, tapi dalam kondisi seperti ini tidak ada yang bisa ditertawakan. Bahkan di  kondisi tubuhnya yang lelah Krystal masih berpikir serius tentang hidupnya, nyawanya, takdirnya… terasa segalanya sangat kompleks dan unbreakable.

Ia memejamkan mata…. Dan rasanya ingin tidur karena kedua kelopak matanya terasa berat, tapi mungkin kalau ia ketiduran, esoknya yang diliat pertama kali bukanlah ruangan apartemennya, melainkan suatu hal lain yang tidak pernah dilihatnya.

Akhirnya, Krystal bangkit berdiri dan berjalan lunglai menuju dapur.

Tidak bisa dipungkiri, ia sangat menjiplak Lee Donghae dalam hal satu ini. Ya, cokelat panas. Kadar kecanduannya sudah separah Donghae, di saat apapun Krystal rasa yang bisa membuatnya lebih baik adalah secangkir minuman manis panas berwarna gelap. Cokelat panas.

Ia membuka lemari kecil di atas konter dapurnya, mengambil satu sachet Cadbury dari bertumpuk-tumpuk yang ada didalam. Membuka kemasannya dan menuangkan ke dalam gelas panjang bersamaan dengan air panas.

Sambil menunggu suhunya berkurang, Krystal menatap pintu kulkasnya yang tertempel post-it dengan berbagai macam tulisan. Kebanyakan tentang materi-materi kuliah yang harus ia pelajari, tugas-tugas dari dosen yang belum ia kerjakan dan shopping-list.

Krystal tersenyum miris, post-it itu sudah tidak ada artinya lagi.

Ia mengangkat gelasnya dan menyeruput cokelat panasnya yang langsung menghangatkan tenggorokannya, hangat dan manis. Berbalikan dengan suasana hatinya saat ini. Setelah itu ia berjalan menuju ruang tengah dan menapakkan kakinya diatas karpet beludru berwarna cokelat muda yang sangat lebar dengan sofa putih di atasnya.

Pandangannya menatap lepas kerlap-kerlip lampu dari bangunan-bangunan yang berada di bawah apartemennya lewat jendela besar yang sengaja Krystal tidak pernah menutup gordennya, karena ia suka melihat pemandangan kota di malam hari.

Eh, kenapa Minho belum juga datang?

Sambil berspekulasi banyak tentang keberadaan Minho saat ini, Krystal berjalan memasuki kamar mandi sementara cokelat panasnya ia letakkan di atas wastafel. Ia menyalakan keran wastafel dan membasuh wajahnya dengan setangkup air dingin. Terdiam di depan kaca, entah sejak kapan wajahnya terlihat sendu dan lebih pucat. Dan Krystal baru saja sadar kalau seharian ini ia belum memakan apapun.

Ia masih melihat pantulan wajahnya sendiri ketika tangannya secara tidak sadar mengipas berkali-kali, tiba-tiba udara disekitarnya menjadi lebih hangat?

Entahlah, tapi seharusnya sih dingin mengingat hujan sempat turun deras tadi—walaupun sekarang sudah reda.—dan Krystal mengesampingkan rambutnya, mengibaskan tangannya lagi.

Kali ini lebih hangat? Dan… malah lebih menjuru ke panas?

Samar-samar Krystal bisa mendengar suara gemuruh, tapi tidak jelas—hanya seperti gumaman saja—kemudian ia menutup keran dan kali ini bisa mendengar suara gemuruh lebih jelas lagi. Tapi…. Ini…

Krystal membelalak kaget dan mencoba menajamkan telinganya, benar… ia tidak salah… suara ini berasal dari luar apartemennya. Suara orang-orang yang menjerit dan berteriak. Ada apa?

Ia segera berbalik dan menyambar gelas—cokelat panas—nya kemudian berlari lalu membuka pintu.

Krystal membeku. Refleks gelasnya terjatuh dari tangannya yang tiba-tiba melemas, menimbulkan suara pecahan melengking. Tapi hal itu tidak menjadi masalah, ia terlalu sibuk untuk menyadarkan dirinya dari rasa kaget yang teramat sangat.

Melihat di hadapannya sudah ada api yang meletup-letup.

***

Ducati cantik berwarna hitam itu benar-benar jackpot bagi Minho, bukan motor sembarangan yang ia barusan sewa ditengah kemacetan sialan tadi. Ia berhasil memukau hampir sepanjang jalan karena kemampuannya meliuk-liukkan motor itu dengan sangat baik.

Dan katakan saja hari ini adalah hari keberuntungannya karena Minho menerobos setiap lampu merah yang ada dan ia masih utuh saat ini—tidak mendapatkan kecelakaan ataupun tilangan—dan sekitar seratus meter sebelum ia sampai di apartemen Krystal, ia mempercepat laju motornya.

Tepat di pelataran parkir dengan cahaya bulan seadanya ia mengerem mendadak, membuat bagian belakang ducati tersebut terangkat ke atas. Minho memarkirkan motornya sembarangan kemudian membuka helmnya.

Dan di saat itulah ia baru sadar ada yang janggal disini.

Gedung apartemen di kawasan Gwangju itu dikerubungi oleh orang-orang, banyak yang berteriak dan bahkan menangis. Ada sekiranya lima mobil pemadam kebakaran di sisi gedung, sebelah kanan depan, kiri dan sisanya persis di depan gedung.

Suasananya kacau, polisi berlalu-lalang. Menghalau warga sekitar yang jaraknya terlalu dekat dengan gedung dan beberapa regu penyelamat mulai berdatangan.

Butuh beberapa detik bagi Minho untuk menyadari bahwa hal yang ia lihat didepannya ini nyata. Ia nyaris menampar wajahnya sendiri, untuk memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi buruk didalam taksi. Dan untuk sekiranya lima kali, ia mengerjapkan matanya.

Sepersekian detik kemudian Minho melompat dari atas ducati, dan berlari seperti orang kesetanan. Menerobos kerumunan orang dan terus berlari. Hatinya semakin gelisah ketika ia melihat serpihan-serpihan dinding apartemen runtuh dan sontak polisi serta beberapa petugas keamanan menyuruh orang-orang disekitar apartemen menjauh, berbalik dengan mereka, Minho semakin mendekatkan jaraknya pada kobaran api di hadapannya.

“JANGAN MENDEKAT!!”

Seorang pria bertubuh tegap dengan walkie-talkie di tangannya berlari mengikuti langkah berani Minho. Tapi sayangnya Minho sudah di luar kontrol emosinya, ia bahkan tidak menyadari kalau langkahnya begitu lebar dan cepat. Ia tidak sadar apapun sampai ia masuk ke dalam.

Apartemen yang terbakar.

Ia berdiri terdiam dengan nafas yang tidak beraturan, pandangannya menyapu seluruh ruangan yang tanpa harapan. Hanya ada luapan api disana, dan asap-asap yang memenuhi ruangan. Katakan saja Minho bodoh karena hal ini sama saja mendorongnya ke lubang kematiannya sendiri. Tapi ia sungguh tidak peduli, dan Minho tidak akan keluar sampai ia bisa berhasil menemukan Krystal dalam keadaan hidup.

Terdengar berisik diluar, tim penyelamat mulai merangsek masuk ke dalam untuk menarik Minho. Secepat kilat Minho berlari jauh lebih dalam dan melompati apa saja yang ada di bawahnya seperti reruntuhan kayu atau eternit yang telah runtuh.

“KRYSTAL?!” serunya keras. Minho melangkahkan kakinya ke arah yang lain, mencari setiap celah kosong yang memungkinkan untuk bisa dilewati. Jantungnya berpacu begitu cepat, nafasnya sesak karena asap yang terus menguasai setiap inchi apartemen high-class ini.

Minho belum menemukan titik terang apapun, dalam keadaan seperti ini memang mustahil jika Krystal masih bisa mendengar teriakan Minho dengan jelas.

“KRYSTAL JUNG?!” teriaknya lagi, kali ini Minho menerobos sebuah pintu yang masih berdiri tegak dan masuk ke dalam ruangan, lagi-lagi ia tidak menemukan apapun kecuali benda–benda mati seperti perabotan furniture yang mulai habis dilalap api.

Minho melompat ke samping kanan secara spontanitas, hampir saja sebuah kayu besar menimpanya.

Sekali lagi Minho mengecek ruangan tersebut yang ia yakini Apartemen milik Krystal, tapi ia tidak menemukan gadis itu.

Minho sudah sampai diambang pintu ketika ia mendengar suara seseorang terbatuk-batuk, reflek ia menghentikan langkahnya untuk mendengar lebih jelas lagi. Benar, suara seorang gadis. Buru-buru Minho berbalik dan berlari untuk mencari sumber suara tersebut.

“Krystal?”

Suara tadi terganti oleh suara ketukan tidak beraturan, seperti suara kayu yang dipukul ke dinding. Minho terdiam untuk mendengarkannya kemudian menengok ke sebelah kirinya. Ya suara itu berasal dari sana, dari sebuah ruangan yang berada di sebelah kirinya. Kamar mandi.

Kemudian Minho membuka pintu kamar mandi dan terlihat jelas di sana seorang gadis yang duduk tersungkur di dekat wastafel, kamar mandi tersebut belum terbakar seluruhnya hanya sekitar seperempat bagian didekat pintu masuk tetapi ruangannya hampir hancur. Kayu-kayu dan atap sudah runtuh begitupun kaca wastafel yang sudah pecah. Tampak seperti ruangan yang setengah hancur karena ledakan.

Krystal Jung tersungkur lemas di samping wastafel. Rambutnya acak-acakan, darah mengalir dari dahi dan bagian atas telinga kanannya, kaki kirinya tertimpa sebuah kayu panjang. Matanya sembab dan berkaca-kaca, bibirnya bergetar  ketika melihat Minho berdiri di hadapannya. Memandangnya dengan tidak percaya.

Tangisnya pecah ketika Minho bergegas memeluknya, mengusap punggungnya dengan lembut. In his embrace, in every situation she feels safe and warm.

Minho melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Krystal. “Gwenchana?” tanyanya khawatir, tangannya mengusap wajah Krystal dengan pelan. Krystal mengangguk lemah kemudian memeluk Minho lagi.

***

Krystal’s POV

Aku memikirkan banyak hal belakangan ini, terutama tentang kematian dan bagaimana kejamnya malaikat pencabut nyawa mengejarku dengan adegan-adegan yang mungkin hanya bisa kau lihat di Final Destination. Aku kecelakaan, hampir mati terbakar dan akhirnya dewa penyelamat datang mengalahkan dewa kematian. Well, terdengar lucu tapi kenyataannya aku merasa aman sekarang.

Kaki kiriku sepertinya terkilir—mungkin retak?—tapi aku tidak berpikir seperti itu, nyatanya aku masih bisa menggerakannya. Dan pria ini menggendongku, membiarkan wajahku terbenam di dadanya yang bidang dan aroma mint nya selalu membuatku merasa nyaman.

Rasanya seperti mimpi, ketika Minho menggendongku keluar dari dalam apartemen dalam keadaan hidup sedangkan api meluap marah didalam sana. Begitu kami keluar, tim SAR berlarian menghampiri kami dan mengerubungi kami. Aku pusing sekali sampai tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan sekarang.

Aku mendongak dan melihat Minho mengangguk-anggukan kepalanya pada mereka. Aku hanya tersenyum dan mengeratkan pelukanku pada Minho, membenamkan wajahku lebih dalam ke dada bidangnya. Menghirup aromanya yang lebih candu dari marijuana.

Aku hampir saja tertidur ketika tangan hangat Minho tiba-tiba menyentuh dahiku dan membuatku menoleh. “Gwenchana? Kita akan ke rumah sakit sekarang, sepertinya kau cukup parah..” aku hanya menggeleng. “Gwenchana. Mungkin hanya antiseptic dan perban saja.. err.. untuk luka kepalaku.”

“Ahni… kau harus check-up.”

Tidak perlu, jinjjayo, aku tidak apa-apa.”

Minho menghela nafasnya. “Arra.

Salah satu tim SAR menggiring kami menuju tenda kecil yang tidak jauh dari kawasan apartemen, tenda yang dibuat secara mendadak untuk penanganan luka. Tenda tersebut jumlahnya cukup banyak dan berjejer, masing-masing terdapat dua buah ranjang kecil didalamnya dan—tentunya—beberapa perawat.

Minho meletakkan tubuhku di atas ranjang dan membiarkan seorang perawat menangani luka di dahiku yang sudah berdarah-darah sedangkan ia sendiri duduk di ranjang yang lain, menunjukkan luka bakar dilengan kirinya.

Aku merintih kecil tapi pandanganku tertuju pada Minho, aku khawatir lukanya akan parah dan… well, aku bukanlah tipikal gadis yang care terlebih pada pria tapi sudah jelas kalau Choi Minho adalah satu-satunya pengecualian.

Pandangan kami bertemu dan ia tersenyum.

“Drrrt….”

Aku mengambil Optimus milik Minho yang tergeletak tepat di sampingku kemudian membuka pesan masuk tanpa mengucapkan permisi—sebenarnya ini sudah menjadi kebiasaanku—dan berasal dari… Kim Jonghyun? Sepertinya ia salah satu rekan kerjanya.

“Jiyeon sadar dari komanya, cepat datang kesini.”

Mataku melebar kaget dan secara tiba-tiba tanganku melemas, aku memang tidak bisa melihat wajahku sendiri sekarang ini tapi aku yakin aku sedang pucat.

Tidak… aku bukannya tidak bahagia mendengar kabar mengejutkan ini, aku tentu bahagia karena setidaknya aku tidak menjadi seorang pembunuh. Tapi… secara langsung aku teringat suatu hal… rahasia terbesarku pada Minho.

Aku belum memberitahunya yang sebenarnya. Aku belum memberitahu kalau Jiyeon koma karena telepatiku, yang Minho ketahui sampai saat ini kalau Jiyeon koma karena keracunan. Aku.. sungguh lupa akan hal ini, dan aku harus memberitahunya.

Tapi… apakah ia akan marah padaku?

Tidak. Dia pasti mengerti situasi ini, dia tidak akan memarahiku. Lagipula ini hari terakhirku dan satu-satunya yang bisa menyelamatku hanya Minho. Selama ini aku belum pernah merasakan Minho benar-benar marah padaku dan aku tahu dia bukanlah tipikal pria yang seperti itu.

“Klee?”

“Krystal, pesan dari siapa?”

Aku sedikit terlonjak, membuat perawat yang sedang sibuk membalut lukaku langsung mendelik padaku. “Euh… pesan dari Kim Jonghyun.”

“Apa yang dia katakan?”

“uhmm…. Jiyeon.. dia sudah sadar.” Jawabku dengan nada setenang mungkin setelah itu tersenyum, namun sepertinya perhatian Minho sudah teralihkan secara total, terlihat dari raut wajahnya yang tampak kosong tak berekspresi. Aku menunggu reaksi Minho selanjutnya, aku sungguh penasaran dengan perasaan Minho terhadap Jiyeon saat ini.

Tapi Minho hanya mengerjapkan matanya sekali kemudian memandang ke arah pintu, aku tidak bisa mengartikan ekspresinya. Apalagi membaca pikirannya. Aku tidak tau… ya, aku tidak pernah tahu kenapa Minho mau menolongku, mau mengorbankan nyawanya untuk gadis sepertiku…

Kenapa aku tiba-tiba berpikir seperti itu sih?

Bukankah jawabannya sudah jelas kalau Minho itu mencintaiku? Tapi… karena alasan itulah aku harus memberitahunya. Mau tidak mau harus. Apapun konsekuensi yang akan kudapatkan nantinya. Aku tidak boleh membohongi Minho lebih lama lagi, dia sudah cukup berkorban banyak untukku sampai detik ini.

“Kau harus menjenguknya..” kataku ragu.

Minho menoleh kearahku kemudian tersenyum, “Tentu saja.”

“Euh..Minho-ya, aku ingin memberitahu sesuatu padamu..”

Minho menoleh kearahku lagi, ekspresinya Nampak penasaran. “Apa?”

Aku menunjuk luka di dahiku yang masih sibuk dibalut oleh perawat, “Nanti setelah selesai denagn yang satu ini..” perawat itu menuangkan antiseptic ke permukaan lukaku, membuatku meringis. Minho hanya mengangguk kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa aku disebut “demon”, bukankah kata tersebut berkaitan dengan hal-hal yang jelek? Apakah aku terlahir dengan kutukan seperti itu? Mungkin memang begitu karena… saat ini aku merasa sangat jahat telah membohongi pria yang menjadi penyelamat sekaligus separuh nafasku.

***

Hujan rintik masih membasahi Seoul, termasuk di kawasan apartemen di Gwangju. Langit tampak gelap dan mendung di jam yang menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Krystal dan Minho keluar dari tenda perawatan setelah perawat memperbolehkan Krystal pergi dengan dahi yang sudah diperban secara rapi.

Minho menggandeng tangan Krystal membawanya ke sebuah café terdekat, ia ingin minum secangkir macchiato sekaligus membicarakan apa yang Krystal ingin bicarakan. Tapi Krystal tidak kuat lagi, ia merasa dadanya sesak. Ia ingin segera memberitahu, tapi ia juga ingin menutupi. Ia ingin jujur tapi ia juga ingin berbohong. Krystal tidak tahu harus bagaimana.

Mereka berjalan dalam diam. Minho sibuk melihat suasana sekitar yang masih ramai saja, api sudah padam seluruhnya dan regu penyelamat mulai sibuk mencari korban yang lainnya. Tangan Minho masih menggenggam erat tangan Krystal, yang kini ia masih menunduk dalam kebisuannya.

Tiba-tiba langkah Krystal terhenti, sontak membuat Minho ikut berhenti dan menoleh kearah gadis itu. “Wae?”

Krystal harus memberitahu Minho.

Tidak. Ia tidak boleh memberitahu Minho.

Ia harus.

Tidak perlu.

“Klee?”

Minho bisa merasakan keringat dingin yang tiba-tiba terasa di telapak tangan Krystal, membuatnya semakin khawatir. Apakah ini berkaitan dengan suatu hal yang Krystal ingin beritahukan padanya?

Ia hanya menatap Krystal, menunggu gadis itu menegakkan kepalanya.

“Aku ingin memberitahu suatu hal…” ucap Krystal terbata seiring dengan kepalanya yang mendongak. Kedua mata Krystal menatap lurus ke kedua mata bulat Minho. “Ya? Kau bisa memberitahuku di café nanti.”

Krystal menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak bisa… euh… menunggu lagi. Aku harus memberitahumu sekarang. Aku tidak mau lebih lama membohongimu walaupun hanya beberapa menit. Kau tahu… aku merasa berdosa, aku takut kau tidak bisa memaafkanku.. aku—“

“Ssst… apapun itu, aku akan memaafkanmu. Jangan terlalu khawatir Klee.” Potong Minho, tanganya menggenggam Krystal lebih erat. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran lebih.

Krystal mengerutkan alisnya kemudian mengehela nafas. “Kuharap seperti itu.”

“Ini soal Jiyeon…” Krystal menatap kedua mata Minho lebih dalam, perasaannya campur aduk. Ia gugup sekali. “Saat itu aku berumur dua puluh satu tahun, tepat ditanggal dua puluh empat oktober dimana aku mendapatkan keajaiban aneh pada tubuhku, yah sebut saja seperti itu. Aku bisa menelepati seseorang dalam arti membuat mereka kesakitan tanpa aku sadari bahwa akulah yang melakukannya. Sekitar dua hari setelah itu, aku pergi ke kampus dan bertemu dengan Jiyeon. Aku tahu dia kekasihmu karena aku membaca pikirannya… lalu, aku tidak tahu saat itu sisi jahatku menguasaiku secara penuh sehingga…”

Krystal memeperhatikan ekspresi Minho, tapi pra itu masih terlihat biasa saja.

“Aku menelepatinya.”

Kini Minho membelalak kaget tapi ekspresinya masih menuntut Krystal untuk memberitahu lebih.

“Aku sungguh lupa kejadian persisnya dan aku rasa hal itu juga terlalu menyakitkan untuk didengar, tapi… ya, dia pingsan. Dia berdarah-darah. Dia… tidak sadarkan diri sampai saat ini akhirnya dia sudah sadar.”

“Kau…”

“Aku tahu… aku sungguh tahu ini salahku. Aku seharusnya tidak menelepatinya, aku tidak tahu karena itu semua di luar kontrolku. Aku sungguh minta maaf, Minho-ya…” Krystal menggapai tangan Minho yang lain kemudian menggenggamnya erat. Tetapi ekspresi Minho berubah, rahangnya mengeras, ia tampak sekali. Terlalu jelas malah. Ia marah.

“Kau tidak sedang bercanda kan?”

“Sayangnya tidak..”

“Tapi kau mengatakan padaku kalau Jiyeon keracunan, aku ingat sekali saat itu, ketika kita bertemu lagi di apartemen Hara dan kau menemaniku ke rumah sakit. Sangat jelas kalau kau mengatakan Jiyeon keracunan.”

“Itu jelas! Jika aku memberitahumu yang sebenarnya memangnya kau akan percaya? Tidak akan mungkin. Aku mencoba mencari alasan yang masuk akal.”

“Bukan seperti itu Klee!”

“Ya, lalu?”

“Kau membohongiku hingga hari ini. Ini… sudah lama sekali, kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kau tega membohongiku selama ini?!”

“Aku selalu takut untuk memberitahumu. Aku takut kau akan meninggalkanku dan tidak akan memaafkanku, aku tau… ini salah. Seharusnya aku memberitahumu sejak dulu, dan aku sungguh menyesal.”

Minho menghela nafasnya keras. “Penyesalan tidak berarti apapun. Aku sempat berpikir… apakah kau mendekatiku hanya agar kau tetap hidup karena sejak awal kau tahu kalau aku satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu. Aku berpikir sekali tetapi aku sangat merasa bersalah saat itu. Dan sekarang… kenapa aku menjadi yakin kalau kau memang bermaksud seperti itu?”

Krystal tertohok. Seperti ada bambu runcing yang menancap dalam-dalam hatinya, kemudian mengoyaknya tanpa ampun. Hatinya sakit sekali mendengarnya. “Demi Tuhan! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku sungguh mencintaimu. Aku dalam keadaan hampir mati ataupun sehat, itu tidak merubah apapun. Ini soal Jiyeon, kau tidak bisa mengaitkannya dengan hal lain apalagi tuduhan seperti itu!”

Secara tiba-tiba Minho melepaskan genggamannya hingga kedua tangan Krystal terkulai kembali ke samping tubuh ramping gadis itu. “Aku tidak bisa percaya. Setelah kau membohongiku hal sebesar ini dan kali ini aku tidak ingin kau membohongiku lagi untuk yang kedua kali. Atau kali-kali lainnya.”

Kedua mata Krystal memanas, kini berkaca-kaca tanpa ia sadari. “Aku mohon percaya padaku… aku juga tidak mau membohongimu untuk yang kedua kali. Mianhae, jeongmal mianhae…”

Minho hanya tertawa miris dan membuang muka.

“Lagipula Jiyeon sudah sadar, kan..”

Minho menoleh kearah Krystal lagi, “lalu? Itu tak berarti aku bisa menerima kebohongan yang dapatkan. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku tidak mengharapkan imbalan apapun, tapi coba kau pikir… aku berusaha banyak untukmu. Aku mengerahkan semua kemampuanku tapi kau… kau jujur padaku saja tidak bisa.”

“Tapi… Minho-ya, kita sama-sama memiliki perasaan satu sama lain. Perasaan yang sama.”

“Aku berpikir tidak menggunakan perasaanku, Klee. Aku merasa dibodohi.”

“Aku tidak bermaksud membodohimu atau apa. Kau tau itu, aku minta maaf.. tolong maafkan aku..”

Minho hanya terdiam memandang Krystal dengan sorot matanya penuh dengan kekecewaan. Krystal berusaha, ia sungguh ingin… setidaknya tersisa sedikit tatapan lembut dan menenangkan dari Cho Minho tapi… ia tidak menemukannya. Semuanya terlihat lain dan berkebalikan. Minho yang ada di hadapannya, tidak memandangnya seperti dulu lagi. Atau seperti beberapa menit yang lalu, sebelum Krystal memutuskan untuk jujur.

Minho berbalik. Berjalan menjauh. Tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa kecupan manis di dahi Krystal, tanpa senyuman. Tanpa perasaan. Krystal diam saja, berharap di detik keberapapun pria itu akan berbalik, memeluknya dan mengatakan kalau tadi hanyalah kemarahannya sesaat. Mengatakan kalau Minho dengan senang hati memaafkannya lalu semuanya kembali seperti sebelumnya.

Tapi pria itu tidak bergeming, malah menaiki Ducati –nya, menyalakan mesin dan menjauh. Melaju keluar dari pelataran apartemen. Meninggalkan Krystal Jung. Meninggalkan ceritanya yang mungkin akan ia anggap sebagai memori lama.

Sampai Ducati Minho membelok barulah Krystal tersentak, seperti ada yang menepuk pundaknya dengan keras, membangunkannya dari lamunannya.

“ini hanyalah mimpi… Krystal Jung, ini hanyalah mimpi…” ucapnya dengan suara bergetar, wajahnya terasa hangat karena air mata yang mulai meleleh dari kedua matanya. Kemudian bercampur dengan rintik air hujan. Bercampur dengan rasa sedih dan shocknya.

“CHO MINHO!!!”

Krystal terlambat. Sosok Minho sudah tidak ada lagi dalam jarak pandangnya, suara deru motornya juga sudah tidak terdengar lagi. Lututnya terasa lemas, dan jatuh menyentuh aspal yang basah. Krystal berlutut di bawah gerimis, suara isak tangisnya terdengar lebih keras. Menyedihkan. Memilukan. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang basah akan air mata.

Man using his logic while woman with her heart. That’s an absolute rule.

***

Seoul International Hospital, South Korea.

22.10 KST.

Pintu berderit terbuka dan sepasang mata indah itu langsung menangkap sosok gadis yang terduduk diatas ranjang rumah sakit, dengan selimutnya yang menutupi sebagian tubuhnya. Rambut cokelat gadis itu tergerai indah, tampangnya masih pucat walaupun terlihat lebih baik.

Minho menghela nafas lega, ia melangkahkan kakinya ke dalam dengan begitu percaya dirinya padahal penampilannya acak-acakkan. Ia masih bau asap, pakaiannya juga terlihat kotor oleh abu.

Jiyeon menoleh kemudian matanya berbinar menangkap sosok pria jangkung yang berdiri dengan ekspresi lelah diambang pintu. “Jagi!” serunya. Ia hampir saja melompat dari atas ranjangnya sebelum tangan Minho terangkat mengisyaratkan untuk tidak melompat.

Minho berjalan mendekat sedangkan pandangan Jiyeon menelusuri penampilan Minho dari atas sampai bawah, sesekali alisnya berkerut melihat pria itu terlihat begitu kumuh. “Kau…”

“Yah ini… aku tadi sempat terjebak di dalam apartemen yang terbakar.”jelasnya jujur sebelum Jiyeon bertanya. Kedua alis Jiyeon terangkat, “Kebakaran?!”

“Ceritanya panjang. Lupakan saja, yang penting aku masih hidup kan.”

Jiyeon mengangguk kecil. “Arasseo. Ngomong-ngomong… aku sangat rindu padamu.” ucapnya dengan suara sedikit serak kemudian tersenyum.

Nado. Neomu bogoshippo..” Jiyeon menghambur ke pelukan Minho, merasakan hangatnya pelukan pria itu. Mengendapkan wajahnya di dada bidang Minho, kekasihnya. Yang Jiyeon tahu bahwa pria itu selalu disampingnya untuk menunggunya sadar. Tanpa mencium sedikitpun penghianatan. Tanpa mengetahui bahwa di hati pria itu sudah diisi oleh wanita lain.

Minho merasakan sebaliknya, ia… berbeda. Tidak merasakan degup jantungnya yang berdetak cepat, tidak merasakan kenyamanan ketika memeluk ‘kekasih’nya. Tidak merasakan cinta.

Pria itu memikirkan gadis lain.

Tapi ia tidak bisa seperti ini, Minho terus mengingatkan dirinya sendiri kalau Krystal baru saja mengecewakannya. Ia ingin kembali ada untuk gadis yang selama ini dihianatinya tanpa diketahui, kembali pada memori lamanya sebelum Minho mengenal kehidupan tidak normal dan gadis supranatural yang membuatnya uring-uringan.

“Kapan kau sadar? Aku baru mendengar kabarmu dari Jonghyun jadi aku langsung kesini.”

Jiyeon melepas pelukannya kemudian menarik Minho untuk duduk disampingnya. “Siang tadi. Aku sengaja tidak memberitahumu karena ingin memberimu kejutan ketika kau datang kesini tapi kau tidak kunjung datang.”

“Mianne. Aku ada sedikit urusan tadi jadi tidak sempat kesini.  Apakah kau sudah baikan? Bagaimana keadaanmu?”

“lebih baik sih tapi… aku masih pusing dan rasanya lemas sekali, untuk bangkit duduk saja aku harus bersusah payah. Dan lagipula makanan disini benar-benar bukan seleraku.”

Minho terkekeh. Park Jiyeon memang selalu manja, dan rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengar rengekkannya. “Memangnya apa yang kau harapkan dari makanan rumah sakit? Memang tidak enak, tapi menunjang kesembuhanmu.”

“Aku sembuh karena kau terus mengirimiku buket bunga, hahahaha.” Jiyeon tertawa namun Minho tidak menangkap maksud dari kata-kata Jiyeon barusan. Buket bunga?

“Kau bingung?”

“Euh?”

“Lihat buket bunga yang ada diatas meja. Tentu saja kau kan yang mengirimnya? Suster mengatakan kalau setiap hari ada bunga yang berganti-ganti di atas mejaku, katanya seorang pria yang mengantarkannya. Itu… manis sekali kau tahu?”

Minho semakin bingung setelah ia melihat bunga yang memang ada di atas meja tidak jauh dari ranjang Jiyeon. Tapi…

Sebentar, Minho tidak pernah mengirimi Jiyeon bunga.

Tidak pernah sekalipun, apalagi mengganti bunganya setiap hari. Bahkan dalam seminggu ini Minho hanya menjenguk Jiyeon dua kali. Ia ingin berkata kalau bukan dirinya yang mengirim buket bunga itu tapi… Jiyeon terlihat bahagia sekali. Minho tidak tega mengatakannya.

Gomawo..” ucap Jiyeon kemudian tersenyum.

Minho hanya tersenyum simpul.

“Aku tahu kau pasti selalu mendoakan kesembuhanku sehingga aku bisa bangun, aku percaya itu. Tanpa doamu mungkin aku tidak akan bangun lagi.”

Minho baru menyadari… selama ini ia tidak pernah mendoakan Jiyeon.

“Dan… kau tahu, walaupun aku dalam keadaan koma tapi selama beberapa hari akhir-akhir ini aku bisa merasakan sentuhan. Aku tidak tau tepatnya berapa hari yang lalu tapi aku merasakan saat kau menggenggam tanganku lama sekali, mengusap-usap punggung tanganku.”

Akhir-akhir ini? Tapi… Minho tidak pernah melakukan hal itu. Ia menjenguk jiyeon hanya sekedar melihatnya saja, itupun bersama Krystal jadi waktunya ia habiskan untuk mengobrol dengan Krystal.

Ia jadi merasa ada yang janggal disini. Mungkinkah ada orang lain yang menjenguk Jiyeon? Well, itu pantas dan wajar. Tapi… memberinya bunga setiap hari dan menggenggam tangan?

***

Chruch.

22.30. KST

Langit sudah sepenuhnya gelap, hanya terlihat beberapa bintang yang menampakkan diri mereka malu-malu dari mendungnya langit malam ini, setelah hujan membasahi Seoul dan beberapa kota lainnya di sekitar. Udara cukup dingin, tapi lebih ke sejuk dengan maka itu banyak orang-orang yang lebih memilih meringkuk dibalik selimut mereka.

Didalam sebuah gedung besar dengan penerangan yang memadai, Krystal Jung berdiri diam. Ia mengenakan t-shirt adidasnya yang tampak lusuh dan skinny jeans serta sepasang sepatu docmartensnya menapak diatas lantai mengkilap gereja.

Ia mengepalkan kedua tangannya di depan dada kemudian menunduk, dengan mata terpejam Krystal berbisik melantunkan doa yang tulus dari dalam hatinya.

God, If I die tonight, let them keep living happily. If I ain’t go die tonight, still let them live happily no matter how it goes.”

Setelahnya ia terdiam, membiarkan kesunyian menginterupsi.

Krystal tidak tahu apa yang ia pikirkan ketika Minho meninggalkannya, ia malah melangkahkan kakinya menuju gereja ini. Sempat terbesit dipikirannya untuk bunuh diri namun ia tidak bisa melakukannya, ia hanya tidak mau Donghae ataupun Hara kecewa dengannya.

Tapi ia merasa aneh ketika sepanjang perjalanan menuju gereja tadi ia tidak mendapatkan insiden apapun yang menunjang kematiannya. Memang, merinding membayangkan hal tersebut tapi sepertinya… ia sudah terbiasa? Tidak. Mungkin Krystal hanya sudah terlalu pasrah akan hidupnya karena malaikat penyelamatnya sudah pergi.

(backsound: Epik High-좁다)

Matanya masih terpejam, air mata masih saja membasahi wajahnya.

God, give me a little pleasantness.. at least to dry my tears up.”

Sepasang langkah berlari tergesa ditengah gerimis, memecah keheningan malam dengan suara sepatunya. Kemudian temponya melambat ketika ia hampir mencapai pintu gereja dan berdiri tidak jauh dari pintu.

Dari sana ia bisa melihat jelas seorang gadis yang berdiri ditengah gereja diantara kursi-kursi yang berjejer rapi. Gadis yang sedang terdiam sambil menunduk, gadis yang kurus dan tampak rapuh. Pria itu buru-buru berlari masuk kedalam dan berhenti tidak jauh dari Krystal berdiri sekarang.

“Krystal Jung…”

Perlahan Krystal membuka kedua matanya namun ia masih terdiam, sampai suara seseorang yang memanggilnya terdengar lagi barulah Krystal mendongak kemudian berbalik perlahan. Sungguh ia berharap kalau itu Choi Minho.

Namun…

“Myungsoo?”

Suara lemah Krystal benar-benar membuat kekhawatiran Myungsoo bertambah berpuluh-puluh persen, ia menghela nafasnya kemudian menggeleng pelan. Tanpa ragu ia mendekat kemudian membawa tubuh kurus Krystal ke dalam pelukannya. Myungsoo memeluk Krystal erat sekali sampai dada Krystal terasa sesak, ia mengelus rambut panjangnya perlahan.

Somebody help me kill this love. I can’t kill this love…

“…m.. Minho… hiks.” Krystal terisak dalam benaman wajahnya di dada Myungsoo, air matanya tumpah ruah lagi. Ia teringat kejadian tadi—yang masih diharapkan hanya sebuah mimpi buruk—dimana Minho benar-benar berlalu meninggalkannya.

I should cut off the breath of my memories of you…

 

Kim Myungsoo tahu, ia mungkin tak berarti apa-apa. Ia bukan seseorang yang Krystal harapkan untuk datang sekarang. Tapi ia… ia tidak menyangkal kalau gadis ini membuatnya khawatir setengah mati. Ia tidak bisa membunuh cinta yang membunuh perasaannya.

 

My emotions are still soft.The line that’s been shaken because of its weakness. I should draw it well and finish if off…

 

Myungsoo mencintai gadis ini. Ia hanya ingin Krystal baik-baik saja, sungguh hanya itu. Tidak berada di sampingnya pun tidak apa-apa. Tidak dicintainya pun tidak apa-apa. Meskipun perasaan ini menyakitinya but he can’t overcomes it.

 

I can’t kill this love..

 

Myungsoo masih memeluk Krystal dalam diam. Hanya terdengar suara isakan memilukan dari mulut Krystal. “Jangan khawatir. Aku disini, aku akan menemanimu tidak peduli kau mati atau kau hidup.”

 

“Dan… aku tidak sendirian. Aku membawa—“

 

Belum sempat Myungsoo menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara lain yang memanggil nama Krystal.

 

“Soojung-ah…”

Krystal menghentikkan isakannya. Ia kenal suara familiar ini, yang sudah lama tidak ia dengar. Seseorang yang begitu ia rindukan. Krystal melepas pelukannya dan mendongak melihat siapa yang baru saja datang.

 

Choi Sulli berdiri tepat di pintu dengan satu cup cokelat panas di tangannya, dengan mengenakan coat berbulu dan sepasang boots. ia menutup mulutnya tidak percaya melihat penampilan Krystal yang tampak naas. “Demi Tuhan apa yang terjadi denganmu!” teriaknya dan berjalan cepat menghampiri Krystal.

 

Sulli memegangi pipi Krystal dan mengusap bekas-bekas air mata di wajah cantik sahabatnya itu. “Kenapa kau? Aku begitu merindukanmu tapi aku bertemu denganmu dalam keadaanmu seperti ini..”

 

“Aku juga sangat merindukanmu, Ssul-ah…”

 

Kedua sahabat lama itu kini berpelukan dan tenggelam dalam tangisan mereka. Mereka menggumam tidak jelas, tidak tau apa yang mereka bicarakan persisnya. Hanya saja… mereka berdua sadar kalau persahabatan masih ada sampai sekarang, pada akhirnya mereka tidak bisa saling menjauh satu sama lain. Mereka saling merindukan.

 

Secara tidak sadar Myungsoo meneteskan air mata, buru-buru ia mendongak kemudian memalingkan wajahnya. “Oh ayolah jangan cengeng Kim myungsoo..” bisiknya pada diri sendiri.

 

“Aku membeli ini dulu tadi, jadi Myungsoo kusuruh datang menemuimu terlebih dahulu..” Sulli menyodorkan sebuah cup bertuliskan “Chocobitter Coffee Shop”

 

Rasanya sudah lama sekali tidak melihat kedua gadis dengan karakter bertolak belakang ini bersama-sama, pikir Myungsoo. Hatinya mencelos dan juga terharu apalagi setelah melihat Krystal kembali tersenyum begitu ia menerima cokelat panas itu.

 

Myungsoo merasa lega, tapi tidak sepenuhnya. Ia masih memiliki satu kewajiban lagi untuk membuat perasaannya lega sepenuhnya. Myungsoo melirik jam tangannya kemudian berlalu meninggalkan Krystal dan Sulli tanpa mereka berdua sadari.

 

***

Seoul International Hospital, South Korea.

23.00 KST

KIM MYUNGSOO.

Sepertinya aku sudah gila, well ini terbukti sejak tadi malam aku menemui Krystal dan diusir olehnya lalu aku masih saja gencar mencari tau tentangnya sampai aku ketahui kalau apartemen Krystal terbakar dan aku menyaksikan bagaimana Minho dan Krystal bertengkar hebat. Aku tidak berani melerai atau menginterupsi karena aku rasa hal itu menjadi urusan mereka berdua sedangkan aku tidak memiliki kaitan apapun.

Kemudian aku hampir saja menonjok wajah pria bangsat itu ketika ia melaju diatas motornya meninggalkan Krystal yang berteriak memanggilnya. Tapi kuurungkan niatku karena jika aku menyusul Minho maka Krystal akan sendiri disana.

Jadi aku memutuskan untuk menjemput Sulli karena aku tau pasti Krystal ingin sekali bertemu dengannya, saat tadi ia menangis dipelataran apartemen, aku membaca pikirannya. Sesampainya kembali di sana aku malah tidak menemukan Krystal, dan dengan niat aku membaca pikiran orang-orang yang berada disekitar untuk mengetahui keberadaan Krystal.

Well, cukup melelahkan tapi aku tidak berhenti disini.

Masih ada hal lain yang perlu aku selesaikan.

Kini aku berjalan di koridor rumah sakit Seoul untuk menemui pria bangsat si Choi Minho itu. Aku yakin pasti dia ada disini untuk menjenguk Jiyeon, sejujurnya aku senang karena dia akhirnya kembali pada model itu tapi demi nyawa Krystal aku berani mempertaruhkan harga diriku untuk memohon kepadanya.

Ini memalukan. Sungguh.

Beberapa orang yang berada disekitarku memandangku lama ketika aku lewat di depan mereka. Yeah, aku memang tampan. People admit that. Sedikit merepotkanku memang.

Sampai didepan pintu kamar inap Jiyeon aku terdiam, pintunya tertutup, aku mengepalkan tanganku kemudian menarik nafas.

Aku yakin… ini akan menjadi hal yang seru.

“BRAK!”

Akhirnya pria itu muncul juga, I’ve killed him for three times in my mind. Ia sedang duduk di sebelah Jiyeon yang tangannya menggenggam Minho dan pundaknya bersandar di bahu Minho. Oh, shit! Although I’m not Krystal but I can feel the pain thoughfully.

Minho membelalak kaget, apalagi Jiyeon yang melongo bodoh.

Get your ass off  bed cuz’ we need to talk!”

Now or I will tell her everything!” seruku lagi sambil mengedikkan dahuku ke arah Jiyeon.

Minho menghela nafasnya keras kemudian bangkit.

Hospital’s Park.

23.07 KST.

This is disgusting, im sitting with this crap guy below park’s lamp. Minho meneguk pepsinya dan memandang ke depan dengan tatapan menyebalkan. Ia pasti sudah tahu maksudku mendatanginya.

Aku berdeham kemudian memulai membuka suara. “First, aku bukanlah tipikal pria yang akan memohon pada siapapun apalagi pada pria sepertimu. Dan untuk pertama kalinya, aku sungguh memohon padamu untuk kembali padanya. Aku tahu kau saat ini masih kecewa padanya, tapi bukankah kau mencintainya?”

“Aku tidak mau.”

Aku menunggu beberapa menit karena kukira dia akan melanjutkan kalimatnya, tapi ternyata dia tidak mengatakan apapun setelah itu. Brengsek.

Yeah, Choi Minho.. aku harap kau bisa lebih kreatif menjawab.”

Minho tertawa terpaksa kemudian bangkit berdiri. Ia masih memegang pepsinya sedangkan tangan yang satunya ia masukkan kedalam saku jeansnya.

“Kuberitahu kau satu hal L, aku-tidak-suka-pada-pembohong.” Dia berbalik kemudian menatapku sebal. “Krystal, kau tau kan bagaimana aku membantunya selama ini? Aku bersusah payah menyelamatkannya dan terus berada disisinya. Tapi apa? Dia berbohong padaku dengan alasan dia takut aku akan meninggalkannya. Ini egois.”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Dia hanya bersikap logis. Wajar kalau Krystal takut, jelas karena dia mencintaimu. Dia tidak mau kau meninggalkannya. Jangan bodoh Choi Minho!”

Mwoya? Omong kosong. Aku tidak bodoh, selama ini aku bodoh tapi kali ini aku sudah terbangun dan menyadarinya! Jaga mulutmu!”

Shit, dia memang brengsek ternyata. Bodoh juga. Astaga, bagaimana Tuhan bisa memberi takdir senaas ini pada Krystal bahwa Minho adalah pasangan hidupnya.

Fuck! Jangan berpikir pendek! Kau memang bodoh, itu terbukti dari bagaimana kau membiarkan gadis yang katanya kau cintai itu mati karena kau sendiri!”

“Apa? Karena aku? Hahaha hey, aku sudah tidak percaya lagi pada tanda tak terlihat atau apalah itu. Hanya bualan belaka. Semuanya hanya kebohongan. Krystal masih bisa hidup besok pagi. Jangan terlalu banyak berimajinasi!”

“BRENGSEK!”

Reflek aku berdiri dan menatapnya sangar, kedua tanganku sudah mengepal sempurna. Rasanya gatal sekali untuk segara meninju wajah pria bangsat ini.

“Kau yang membuka tanda Ibrani itu! Itu kau! Dan sekarang kau menganggap hal itu hanya bualan belaka? Jangan pura-pura amnesia! Hal ini nyata!”

Minho meremas kaleng pepsi nya sampai remuk kemudian membuangnya sembarangan. “Jangan berusaha meyakinkanku! Aku sudah muak, aku hanya ingin kembali pada Jiyeon sekarang ini. Aku merasa bodoh karena sudah membohonginya.”

“Jiyeon? Lalu kau kemanakan semua memorimu dengan Krystal? Kau mau membuangnya begitu saja?”

Fucking yes.” Jawabnya dengan nada dingin.

Oh… pria bangsat ini memang mau dihajar rupanya?

Well aku masih berusaha sangat keras untuk meng-handle emosiku. Kalau aku main fisik, pasti masalah ini tidak akan selesai. Ada kalanya masalah diselesaikan dengan rundingan, bukan perkelahian.

I know right you’re a man and me either. We mostly think with our mind and push aside our hearts. But let me correct one fact, man was born to protect woman. I put many efforts to save a girl that I loved, and I begging you because I know, you’re gonna protect your girl that you love, rite?

Minho terdiam, ekspresi wajahnya tampak melunak setelah mendengar pernyataanku barusan. Tapi ia memalingkan wajahnya kemudian melihat kearahku lagi.

She’ll be better. Eventho’ I don’t save her.

Aku menggeleng. “She’s not. She won’t.”

“Argh!!” Minho mengerang keras kemudian menatapku dengan tatapan marahnya lagi. “Just go away from here! Kau tidak mengubah apapun tentang keputusanku!”

“Aku katakan padamu pria breng—“

JUST GET OF FROM HERE!!

Shit! Pria ini benar-benar sedang diliputi emosi. Percuma bicara dengannya baik-baik, meninjunya pun sepertinya percuma. Dia memang keras kepala.

Aku menarik nafas kemudian mengeluarkannya perlahan, control emosimu Kim Myungsoo.. “Please…Choi Minho.”

Minho menggeleng dengan kurang ajarnya.

“Kau tidak tahu bagaimana menyedihkannya dia saat ini? Dia—“

We hurting each other more and more everyday~ I think its bout time that we go our separate ways
This love this love is hopeless
~This love this love is hopeless~”

Alunan Jay Park-Hopeless love itu berbunyi dari iPhone-ku, aku meraih ponselku dan hendak mengabaikannya—aku masih sibuk berargumen dengan Minho—tapi segera aku mengangkatnya begitu melihat caller id bertuliskan “Sulli”.

Lansung terdengar isakkan tangis disana, tidak heran kalau Krystal yang menangis tapi… suara ini… Sulli? “Yeah Sul?”

“Hiks… Myungsoo-ya…”

Sial apa yang terjadi kali ini? Sungguh perasaanku tidak enak. “What’s goin on?!

“Soojung…. hiks…”

Krystal? Benar memang firasatku. Apa yang terjadi dengannya? Sungguh aku tidak bisa membaca pikiran Sulli kali ini karena factor jarak. “Seriously, marhaebwa!”

Aku bisa mendengar Sulli berteriak disana, kemudian terisak lagi. “SULLI?”

Ne.. ne.. aku ingin memberitahumu.. hiks—Soojung parah sekali! Aku.. tidak tahu harus bagaimana…”

“Krystal? Parah? Maksudmu?”

Perhatian Minho teralihkan, dia kini fokus melihat kearahku dengan ekspresi penuh penasaran. Sudah kuduga, pria ini mau bagaimanapun pasti masih peduli pada Krystal.

“Dia jatuh terduduk saat ini—hiks, mulutnya terus mengeluarkan darah. Banyak sekali.. hiks, dia seperti sedang keracunan..”

Mwo?!”

“Kau cepat kembali, aku takut sekali..”

Ara.. ara. Sejak kapan dia mengeluarkan darah?!”

“sekitar lima belas menit yang lalu, hiks—“

“baiklah aku akan segera kesana! Jaga dia, oke?”

Begitu Sulli menutup teleponnya, nafasku langsung memburu. Degup jantungku berdetak sangat cepat dan kekhawatiran menguasaiku sepenuhnya. Aku melirik jamku, Demi Tuhan!

Pukul setengah dua belas malam. Pantas saja. Sisa waktu hidupnya hanya setengah jam lagi. Sungguh, ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau Krystal menjadi CL yang kedua.

Aku memasukkan iPhone 4S-ku itu kedalam saku dan memejamkan mataku, pikiranku kalut, ketakutan dan kekhawatiran menguasaiku saat ini.

“Katakan saja—suruh dia jangan mencintaiku, dia akan lebih baik kalau seperti itu.”

Aku melirik Minho sinis. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk bertemu pria brengsek sepertinya, bahkan disaat seperti ini dia malah menyuruh Krystal berhenti mencintainya. Dia pikir semudah itu?!

Fuck your words!” ucapku sebelum akhirnya berlalu meninggalkannya, percuma saja memohon padanya. Menjijikan. “Asal kau tau Choi Minho, dalam hal ini kau tidak hanya membunuh Krystal tapi juga… Hara. Jika Krystal meninggal maka dia juga akan meninggal. Kau juga membunuh Donghae secara hati kalau begitu, dan… aku. Krystal tentu saja tidak akan menyalahkanmu, Hara juga. Tapi Donghae.. dia bisa membunuhmu. Well, kau tidak usah khawatir. Aku rasa Donghae tidak akan melakukannya, dia tidak ingin dicap sebagai pembunuh untuk yang kedua kalinya.”

Aku menghela nafas kemudian melanjutkan. “Kembali saja pada masa lalumu kalau kau mau, lupakan saja pertemuanmu dengan makhluk-makhluk aneh sepertiku dan mantan kekasihmu. I won’t bother your life again then.

Aku tidak butuh responnya, aku hanya mengatakan apa yang aku ingin katakan. Dia masih terdiam, aku berjalan meninggalkannya.

***

“Asal kau tau Choi Minho, dalam hal ini kau tidak hanya membunuh Krystal tapi juga… Hara. Jika Krystal meninggal maka dia juga akan meninggal. Kau juga membunuh Donghae secara hati kalau begitu, dan… aku. Krystal tentu saja tidak akan menyalahkanmu, Hara juga. Tapi Donghae.. dia bisa membunuhmu. Well, kau tidak usah khawatir. Aku rasa Donghae tidak akan melakukannya, dia tidak ingin dicap sebagai pembunuh untuk yang kedua kalinya.”

 “Kembali saja pada masa lalumu kalau kau mau, lupakan saja pertemuanmu dengan makhluk-makhluk aneh sepertiku dan mantan kekasihmu. I won’t bother your life again then.”

Kata-kata Myungsoo tadi masih tengiang-ngiang jelas di telinga Minho, seumur hidup selama Minho mengenal Myungsoo ia tidak pernah mendengar Myungsoo merendah didepannya. “… lupakan saja pertemuanmu dengan makhluk aneh sepertiku dan mantan kekasihmu”jelas kalau Myungoo memang sedang merendah didepannya, apalagi ia juga membawa nama Krystal.Minho merasa…. kasihan.

Krystal. Krystal Jung..

Setumpuk memori tiba-tiba datang, Minho ingat ketika mereka pertama kali bertemu di Pasar Dongdaemun, saat itu Krystal menatapnya dalam-dalam dan Minho mengakui kalau ia sudah tertarik pada gadis itu.

Kemudian ketika mereka bertemu lagi di Apartemen Hara, saat Krystal memberitahu kalau Jiyeon dirawat di rumah sakit, kemudian mereka tidak menyadari kalau begitu banyak kesamaan terdapat pada mereka berdua.

Ia masih berjalan di koridor rumah sakit hendak kembali ke kamar inap Jiyeon, Minho mendongak dan menemukan seorang pria yang berdiri canggung di ambang pintu. Pria itu membawa sebuket bunga di balik punggungnya.

Siapa?

Minho diam di tempatnya, curiga dengan pria tersebut. Ia… sepertinya mengenalnya, tapi.. siapa?

Setelah menimbang-nimbang, pria itu masuk ke dalam dan membuat Jiyeon terkejut apalagi setelah sebuket bunga dengan label ‘Peach Florist’ itu ia berikan langsung pada Jiyeon. Minho mendekati pintu dan mengintip.

Minho mengenal pria itu, Yang Seung Ho. Seorang produser majalah Marie Claire Korea yang menjadi pesaing tetap dengan High-Cut. Sejak dulu Seung Ho mengincar Jiyeon tapi ia tak kunjung mendapatkannya bahkan ia sering mengajak Jiyeon dating walaupun jelas kalau status Jiyeon masih menjadi kekasih Minho.

Minho masih mengintip dari luar, ia melihat Seungho meletakkan bunga tersebut diatas meja kemudian mengelus rambut Jiyeon pelan.

Sekarang Minho mengerti, siapa yang memberi bunga dan menggantinya setiap hari ketika Jiyeon masih koma. Siapa yang menggenggam tangan Jiyeon beberapa hari lalu, yang rajin menjenguk gadis itu…

Yang Seung Ho.

Tidak. Minho tidak marah, ia hanya merasa kalau dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Seung Ho. Minho tidak melakukan hal itu pada Jiyeon dan.. lihat? Jiyeon tersenyum senang saat ini. Bahkan terlihat lebih senang daripada Minho yang datang menjenguk.

Minho terdiam. Ia baru menyadari bahwa ia memang bukan pria yang tepat untuk Park Jiyeon, keputusannya untuk kembali pada masa lalunya mungkin salah. Dan Minho… jelas tahu, seperti tanda yang sudah menyiratkan arti itu, bahwa.. dia ada untuk Krystal.

Bukan untuk Jiyeon. Bukan untuk gadis yang lain.

Jiyeon deserves someone like Seung Ho. Krystal deserves someone like… Minho.

Dengan takut ia melirik jam tangannya kemudian pergi melesat karena keputusan akhirnya.

For save his girl.

***

So I lay my head backdown, and I lift my hands and pray to be only yours, I pray to be only yours I know you’re my only hope..

I give you my destiny, I give you all of me, I want your symphony, singing in all there I am. At the top of my lungs.. I’m giving it back..

KRYSTAL JUNG

We were born to die.

Memang kenyataannya seperti itu, aku termasuk akan keputusan itu. Aku terlahir untuk meninggal, itu hukum mutlak dan bagaimanapun aku menentangnya hal itu tidak bisa berubah. Walaupun hari ini, aku juga tidak bisa menentang.

Mungkin kemarin aku masih tertawa bahagia bersama teman-temanku, masih mendapatkan kecupan manis dari Minho, masih menikmati hangatnya selimutku, nyamannya apartemenku, dan masih baik-baik saja. Tidak ada kekhawatiran.

Tapi hari ini, seolah diputar seratus delapan puluh derajat segalanya berubah. Dalam waktu satu hari, aku kehilangan segalanya, tawaku, apartemenku, Choi Minho-ku. Untung saja aku masih cukup waras untuk tidak berteriak-teriak karena terlalu frustasi.

Tadinya aku berpikir masih ada harapan, walaupun kurang dari sepuluh persen tapi aku masih mengharapkannya. Tapi… ayolah Krystal Jung, lihat sudah jam berapa? Hampir pukul 12 malam. Badanku rasanya tidak karuan, pusing, mual, sakit dan tersiksa di dalam.

Aku menangis. Tapi bukan karena aku meninggal hari ini, aku ikhlas karena ini sudah takdirku. Melainkan… Hara. Kenapa dia harus memilik takdir kematian yang sama denganku? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Donghae. Aku juga tidak bisa hadir disisinya untuk menenangkannya.

Aku.. sungguh tidak tahu apa-apa lagi.

Sulli yang tadi menangis keras mengkhawatirkanku kini terdiam, hanya terdengar isakkan lemahnya yang menyedihkan. Dia hanya duduk di belakangku dan sepertinya memperhatikanku yang berdiri diam.

Sedangkan Myungsoo sibuk sendiri, dia baru sampai sekitar lima belas menit yang lalu dan saat ini sibuk menelpon Donghae. Pria itu terus mengumpat karena teleponnya tidak kunjung diangkat, aku sudah katakan padanya untuk pasrah saja tapi dia tidak mau tau.

“Ready to meet me afterwards?”

Samar-samar aku bisa mendengar suara seorang gadis yang lebih terdengar seperti bisikkan. Seperti aku mengenal suara ini….

“We both are hopeless, just waiting for your death…”

Aku mendengarnya lagi.

“It’ll come soon, just five minutes left…”

Kemudian suara gadis itu menghela nafas. Ini suara… CL? Ya, ini suaranya. Tapi aku tidak melihatnya.

“But… I hear footsteps, I hear destiny…”

Aku masih terdiam mendengarkannya. Aku sama sekali tidak merinding, hanya penasaran apa yang ia akan katakan setelahnya.

“This is almost late but…. i hear destiny… come over you…”

“He’s the only hope… he’s the only exception… he’s coming…”

Aku mengernyit bingung. “The sign-maker?” tanyaku pelan.

Suara CL terdengar lagi. “No.. he isn’t myungsoo. He’s your man, someone that will save you..”

Apakah…

“He’s coming. He’s here. He just arrived. You gonna be okay my twin demon…”

Aku menahan napas.

“Look behind… your shine come towards you..”

Aku menurutinya. Aku menengok kebelakang secara ragu-ragu dan…

Aku bisa melihat Minho berdiri disana. Diambang pintu gereja, terengah-engah. Aku mencoba meyakinkan kalau ini bukan mimpi, bahkan aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk memastikan. Tapi aku yakin kali ini aku tidak berhalusinasi, Choi Minho disana.

“Minho?!” seru Sulli dan Myungsoo bersamaan membuatku yakin kalau memang ini nyata.

Dan aku tidak mendengar suara CL lagi, aku hanya tahu kalau Minho sedang berlari kearahku saat ini.

Thanks God.

***

Gangnam Hospital, Seoul South Korea.

12.20 KST

Pria itu menghela nafasnya keras-keras, menundukkan kepalanya denga kedua tangannya memegangi kepala. Pria dengan t-shirt hitam polos dan jam tangannya itu masih tetap pada posisinya sejak beberapa menit yang lalu. Sekali-kali ia menggelengkan kepalanya kemudian mengehela nafas.

Suasana disekitarnya sepi, sekitar dua puluh lima menit yang lalu dokter dan beberapa perawat meninggalkan ruang ICU. Meninggalkan Lee Donghae dengan perasaan terpukulnya.

Seumur hidup, Donghae pasti tidak akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia bisa membawa gadis yang dicintainya kejurang mematikan seperti saat ini, bukannya melindunginya. Seharusnya Donghae tidak pernah mencintainya, tidak pernah bertemu dengannya, seharusnya Hara masih baik-baik saja dan masih membuka matanya.

Di sebelahnya duduk seorang gadis yang matanya sudah membengkak karena tangisnya tidak kunjung berhenti. Gadis itu terus memohon pada Donghae, minta maaf dan segala bentuk kata maaf sudah ia ucapkan tidak peduli seberapa banyak sumpah serapah yang Donghae serukan padanya.

“Kau bisa bunuh aku kalau mau… kau boleh membunuhku. Bunuh saja aku Lee Donghae!”

Gadis itu berseru lagi. Donghae tidak menghiraukannya, pikirannya masih kalut. Donghae tidak mau menjadi pembunuh.. apalagi membunuh sahabatnya sendiri walaupun jelas gadis itu penyebab ia duduk gelisah didepan ruang ICU.

“Krystal?” seru gadis itu, Kang Soyu,  tidak percaya.

Donghae langsung kembali dari pikiran-pikiran sudah membawanya entah kemana. Ia menengok ke sebelah kiri kemudian membelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Krystal berlari-lari sedangkan di belakangnya Minho, Myungsoo dan Sulli mengikuti.

“Donghae oppa!!!” serunya. Krystal hampir saja memeluk Donghae yang kini sudah bangkit dari posisinya tapi ia tidak jadi begitu melihat Soyu. Krystal menyingkirkan bahu Donghae dan..

PLAK!

Sebuah tamparan telak mengenai wajah Soyu. “YOU DAUGHTER OF A BITCH!!” teriaknya dan menampar Soyu lagi, tidak memperdulikan darah yang mengucur dari hidung dan bibir Soyu. Tapi toh Soyu diam saja, ia merasa pantas diperlakukan seperti ini. Kalau bisa ia mengharapkan lebih.

“Krystal Jung cukup!” Minho menarik tangan Krystal yang masih memukul-mukul wajah Soyu tanpa ampun. Gadis itu hilang arah, dia sudah lepas kontrol. Krystal tetap memberontak walaupun tangan Minho sudah menahannya tubuhnya dengan kuat.

Minho menarik tubuh Krystal yang masih terus memberontak. “Tenang Krystal Jung!” ia memeluk tubuh Krystal dari belakang, mengunci gerakan Krystal. “Everything’s gonna be alright…” bisik Minho pelan.

Tubuh Soyu jatuh terduduk, ia hanya menunduk dan membiarkan darah dari hidungnya terus menetes. Ia terlalu malu untuk mendongakkan wajahnya saat ini. Myungsoo yang sedari tadi diam itu berjalan menghampiri Soyu kemudian berjongkok dihadapannya. Ia menyeka rambut pirang Soyu yang menutupi wajahnya kemudian mengelap darahnya dengan jari-jari Myungsoo.

Myungsoo menatapnya penuh rasa kasihan, bagaimanapun gadis ini sahabatnya. Myungsoo sudah mengenalnya lama, selama ini mereka selalu menjadi partner yang baik.

“aku… sungguh menyesal..” bisik Soyu dengan parau. Myungsoo menepuk pelan punggung Soyu. “Aku tau.. aku tau kau pasti menyesal. Aku bisa memahami itu.” Soyu mengangguk kemudian menangis.

“Donghae op-oppa…” Sulli menatap gelisah Donghae yang berdiri diam dengan ekspresi hampa.

“Bagaimana keadaan Hara?” Tanya Krystal.

Donghae masih saja diam. Sedetik kemudian ia membanting handphone yang ada digenggamannya dengan keras, membawa Optimus itu hancur menghantam dinding kemudian Donghae berlalu begitu saja.

HYUNG!” seru Minho tapi Donghae tetap berjalan menjauh.

Semuanya terdiam bingung sampai suara Soyu menginterupsi. “Hara meninggal….”

Mwo?!” seru Myungsoo. Krystal dan Sulli membelalak tidak percaya. Minho terdiam kemudian menengok ke belakang, masih mencoba mencari sosok Donghae. Krystal melepas pelukan Minho kemudian berjalan cepat memasuki ruang ICU disusul oleh Sulli di belakangnya.

“Myungsoo-ya, tolong jaga Krystal sebentar. Aku akan menyusul Donghae Hyung..” ucap Minho sebelum berbalik dan berlari menyusul Donghae.

“Kau masuk saja ke dalam, aku tidak apa..” suruh Soyu. Myungsoo mengangguk kecil kemudian bangkit dan memasuki ruang ICU.

Di dalam ruangan ICU terasa sunyi, hanya terdengar suara elektrokardiograf yang melengking. Krystal berjalan lunglai menghampiri Hara yang tertidur tenang diatas ranjang rumah sakitnya, gadis itu terlihat pucat. Bau obat-obaan terasa tajam dihidungnya, Krystal tau, Hara pasti sangat membenci situasi ini. Krystal menatap Hara tidak percaya, ia menyentuh telapak tangan Hara kemudian menggenggemnya erat.

“kau masih hidup… kau.. kau harus hidup…” ucapnya pelan. Ia melirik sebuah alat yang berada persis di sebelah hara, elektrokardiograf yang menunjukkan garis lurus panjang. Reflek Krystal meneteskan air matanya kemudian terisak keras.

Aniya! Aniya… Cho Hara…”

Sebelah tangan Krystal yang bebas menutupi mulutnya, masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Ia terduduk kemudian mengusap-usap tangan Hara. “Kau bisa dengar suaraku? Aku hidup! Minho menyelamatkanku, kau seharusnya juga hidup!”

“Kau dengar aku Hara? Aku hidup dan sesuai dengan hukum Ibrani itu, kau seharusnya hidup. Bertahanlah.. aku mohon, Donghae setengah mati mencintaimu… tidak, dia sampai mati mencintaimu. Kau tidak suka kan kalau Donghae sedih? Aku sedih.. Aku mohon. Aku percaya pada keajaiban, tolong bangun dan buka matamu. Soyu sudah menyesali perbuatannya, kau harus lihat Hara.. kau bisa mendapatkan Donghae, kau bisa menikah dengannya. Dia mencintaimu.”

“aku melalui banyak hal hari ini, alu berjuang mati-matian untuk hidupku dan hidupmu…” Krystal menghela nafasnya keras tapi Hara tetap pada posisinya, ia tetap pada tidur panjangnya. Krystal tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia menenggelamkan wajahnya disamping tangan Hara membuat sprei ranjang tersebut basah karena air mata.

Tepat saat itu juga Minho masuk ke dalam dengan membawa Donghae. “Dia tidak jauh lebih terpukul darimu, Hyung…” ucap Minho menatap Krystal yang tersedu-sedu. Minho tersenyum miris sambil menepuk-nepuk bahu Donghae.

Donghae berjalan menghampiri Krystal kemudian mengusap-usap punggung gadis itu.

Tatapan Donghae terpaku pada wajah Hara, wajah putih porselen gadis yang selalu mengisi pikirannya, yang setengah mati ia cintai diam-diam itu. Donghae bergerak ke sebelah Krystal kemudian menyentuh wajah Hara hati-hati. Ia mengusap pipi hara lembut dan menunduk, member kecupan di dahi Hara.

Donghae melepaskan kecupannya ketika melihat setetes air mata turun dari mata kanan hara yang tertutup. Ia terperangah kaget, tangan Donghae bergerak menyentuh pipi hara lagi dan ia bisa merasakan pipi gadis itu basah. Ya, air mata tadi bukanlah halusinasi.

Refleks wajah Donghae menoleh ke arah elektrokardiograf yang menciptakan bunyi yang berbeda secara tiba-tiba. Benar – benar mustahil, tapi nyata bahwa.. garis lurus panjang itu lambat laun menekuk dan membentuk lekukan tidak beraturan.

“Hara…”

Krystal perlahan mendongak ketika telapak tangan Hara tiba-tiba bergerak ragu-ragu.

“Hara hidup!” serunya dengan suara serak. Tentu saja Myungsoo, Sulli, Minho dan Soyu langsung menghambur mengelilingi Hara.

Tepat saat Donghae menggenggam tangan gadis itu…

Hara membuka matanya.

***

6 MONTHS LATER…

Gadis itu berdiri kaku ditempatnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia masih mengenakan kemeja kebesarannya, tanpa celana. Rambut panjang kecokelatannya masih tergerai berantakan. Ia menunda acara mandinya kemudian buru-buru melihat kalender yang terpasang didinding.

Ia menelusuri tanggalan tersebut dengan jari-jari lentiknya dan berhenti disatu titik.

“Dua bulan…” serunya pelan sekaligus kaget.

“DONGHAE OPPA! HARA!”

Seorang gadis dengan perawakan kurus masuk begitu saja tanpa mengucapkan permisi, ia berjalan dengan riang ke ruang utama dimana ia melihat Lee Donghae sedang duduk tenang dengan adult magazine ditangannya.

Oppa aku membawa sebuah undangan!” seru gadis itu, Krystal Jung, tapi Donghae tidak bereaksi apapun. Masih sibuk dengan majalah favoritnya. Mau tidak mau Minho yang mengikuti Krystal di belakang terkekeh melihatnya.

“Dasar pria! Dimana Hara?” tanya Krystal jengah.

“Kamar mandi.” Jawab Donghae singkat.

Krystal hanya mengangguk kemudian berjalan menuju pintu kamar mandi hendak mengetuknya dan tepat saat itu juga pintu berderit terbuka, Hara menabrak tubuh Krystal secara tidak sengaja kemudian tersentak kaget. Ia terkesiap lalu menarik kedua tangannya kebelakang tubuhnya. “h-hei…” sapa Hara canggung.

Krystal mengerutkan alisnya mentap Hara sangsi. Kenapa Hara terlihat begitu gugup? Dan..apa yang Hara sembunyikan dibalik punggungnya?

Krystal masih menatap hara yang tersenyum canggung kemudian tangannya bergerak menarik tangan hara. Refleks Hara mengelak, tetapi ia kurang gesit sehingga Krystal berhasil menarik kedua tangan Hara kedepan.

Ia segera merebut paksa sebuah benda kecil panjang yang Hara sembunyikan itu.

“testpack?”

Hara meringis kemudian menunduk, tidak mau menatap ekspresi Krystal yang akan shock sebentar lagi..

“k..kau hamil?!!!”

Hara hanya terdiam sedangkan Krystal menatapnya penuh tuntutan. Ia mengerang kemudian berbalik menghampiri Donghae yang—masih saja—membaca majalah dewasa. Minho berdiri tidak jauh dari sana, sibuk dengan ponselnya.

“LEE DONGHAE!” teriak Krystal dengan ekstrim. Minho hampir saja menjatuhkan ponsel saking kagetnya, ia mendongak dan melihat Krystal yang kini memukuli Donghae dengan undangan ditangannya.

Donghae shock. Tentu saja. Tiba-tiba Krystal menghampirinya dan memukulinya tanpa ampun. Ia hanya mengangkat tangannya dan berusaha menghindar tapi gadis itu tetap memukulinya tanpa ampun.

“YAH!! JUNG!!”

Krystal kini naik keatas sofa, kedua tangannya sibuk memukuli wajah Donghae dengan undangan ditangannya. “kalian kan belum menikah! Kenapa kau sudah membuatnya hamil hah!!”seru Krystal gusar.

“mwo? Hara hamil? Daebak!” Donghae malah kegirangan, senyum lebar tampak diwajahnya. “kau suka membuat kekasihmu hamil diluar nikah hah?! Dasar tukang perkosa!” donghae berusaha menahan kedua tangan Krystal tetapi ia tidak bisa, gadis itu terlalu hyper sekarang.

“aku tidak memper—“

“BUGH!!”

“AWW! –kosannya, dia mau melakukannya denganku!”

“aku tidak peduli! Kau telah menodainya!” seru Krystal.

“Yah! Aku akan menikahinnya, tenang saja! Hari ini kalau perlu!”

Krystal terdiam, ia menghentikan aksi-memukuli-Donghae-dengan-undangan. Nafasnya terengah-engah bahkan sampai ia berkeringat. Ia terduduk disebelah Donghae, nafasnya masih ternengah-engah.

Minho bergerak mendekati Donghae kemudian berbisik ditelinganya. “kau harus emenceritakannya padaku hyung…” bisiknya kemudian menyeringai. Donghae balik menyeringai dengan misterius.

“she’s damn good on bed..”

Mendengar pernyataan itu, Minho tertawa keras dan menepuk-nepuk bahu Donghae. Dasar pria!

Krystal menoleh kearah mereka berdua dengan sinis. “you two!!” serunya dan hendak memukul Donghae lagi dengan undangan yang masih dipegangnya tetapi tangan Donghae menepisnya sehingga undangan tersebut jatuh bebas ke lantai.

Undangan dengan warna keemasan itu kini tampak berantakan, tapi masih tertera jelas tulisannya disana..

“Kim Myungsoo to marry Choi Sulli. at Wednesday, January 2nd.”

 

END

well-done!! maaf buat keterlambatan postingan ini karena saya males wkwkwk danjuga lagi kena writers block so i hardly search a right time for making this one. kalo belum sempurna maaf kan saya, im just amateur writer 😀 makasih buat semua yang udah nungguin ff ini dan ngikutin dengan setia :’) love u all! dan buat silent readers, hargailah usaha saya ;~~; 

ok byeeee!

Advertisements

85 thoughts on “[13th] Telepathy: End of the War (Session 2)”

  1. Daebak…baca ini tuh felling bercampur aduk…
    Awal”ny tegang mpe keringat dingin, truss tengah”nya mpe mendekati scene akhir tuh sedih miris dan taraaaaaa adegan scene terakhir menjadi kesukaanku berubahnya menjadi membahagiakan, mengharukan juga+konyol jg ada…

    Ngakak pas donghae bisik” ‘she’s damn good on bed’ ma minho tuh bkin aku ketawa geli. Benar katamu..Dasar pria!
    Seneng bgt smua tokoh disini dpt couple masing” dan mnjalankan hidup bahagia masing”…

    Ayo perbanyak cerita hara-hae…ohya aku sangat menunggu kelanjutan a sweet affair..

    1. ….mppfftt aku juga pas nulis scene terakhir ngakak sendiri xD biarin donghae menjadi yadong (?)
      a sweet affair? okeee kapan-kapan yaaa /digeplak
      makasih udah komen^^

  2. akhirnya part terakhirnya keluar juga hehe
    perasaan campur aduk banget baca part terakhir ini thor
    apalagi pas minho marah sama krystal rasanya kesel sendiri hehe

    sumpah part terakhirnya bikin ngakak
    awalnya aku kira krystal yang bakal nikah eh taunya myungsoo
    sumpah donghae kenapa jadi yadong? minho pake ketawa-tawa pula hehe

    thor katanya cerita ini mau dibikin novel? aku tunggu ya thor hehe><

    1. ..aku sih berharapnya ada yg nangis baca ff ini tapi kayaknya gada (._.) ahaha pada kesel sama minho hayooo
      …biarin donghae jd yadong, kan dia udah dewasa (??)

      in progress ya doain aja selesai bukunya ^^
      makasih~

  3. aduh ifaaaaa akhirnya ni ff dilanjut juga
    nunggunya setaun ya -,-
    ah gila…..kirain si krystal-hara tu bakal dibikin mati untungnya minho sadar kl dia cinta klee trs hara sadar gara2 dicium donghae
    eh tp itu hara masuk rmh sakit gara2 apa?
    ditelepati soyu? kok ga diceritain sih trs yg minhk nyelamatin klee juga ga dicertain
    ya ampun hbs sadar trs 6bulan kemudiam si hara udab hamil aja 2 bulan wkwk
    sequel dong tp ttg haera aja ttg hidup mrka stlh hara hamil tl kl bisa cerita pas prosesnya(?) deh kan bingung itu si hara kok mau aja diajak bikin baby sama donghae hahaha
    btw itu telepati klee-hae gmn?
    ttp ada atau hilang??

    1. …iya eon, anggap aja ini hadiah taun baru (?)
      ahaha berasa snow white gitu ya bangunnya dicium -_- hara kan waktu itu ditelepati soyu, yg di session 1 itu trus dia koma.
      yg minho nyelamatin minho gaditulis soalnya… nggambarin adegannya susah lagian ini udah panjag bangat _-_
      ahahaha ngakak masa, prosesnya gabakal aku tulis lah eon, belum cukup umur wkwwk

      telepati kystal dama hae ilang 🙂
      makasiiih

  4. mncul juga lanjutannya…kirain gada..hehee

    ending yg bkin puas 😉
    serem jg ngbayangin klee dkejar2 maut kek final destination..bkn degdegan
    mn waktu udah mepet, msi sempet minho ngambek..bkn gregetan ><
    ending bkn ngakak sumpah..dasar cwo y!! hahaaa
    n ga ngira myungsoo sulli yg nikah dluan

    1. …saking lamanya ya sampe dikira ga ada xD
      wkwkwk endingnya kontrovensional ya (?) well cowo loves that kind of thing so..just let it be ahaha
      makasih udah komen yaa ^^

  5. akhirnya… setelah menunggu berabad-abad(?) ff ni publish juga,,
    g’ tw mau komen apa, yang jelas waktu baca aku gregetan banget, apalagi bagian Minho yang g’ mau nyelamatin Krystal..
    dan, ya ampun habis 6 bulan selamat dari kematian, hara dh hamil aja…
    pokoknya daebak deh,, g’ sia-sia nunggu sekian lama
    sequelnya dong…

  6. huah..
    Hadiah tahun baru.. Ayy.. Gomawoyo, Ifa-yah..
    Happy ending.. Semua mendapat pasangannya masing..
    Aku seneng sama karakter akhir krys yg ceria..
    Donghae..? Adult magazine? Minho minta cerita? Ah, dasar pria!! Hahaha..
    Keep writing!!

    1. sama-sama 🙂 justru aku mau minta maaf karena ff ini keluarnya telat banget T^T
      lmao yes they are indeed a guy so… *isi sendiri* wkwk
      makasih yaa

  7. yeah.. Ada lanjutan ff telephaty .. Duh bacanya deg deg an gitu, perasaan campur aduk.. Pas hara di bilang meninggal sy nangis masa-_- eh pas terakhir malah hamil dianya.. Hahaha keren lah kalo ka ifa yg nulis..

  8. Kereeeeennn!!!!
    Suka bgt ❤ tp msih pnasaran gmna minho nylmtin klee
    Bkin squelny y thor trutma minstal cple..
    D tnggu yaaa 😀

  9. akhirnya second session rilis juga yeay! sory baru sempet komen yah fa *aku panggil ifa gapapa kan?*
    sebenernya udah tau dr kemaren, cm baru sempet baca ._.v
    pas baca lumayan bikin deg2an, as usual pokoknya kereeen! ditunggu ff yg lainnya deh 😀

  10. hahhaha, ifaaaaaa mian eon baru comment ….
    hayolooohhh … ditodong sequel kan, wkwkwkwk … yayayayayyaaa … semangaaaattt !!!! smoga dapet hidayahhh biar bsa bikin sequel per-couplenya …. wkwkkwkwwk …. daebakkkk !!!!!!!!!

      1. Gpp nulis yang enggak-enggak, drpd enggak nulis. hahaha. tp kayakya yg enggak-enggak itu bagus jugda deh di bikin FF. hahahhaa.

  11. akhirnya kelar jg… Huft

    Tegangnya dpt… Dan kasian bgt ya si kristal dpt musibah berturut-turut…
    Mana sempet sebel sm kekeraskepalaan nya minho… Tp untung sadar di waktu yang tepat… Jd kristal terselamatkan…
    Good job bgt dah myungsoo…

    Dan tegang dah gara2 hara kirain bkalan beneran mati tw nya gk jd… Hahaha

    Dan demen endingnya ngakak lah… Pantes hara hamil bacaannya majalah dewasa bgtu wkwkwkwk

  12. .wow ..
    .END membahagiakan ..
    .smua pihak bahagia ..
    .Soyu g mna ???
    .ciiie .. Dsar Mesum !!
    .bLum nikah udch hamiL duLu’an ..
    .Minho sempat” x nax bgitu .. Donghae jga .. Jwaban bkin merinding .. Gkgk~
    .untung Hara egk denger .. Kkk~
    .pkok x keren , suka n Bahagia ..
    .annyeong !!

  13. AKHIRNYA INI MUNCUL JUGAA… OH, NUNGGU SATU TAHUN TERNYATA GA MENGECEWAKAN T.T DUH, INI BAGUS BANGET SUMPAH >___o She damn good on bad ._. errr… yadong -_-
    dan.. KAK, SUKSES DEH BUAT INI FF.. BAGUS BGT 😀

      1. hyaa.. itu komenku kepotong T.T #jambakrambutDonghae..
        haha XD benerrr ._. hiyaaah -_- kakak jga kena sindrom caps jebol ._. hwahaha XD aku seneng ini cerita updet :d duh, berasa kya hbs makan duren tau cerita ini apdet :3 #kicked

  14. Huaaa, terlambatkah saya? Annyeong oen, akhirnya keluar juga kelanjutannya. DAEBAK! Buat apa? Ceritanya sama Donghae oppa yang udah berhasil buat Hara hamil diluar nikah, deabak daebak #Plakkk… Ceritanya totally banget, ga tau harus bilang apa, ini keren oen. Sequel kayanya diperluin deh *hiw

  15. kyaaa akhirnya keluar juga..
    daebak daebak ceritanya..

    hadoooh yg digereja nyesek untung aja minho cepet dateng.
    terus yg waktu dirumahsakit waktu hara mati huaaaa ikutan nyesek bareng hae;_;
    terus yg terakhir dooh ngakak liat kelakuannya hae

    overall puas banget sama endingnya. brasa banget feelnya. campur aduk ada tegangnya, nyeseknya, konyolnya. daebak pkknya.

    ditunggu karya barunya ^^

  16. demi apa ya ampun gw nungguin ff ini ampe kalo ada waktu suka cek ada season 2 nya apa engga ><

    pertamanya shock bgt waktu krys ngeliat cewek pake tanktop lah jaket kulit selutut lah…kirain gw si soyu..eh taunya CL haahh leganya..untung L cpt2 nyatuin darah krys

    nih ya adegan minho waktu ninggalin krystal itu feelnya kerasa bgt ampe lemes bacanya…seolah-olah pembaca bisa ngerasain perasaannya krys waktu itu..dan bodohnya itu knp minho mikir sependek itu -_- tapi….kalo ga gitu, ntar ff nya gak bakal seDAEBAK ini B)

    dan Donghae-Hara *cough hmm..walaupun jatahnya disini emang khusus buat minstal tapi adegan yg terakhir itu udah bisa menggambarkan semuanya .-. kebayang waktu hara sadar di RS langsung di culik si hara trus di "gituin" #eh? duh ya eon, saking nasib krys-hara itu sama..ampe sama sama sempet mati suri xD

    dan jiyeon…yaudah sanah tuh sama direktur seung ha aja dah noh..

    oh ya thor, ff eon aku share ke tmen2 aku boleh? gomawo^^

    1. ehehehe maaf ya bikin lama nunggu /peace out/
      ya emang niat aku nge bodoh-bodohin minho disini biar jadi seru /digeplak/ ga sih, sbnrnya cuman mau menonjolkan perannya myungsoo yg berjiwa pahlawan abis tapi kayaknya gapada heboh soal itu *malah curhat*
      wey wey jangan dibayaingin dong adegan hara digituin, ntar aku ikutan dosa /dzikir/ XD

      Share ajaa~ boleh banget kok ^^ makasih yaa! /kasih es krim/

  17. Waaa!!! Baru tau kalo FF ini udah di post… Telat banget pdahal dulu udah sempet nanyain di twitter ke kamu.
    Hm… Mau ngomong apa deh ya? Bacanya udah tadi malem sih… Bentar ta scroll dulu ke atas…
    Ah ya! Sebenernya ini FF bs jd tragis bgt kalo smpe Hara-nya bener2 meninggal. Tp ga rela jg sih. Hahaha.
    Btw, si seungho ini populer jg ya trnyata, blakangan baca ff kolaborasi gt jg ada si seungho. Ntar googling aja lah…
    Ada rncana bikin sekuel ga? Atau apa lah. Aku penasaran gmana akhirnya hub donghae sm hara stelah itu. Mksdku ya stelah perubahan status itu apa mreka masih suka berantem kecil2an ato gmana? Sikap masing2nya itu yg bikin penasaran. Hohoho…
    Anw, great ff! Dtunggu karya2 selanjutnya~~ ^^

    1. Nah. aku buka rahasia nih yaa, jadi sebenernya ff ini sempet mau jadi sad ending ( sulli mati, krystal mati, hara mati) tapi itu adalah suatu keputusan yang kurang tepat menurutku, karena nanti bakal ada 3 pria menjomblo galau seumur hidup #abaikan
      hmm buat sekuel. aku ga yakin bisa bikin, kan ini udah lama banget ya ff nya (authornya ngilang entah kemana) wkwk tapi kok tiba2 pengin bikin Telepathy 2 ya? ihihihi.
      sip~ makasih dan maaf buat telat reply nya T___T

  18. akhirnya keluar juga… fheeeeww… !!!

    akhir yang menarik banget eon, aku gak nyangka Hara bisa hamil duluan padahal belum nikah… ckckck
    emm, Donghae kenapa yang tadinya cool trus malah jadi yadong begitu sih … hahaha ngakak eon bacanya. tapi sempet deg-degan juga sih takut kalo krystalnya gak selamat…

    menunggu cerita selanjutnya eon… waiting

  19. HOYY GUE TAU INI BASI DAN SUPER TELAT. Tapiiiiiii gue sengaja nahan-nahan diri buat nggak buka-buka blog lo cuman buat berharap ntar pas gue buka tadaaaaa! Ending telepathy udah di possstt! Dan itu semua berhasiill tap sygnya gue jadi super telat parahrahrahraaaahhh!!!!!!!! Aaaargh sekalinya nahan-nahan supaya nggak ngecek blog lo tiap hari malah kelewatan hampir sebulan duhhh maaf kak ifffoooyyyyyyyy{}{} beteweee suka bangeeeet awawawawwww. Sempet mikir gmn kalo jdnya minho gabalik lagi karena terhasut oleh kecantikan jiyeon lalu krystal mati mengenaskan dan donghae bunuh diri kelaut setelah ditinggal hara tapi akhirnya gue cinta banget sama endingnya. Kenapa nggak sekalian dikasihtau gmn cara Haranya bisa hamil gituu. Trs abis itu minho ngikutin jejak donghae untuk menghamili klee HUEHEHEHEHEHE. Ditunggu after story sesuai yg gue inginkan tadi itu! /pervert tingkat neptunus/ aaaah pokoknya itu totally awesome deh nih ah ailopyupull kak:*:*:

    1. ……halo gue juga tau reply ini super basi dan telat!!! plis jangan putusin gue dist! /?
      well, gue mau sholat maghrib dulu jadi gabisa reply panjang2 gimana kalo gue jawab “I Love you so much and im missing you like there’s no other time.” OKESIP!
      tunggu gue di twitter nanti~ muaaaah ❤

  20. Woaaaaah… Daebak daebak..
    Tapi kenapa ga di ceritain gimana minho nyelamatin krystalnya. kann itu yg ditunggu2 banget thor..
    Trs juga endingnya gantung bgt, cuma myungsoosulli doang yg mau nikah. Minho krystal udah nikah atau belom ga ketauan-_-
    but overall it is nice fanfic..
    Thanks to author ifa. Kalo beneran dibukuin aku mau pesen bukunyaaa

  21. daebak,,serasa bca novel,,
    hehe sory bru ngmen skrng,pdahal bca.a kmrin kmrin.a lg.hhe..
    ayo buat lg crita.a minstal seru nih
    adain dong sequel.a..di tnggu

  22. Horeee akhirnya happy ending. Ku kira krys eonn bakalan meninggal. Yah ku kira undangan yang tadi itu undangan pernikahan nya minstal ternyata sull eonnie. Daebakk aku suka ceritanya dan feel nya kerasa banget

  23. setelah menghabiskan waktu cukup lama, akhirnya ff ini selesai juga aku baca -_-
    jujur penasaran sama ending keseluruhannya karena ngegantung *nangis kejer*
    donghae-hara emang nikah *itu yg di second telepathy disebutin* tapi minho sama krystal gmn???
    btw tentang myungsoo sulli, itu mereka kenapa langsung nikah ya? gaada cerita wktu mereka lagi pendekatan atau apa gitu? -_- *ngarep*
    oh iya, ini ff gaada squelnya kah?

    1. Aaaaa thanks udah dikomenin semuanya! tadi passwordnya udah aku kirim ke email tapi malah dapet dari bocoran ya :p gapapa kok haha.
      minstal pernikahaannya ada di book version, makannya ayo beli. /malah promosi/
      ntar kalo pas 6 bulan diceritain ff ini bakal sepanjang apa :/
      ga ada sekuelnya unnie XD eh… aku manggilnya apa nih?

  24. HARAAA !!! HAMILL !!!
    ikan mokpo brengsek !! aigooo. beneran dehh si Donghae mnta dicekik fa, yaahhh myungsoo kok nikah sma sulli sihh fa??
    seharusnya kan sma aku gitu *ngarep*
    hahahaha, ending yg tak terduga dengan kehamilan hara.
    tpi ttep ikan mokpo *gulung kemeja* dia kurang ajar. kesel sendiri aku. haha

    1. yup, Hara hamil 😀 sial kan donghae, main hamilin anak orang aja.
      Myungsul harus bersatu dong biar semuanya dapet pasangan dan happily ever after XD
      Thanks ya udah dikomenin semua :-*

  25. Hai chingu, mian ya komen disini doang, eh sm part 6 juga sih. ngebut bacanya.
    Sumpah ff km keren chingu, aq gak kepikiran loh kalo ff fantasy gini, pasti imajinasi km gede bgt.
    minstal momennya kurang bnyak ching, walopun udah bahagia semua tpi aq rasa masih kurang bnyak yg belum diceritain, tapi aq udah baca telepathyzone sih, udah kejawab semua, tpi kurang greget aja kalo nggak diceritain.
    Oh iya, disecond telepathy kan myungsoo jadi kakaknya sunmi, apa myungsoo disana sm kyk myungsoo disini?? berarti ff ini berhubungan sama the second telepathy?? soalnya kalo g salah, sehun juga kenal kan sama donghae, walopun lupa detail kenalnya gmn, kyknya harus baca ulang the second telepathy-_-
    Overall ff km keren chingu.
    mian ya komennya panjang…
    keep writing ching ^_^

  26. akhirnya selesai baca ff ini.. skip chap 7&8, tpi gpp.. wkwk.. keren bgt ffnya, bnr2 kya baca novel, serasa pengen beli bukunya deh TT

  27. Daebak!
    Daebak!
    Daebak!
    Keren banget. Akhirnya happy ending. Seneng banget. Myungsoo yg diluan nikah ya. Terus abis itu donghae sama hara yg nikah, kan haranya juga sudah hamil diluan.
    Seneng banget liat yg bagian terakhirnya. Cuma kurang satu nih, soyu gimana terakhirnya.
    Pokoknya ffnya daebak thor.

  28. Apa bgtlah bca endingnya sampe merinding gni ,the best !! Salut buat ifa ,aku ksih smua jempol yg ada ditubuh aku deh wkwkwkwkw

  29. what a hillarious fanfic!!! So damn, this is really amazing. Ga tw mw ngomong apa lg. Bener2 keren. Btw mw minta aaf jg gara2 ga tahan menuju akhir jd chapt 12 dan chapt 13 part 1 ga aku komen.

  30. Waaah happy ending juga akhirnyaaa haha seneng deh!
    Dasar donghae kerjaannya bikin anak orang hamil pdhl blm nikah ckckck:’)
    Keren thor keren bgt ff nyaa..
    Semoga the second of telephaty nya jg bisa complete kayak ini ya thor huhu aku sgt berharap nih ceritanya.. Kangen momen sehun-sumin:( Semangat author😄😄😄

  31. Mian. Aku komen baru di chap last ini. But its more and more unpredictable. Ini baru aku baca sampai aku tidak berhenti baca hingga pagi buta alhasil bangun siang. Demi apapun aku sangat suka. Bahkan bingung menjelaskannya bagaimana. Ahhhh aku sangat menyukainya, walau cho hara selalu ku bayangkan Im Yoona. Nan joha

  32. Uh, aku nangis loh:D Gak tau harus komen apa lagi, yang pasti aku bener-bener suka sama ceritanya, sama alurnya, sama tokohnya pokoknya semuanya dehh.. I love Happy ending 😀
    Oya, maaf Eon kalo aku gak komen di setiap part kadang karna keasikan baca jadi sampe lupa ^^ jangan bosen2 baca komen aku ya 😀 daahh

  33. *exhaling*
    Chapter terakhir ini yg paling panjang bukan sih? Kayaknya iya ya, aku baca sampai sejam gitu 😀
    Sempat was-was, dugun dugun, doki doki sama ending-nya.
    Saat Krystal masih ada konflik dengan Minho yg meragukan perasaanya itu~
    Tp syukurnya ada si.. mm Seungho Seungho itu.
    Sungguh. Baca ff ini menguras hati dan perasaan sekali ><
    Aku prefer ff dgn genre selain fantasi atau misteri seringnya, tp ff fantasi kamu aku favoritin bgt! Kan pertama bacanya yg The Second of Telepathy, baru ff yg ini..
    Wah, jd kangen sama Baek Sumin dan Sehun, mereka apa kabar ya? hehe..
    Tulisan kamu awalnya memang amatir, tp lama" jd pro kok. Di Desirable tulisanmu udah apik menurutku ^^
    Good job! (Y)
    Ditunggu updatr fics kamu yaa, tenang, aku nunggu dgn sabar kok (:

    Keep fighting, Ifa!

Leave a Reply :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s